
Karpet yang dibasahi air tak mampu meredam jilatan api yang mulai merambah kemana-mana. Kepulan asap semakin tebal, membuat sesak dada. Pasokan oksigen semakin berkurang, diganti dengan karbon monoksida.
Armand sangat hapal dengan tata letak ruang sehingga meski ruang telah dipenuhi kabut asap, ia masih bisa melintasinya. Dia menyisiri lantai pertama, tak ada tanda-tanda kehidupan. Ia mempercepat langkah menuju lantai dua. Semakin menuju ke lantai dua, kepulan asap semakin pekat. Armand menyelubungi tubuh dengan karpet yang telah direndam, sementara APAR berada di tangan.
"Arsha!! Arsha!!" teriaknya. Berusaha mencari sesosok tubuh di tengah kepulan asap. Menurut staff, Arsha mencarinya. Itu artinya Arsha mungkin saja berada di ruangannya. Armand semakin mempercepat langkah.
"Arsha!! Dimana kamu, Sayang?!" teriaknya.
Armand telah tiba di lantai dua dan melangkah ke ruang kerjanya. Pemandangan mengejutkan ia lihat tepat di depan pintu ruang. Ia melihat sesosok tengah terbaring di lantai!
"Arsha!!" Dia berlari dan langsung bersimpuh. Armand menarik tubuh Arsha hingga berada di pelukannya. "Arsha!! Bangun!! Arsha!! Sayang!! Bangun!!"
__ADS_1
Beberapa kali Armand berusaha membangunkan Arsha, namun sepertinya wanita itu telah pingsan karena terlalu banyak menghirup gas karbon monoksida. Pertolongan pertama untuk korban keracunan gas adalah membawanya ke ruang terbuka!
Armand segera membungkus Arsha dengan karpet basah. Memastikan tubuh Arsha tak terkena jilatan api sementara api semakin membesar. Beberapa plafon ada yang sudah berjatuhan. Armand harus mengejar waktu. Bukan tak mungkin plafon di atasnya juga akan runtuh.
Selesai membungkus tubuh Arsha, Armand segera menggendong tubuh itu. Dalam sekali gerakan, dia mulai berlari. Menelusuri setiap jarak yang terasa sangat lambat. Perjalanan dari lantai kedua ke lantai pertama yang biasanya membutuhkan waktu tak kurang dari semenit kini terasa lebih lama. Armand menahan napas, mencegah karbon monoksida memasuki paru-parunya.
Kepala Armand mulai terasa berat. Pasokan oskigen mulai habis. Paru-parunya terasa terbakar. Pandangan mata mulai berkunang-kunang dan buram.
Dalam jarak sekitar lima belas meter, Armand bisa melihat beberapa pria berpakaian orange sudah memasuki ruangan. Perasaannya sangat lega. Pertolongan telah datang. Arsha akan selamat.
Armand mempercepat langkah untuk mempersempit jarak, namun musibah tak terduga tiba-tiba menimpanya. Sebuah plafon dan kerangka besi tiba-tiba jatuh. Secara spontan Armand langsung menutup tubuh Arsha dengan tubuhnya. Dalam sepersekian detik, plafon dan kerangka besi itu jatuh menimpa punggungnya, membuatnya kesakitan. Ia tahu ada yang tak beres dengan punggungnya, namun Armand mengabaikannya.
__ADS_1
Beberapa orang berbaju orange langsung menghampiri mereka. Armand masih memeluk Arsha dengan erat. Mengabaikan besi yang menimpanya. Sedikit demi sedikit, suara yang awalnya bisa didengarnya dengan jelas mulai menghilang. Wajah dan pemandangan yang dilihat pun menjadi buram. Armand tak ingin tak sadarkan diri sebelum Arsha berada di tangan yang aman.
Beberapa orang itu terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok menangani Arsha dan mengambilnya dalam pelukan Armand sementara kelompok yang lain menangani Armand.
Melihat Arsha telah dipindahkan ke tandu dan dibawa petugas DAMKAR membuat Armand lega. Ia tak menyadari bahwa dirinya sendiri pun telah dipindah ke tandu dalam posisi telungkup. Luka di punggungnya terlalu parah untuk bisa dibawa dengan posisi berbaring.
Mereka diangkat bersisian. Armand masih sempat melihat Arsha dan menggengam tangan itu sebelum kesadarannya hilang total.
***
Happy Reading 🥰
__ADS_1
NB : Maaf ya kalo adegannya kek sinetron2 🤣🙏 otornya kurang kreatif 😂🙏