Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 79 - [ POV Author] Kecup Manis


__ADS_3

Arsha mengangkat tangannya yang bebas dan membalas pelukan itu. Dia tak mampu mendeskripsikan perasaannya sehingga yang bisa dilakukan hanya memeluk tubuh Armand dengan erat. Dia menenggelamkan wajahnya di dada Armand. Perasaannya campur aduk. Mungkin hanya dua kata yang mampu menggambarkan perasaannya secara garis besar. Lega dan bahagia. Lega karena meskipun dalam kondisi terluka, namun Armand telah kembali padanya. Bahagia karena semua hal yang terjadi pada mereka hanya kesalahpahaman belaka.


Kelegaan dan kebahagiaan itu diinterpretasikan Arsha dengan cara berbeda. Bukan dengan tertawa riang, namun sebaliknya. Pada awalnya hanya terdengar isakan kecil, namun lambat laun isakan itu berubah menjadi tangisan keras, hingga terdengar seperti tangisan anak kecil yang mainannya direbut oleh temannya yang lain.


"Aaaaaa.... Aaaaaaaaa.... "


Armand yang melihat Arsha menangis menjadi kebingungan. Dia meregangkan pelukan sepanjang lengan dan menatap Arsha dengan khawatir.


"Ssshhhh, sssshhhh, Arsha? Kenapa nangis? Ada yang sakit? Apanya yang sakit? Ada yang luka? Mana yang luka?" Suara itu semakin dipenuhi dengan kecemasan. Mata Armand menelusuri tubuh Arsha, mencari-cari bagian tubuh wanita itu yang terluka. Mendapat perlakuan seperti itu bukannya membuat tangis Arsha mereda malah semakin menjadi-jadi.

__ADS_1


"Arsha? Kamu kenapa, Sayang? Aku panggil dokter ...." Armand berniat untuk memencet tombol nurse call, namun Arsha menarik tangan pria itu sembari menggeleng-gelengkan kepala. Tangisnya tetap tak berhenti.


"Kenapa nangis? Ada yang luka?" Armand tak menyerah. Yang ditanya hanya menggeleng-gelengkan kepala. "Kalau tidak ada yang luka, kenapa nangis? Aku ada salah?" Lagi-lagi Arsha menggelengkan kepala. Airmata meleleh memenuhi wajah. Mata merah dengan pipi sembab. Membuat wajahnya kusut masai. Belum lagi suara berisik dari ingus yang mencoba untuk keluar namun ditahan-tahan.


Melihat pemandangan itu membuat Armand ingin tertawa, namun ia tahu situasi. Armand seperti menghadapi bocah SD yang tengah merajuk meminta mainan. Armand menutup pintu dan membimbing Arsha masuk ke dalam. Dia duduk di atas brankar sementara Arsha berdiri di depannya, membuat posisi tubuh mereka sama tingginya.


Sembari menahan tawa, Armand menarik ujung bajunya dan menyodorkan pada Arsha. Tanpa berucap sepatah kata pun, wanita mungil itu mengambil ujung baju dan menjadikannya sebagai lap ingusnya yang sudah mengalir kemana-mana. Tak ada rasa sungkan, Arsha mengeluarkan ingusnya dengan suara yang berisik. Armand membiarkan wanita kecil itu menenangkan diri.


Posisi tubuh mereka sangat dekat. Arsha berdiri tepat di depan Armand. Pria itu membelai rambut Arsha dengan tangannya yang bebas. Setelahnya belaian itu beralih ke wajah Arsha dan menyeka satu tetes airmata terakhir yang berada di sudut mata.

__ADS_1


"Sudah nangisnya?" tanyanya lembut. Suara yang baru pertama kali Arsha dengar dengan kesadaran seratus persen. Arsha menunduk sembari mengangguk. Dia tak berani menatap mata Armand yang tengah memandangnya dengan sangat lekat. Jantungnya kembali berdegup kencang. Posisi tubuh mereka sangatlah dekat. Dalam satu kali tarikan, tubuh mereka pasti akan menempel lekat.


"Tadi kenapa nangis? Aku ada salah? Atau ada yang luka?" Arsha lagi-lagi menggeleng. Kelembutan suara Armand membuat hatinya bergetar. "Lalu kenapa?"


"Saya sedih. Bapak terluka karena saya. Kenapa Bapak nekat? Kenapa Bapak nggak tunggu petugas datang? Bagaimana kalau Bapak lukanya makin parah? Saya nggak akan pernah bisa maafin diri saya kalau terjadi apa-apa sama Bapak! Saya akan menyalahkan ...."


Armand tak lagi berkonsentrasi mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Arsha. Dia sibuk memperhatikan tingkah wanita itu yang dinilainya semakin menggemaskan. Bibir mungil itu bergerak-gerak semakin menggemaskan. Ditambah dengan ekspresi Arsha yang menyalahkan diri sendiri. Armand tak bisa menahan diri lagi. Dia tak berpikir, hanya menggunakan instingnya.


Dalam satu kali gerakan, Armand menarik Arsha mendekat. Di detik berikutnya, dia mempersempit jarak mereka hingga tak ada udara yang masuk. Armand menutup bibir mungil itu dengan bibirnya hingga kata tak lagi mampu keluar dari bibir itu.

__ADS_1


***


Happy Reading 🥰


__ADS_2