Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 39 - Berusaha Bersikap Biasa


__ADS_3

Di mataku, dunia tak lagi sama. Cerahnya cuaca di pagi hari tak mampu mengobati hatiku yang terlanjur mendung. Sapaan para tetangga, suara pedagang sayur menjajakan dagangan, celoteh anak-anak yang akan berangkat sekolah, seolah tak terdengar. Semua terasa suram.


Duniaku sedang hancur. Duniaku sedang tak baik-baik saja. Tapi, meskipun aku merasa runtuh, dunia tetap berjalan seperti semestinya. Dunia tak berhenti untuk ikut menangis. Lalu, apa aku harus bersikap cengeng dan menangisinya berlarut-larut? Orang normal, yang tidak merasakan apa yang kurasakan, tentu saja akan menjawab tidak. Tapi, aku yang menjalani, bisakah bersikap seperti itu? Bisakah aku bertemu dengannya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa? Bisakah aku berakting seperti itu?


Semalaman aku tak bisa tidur. Berpikir dan mencoba menelaah semua. Bila jiwa pengecutku datang, aku ingin pergi saja. Menjauh dari dia. Mungkin dengan begitu, rasa sakit ini akan semakin cepat sembuhnya. Tapi bila aku memilih cara itu, artinya, aku harus keluar dari pekerjaan ini. Setimpalkah?


Mendapat pekerjaan ini bukan perkara mudah. Butuh puluhan apply lamaran kerja. Butuh dua belas kali wawancara kerja yang tentu saja menguras emosi, waktu dan tenaga. Dan lagi, bagaimana reaksi orangtua bila aku keluar?


Masih teringat jelas reaksi mereka ketika aku mendapat pekerjaan ini. Mereka sangat bahagia. Bahkan mengadakan syukuran dan mengundang tetangga sekitar. Rasa bangga itu terlihat sangat jelas di wajah-wajah mereka. Haruskah aku mengganti wajah bahagia itu dengan kekecewaan hanya karena urusan patah hati? Tentu jawabannya tidak.


Untuk itu, aku meneguhkan diri untuk tetap bekerja di perusahaan ini. Tidak apa-apa terasa sakit, toh nantinya rasa sakit itu akan hilang. Waktu yang akan menyembuhkan.


***


Mudah berkata seperti itu ketika objek sedang tidak terlihat. Beda ceritanya ketika objek itu ada di depan mata dengan segala pesona yang dimilikinya.


Aku sedang memasuki area parkiran ketika melihat Xpander berwarna silver itu memasuki area yang sama. Tanpa melihat plat nomornya saja aku sudah tahu pemiliknya siapa. Secara spontan, aku memalingkan wajah dan berjalan cepat sebelum pria itu menyadari keberadaanku.


"Arsha." Duh, rupanya dia telah menyadarinya. Aku memilih mengabaikan dan pura-pura tidak mendengar. Tidak mengurangi kecepatan berjalan.


"Arsha!" Suaranya terdengar lebih keras. Bahkan Pak Security yang berada beberapa meter di depanku bisa mendengarnya. Bila kembali mengabaikan, akan sangat terlihat bila aku berpura-pura tidak mendengarnya.


Aku berbalik. Ternyata dia hanya berjarak dua meter. Satu langkah yang diambil, membuat jarak kami menjadi satu meter saja. "I-iya Pak?" Aku menelan ludah susah payah. Dadaku kembali berdenyut nyeri. Mengapa hanya dengan melihatnya saja membuat hatiku sakit?


"Kemarin kamu pulang dulu. Kenapa tidak mengabariku?"


"Ah, em, ya .... M-maaf Pak, kemarin saya buru-buru ...."


"Ada apa? Ada masalah?"


"T-tidak ada. Hanya j-janji temu dengan teman."


"Teman? Cewek cowok?"


"C-cewek."

__ADS_1


"Oh." Aku tak tahu mengapa berkata seperti itu. Itu hanya jawaban spontan karena wawancara dadakan. Mulai saat ini, aku tidak mau berasumsi lagi.


"Berkas termination belum kamu siapkan?"


"Belum Pak. Rencananya, pagi ini."


"Aku bantu cari. Ada berapa berkas?"


"Tidak perlu, Pak. Saya bisa mencarinya sendiri." Kami berbicara sembari berjalan ke lantai dua. Dia bersikukuh untuk membantu mencari, tapi aku menolaknya sehalus mungkin. Perdebatan itu berakhir setelah dia dipanggil oleh Pak Arif.


***


Bisa melihat, namun tak bisa memiliki. Rasanya sangat sakit. Berulang-kali aku menyemangati diri untuk tidak terlalu larut dalam perasaan, tapi niat itu selalu runtuh ketika berhadapan dengannya.


Siang ini, kesabaranku kembali diuji ketika telepon mejaku berdering.


"Ya, Pak?"


"Ar, ke ruangan. Bekalnya dibawa sekalian." Mendengar ucapan seperti ini beberapa hari yang lalu, merupakan hal yang biasa. Namun mendengarnya saat ini, ketika aku sudah mengetahui statusnya, membuat tekanan darahku naik seketika.


Aku mencengkram gagang telepon itu dengan erat. Mencegah mulut ini untuk berteriak dan berkata kasar.


"Maaf, Pak. Hari ini saya bangun kesiangan, jadi tidak masak."


"Oh, begitu. Kamu mau makan apa? Kita pesan gofood."


"Bukannya Bapak dibawakan bekal oleh istri? Kenapa harus gofood?" Sebenarnya hanya ucapan pancingan, tetapi ketika mengatakannya membuat hatiku seperti teremat-remat.


"Nadya juga tidak masak. Kamu mau makan apa?"


"Saya sudah titip makan. Terima kasih tawarannya, Pak."


***


Sampai jam makan siang berakhir, aku tidak melihatnya keluar dari ruangan. Itu artinya dia tidak makan. Ada perasaan khawatir melihatnya seperti itu. Namun kembali lagi, setelah mengingat statusnya, rasa khawatir itu kubuang jauh-jauh. Untuk apa mengkhawatirkan suami orang?

__ADS_1


Sikapnya seolah tak terjadi apa-apa. Tidak ada penjelasan atas ini semua. Dia masih bersikap biasa-biasa saja. Ingin membenci, tapi dia tidak bersalah. Ingin melanjutkan perasaan, tapi dia sudah ada yang memiliki. Aku hanya bisa menahan rasa ini, sampai rasa sakit ini pergi dengan sendiri.


Mengingat sosok bernama Nadya, membuat perasaanku perih. Wanita cantik itu tengah hamil besar. Pasti dia membutuhkan banyak support dan perhatian dari pasangan. Perasaan bersalah datang menyergap. Bagaimana kalau wanita itu tahu bahwa ada wanita lain yang mencintai suaminya? Pasti hatinya juga akan sakit.


"Mbak, Bapak ada?" Tiba-tiba Pak Security muncul di hadapanku sembari menenteng makanan.


"Pak Armand apa Pak Arif?"


"Ya Pak Armand 'lah Mbak. Kalau Pak Arif 'kan di lantai tiga. Ada, Mbak?"


"Sepertinya ada. Dari tadi aku tidak melihatnya keluar. Ada apa, Pak?"


"Oh, ini lho Mbak Arsha. Ada pesanan gofood. Kata mas gofoodnya, dari bu Nadya untuk Pak Armand. Saya titipin Mbak apa gimana enaknya?" Dari wajah Pak Security, terlihat jelas bahwa dia keberatan untuk mengantar langsung. Mungkin takut kena semprot bila mood atasan sedang tidak baik-baik saja. Dikondisi normal, aku akan menawarkan bantuan. Tapi tidak untuk saat ini.


Mendengar dia diantar makanan membuat hati mencelos. Rasa khawatir yang sempat datang karena dia belum makan rasanya sangat percuma.


"Diantar langsung saja, Pak. Kayaknya Pak Armandnya nggak sibuk-sibuk banget," cetusku dan berpura-pura sibuk dengan berkas di meja.


***


Memikirkan dia, selalu membuatku bertanya-tanya. Sejak kapan dia menikah? Sudah lama 'kah? Kenapa istrinya baru muncul sekarang? Kemana istrinya selama ini? Apa mereka LDR? Apa itu sebabnya dia selalu pulang ke Surabaya setiap hari Sabtu dan Minggu? Untuk mengunjungi istri tercinta? Lalu, apakah sekarang mereka sudah tinggal bersama?


Seperti apa pernikahan mereka? Ah, pasti mereka bahagia. Buktinya, istrinya sudah hamil. Kebahagiaan mereka pasti berlipat ganda, sebentar lagi mereka akan kedatangan malaikat kecil.


Ah, beruntung sekali yang menjadi istrinya. Dia mendapatkan pria baik seperti "pria yang tak ingin kusebut namanya itu". Pria yang selalu memasang badan untuk bawahan. Pria yang sangat baik sampai kebaikannya kusalahartikan.


Betapa bodohnya aku, menyalahpahami semua kebaikannya. Betapa bodohnya aku bermimpi untuk menjadi pasangannya. Sekarang, mimpi itu telah musnah, tergantikan oleh realita.


Move on, Arsha!! Move on!! Dia bukan pria untukmu. Dia sudah ada pemiliknya. Meskipun sekarang hatimu sakit, yakinlah bahwa suatu saat nanti rasa sakit itu akan sembuh dengan sendirinya. Sekarang, fokuslah pada pekerjaan dan membahagiakan ayah dan ibu.


Laki-laki? Jadikan mereka prioritas terakhirmu!!


***


Happy Reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2