
Debaran jantung ini menjadi tak terkontrol. Untuk sesaat Arsha hanya bisa terpaku. Dia menatap perawat dan Nadya secara bergantian. Terlalu banyak kejutan membuatnya bingung. Nadya tersenyum sendu. Dia meremas tangan Arsha dengan bersahabat.
"Pergilah, Arsha," ucapnya sembari mengangguk.
Arsha menapakkan kakinya ke lantai. Ia merasa kakinya sangat ringan. Perawat mendekat untuk membantunya membawa penyangga infus dan menuntunnya. Sebelum benar-benar melangkah pergi, Arsha menoleh pada Nadya.
"Kamu ... tidak ikut?" tanyanya. Nadya menggeleng. Bibirnya tersenyum namun di matanya tersirat kesedihan yang mendalam.
"Bukan aku yang dicarinya, Arsha. Pergilah. Dia lebih butuh kehadiranmu dibanding aku."
Tahu tak kan bisa membujuk Nadya, akhirnya Arsha berbalik dan melangkah keluar. Dia melewati beberapa lorong untuk mencapai ruangan Armand. Di sepanjang jalan pandangannya memburam. Andaikan bisa, ia ingin berlari untuk bisa segera menemui pria itu.
Semua kilatan ingatan-ingatan bertebaran di kepala. Bagaikan kaleidoskop yang terangkum berurutan namun singkat, padat dan jelas. Dari awal mula Arsha menyadari perasaannya, kebaikan-kebaikan Pak Armand, kenyataan pahit ketika mengetahui pria itu sudah menikah, pernyataan cinta Pak Armand hingga ucapan menyakitkan Nadya yang menyuruhnya untuk menjauhinya.
__ADS_1
Perasaan Arsha naik turun. Ada kalanya dia begitu membenci Pak Armand karena sudah memberinya harapan. Arsha menilai Pak Armand adalah laki-laki player yang senang bermain-main dengan wanita muda padahal sudah memiliki istri dan calon anak. Namun penilaiannya selama ini salah. Pak Armand tidak seburuk pandangannya. Pria itu justru sangat bertanggung-jawab. Arsha merasa sangat bersalah.
"Ini ruangannya, Bu. Apa perlu saya temani ....?"
"Tidak perlu, Sus. Saya bisa ditinggal."
"Baiklah kalau begitu. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kami. Kalau begitu saya permisi dulu." Perawat itu tersenyum manis sembari mengangguk. Arsha membalas anggukan. Begitu perawat itu telah menjauh, tatapan Arsha terfokus pada pintu berpelitur coklat yang dibagian tengahnya terdapat kaca bening yang berfungsi untuk mengintip pasien. Dengan jantung berdebar kencang, Arsha memberanikan diri untuk melihat ke dalam.
Di dalam ruang, Arsha melihat dua petugas medis tengah memberi obat dan salep pada seorang pria yang duduk membelakangi. Melihat dari punggungnya saja Arsha sudah tahu kalau itu Pak Armand. Ada bekas luka bakar di punggung tegap itu. Luka itu membuat kulit tampak merah, lecet, melepuh, dan bengkak. Meski tak bisa melihat ekspresinya, namun Arsha yakin Pak Armand tengah kesakitan. Perasaannya sangat nyeri melihat tubuh itu dipenuhi luka.
"Lho, mau bertemu pak Armand, Bu?" Terlalu sibuk dengan pikirannya membuat Arsha tak sadar ketika pintu sudah terbuka, menampakkan dua petugas medis pria di depannya.
"Eh, i-iya."
__ADS_1
"Bu Arsha ya?" tanya salah satu dari mereka. Arsha mengangguk ragu. Kenapa orang-orang pada tahu namanya?
Pria yang bertanya itu tersenyum kecil.
"Kedatangan Ibu sudah ditunggu-tunggu. Silahkan masuk, Bu," ucapnya lagi sembari membuka pintu semakin lebar. "Pak Armand, Anda ada tamunya. Kami keluar dulu. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi kami." Mereka berdua mengangguk dan melangkah pergi.
Selepas kepergian mereka, Arsha tak berani memandang pria yang duduk beberapa meter darinya. Dia hanya berdiri mematung. Menatap kesana-kemari. Arsha bisa merasakan tatapan tajam itu.
Arsha sama sekali tak menduga. Sosok itu tiba-tiba berdiri. Dengan wajah menahan nyeri, dia menyeret tiang infus bersamanya, untuk menyamakan dengan langkahnya yang lebar. Hanya butuh beberapa langkah untuk mencapainya. Arsha bahkan belum sempat menarik napas ketika tangan kekar itu menarik tubuhnya hingga tersentak ke depan dan menubruk tubuh gagah itu. Dalam hitungan detik, tubuhnya telah berada dalam pelukan pria itu.
"Arsha .... Syukurlah kamu selamat." Suara Pak Armand pecah, tubuhnya gemetar. Arsha bisa merasakan perasaan pria itu. Ya, Pak Armand juga mencintainya.
***
__ADS_1
Happy Reading 🥰
NB : Mintol bantu vote biar ranknya mumbul ya ges 🤣✌️