
Sudah dua hari berlalu, namun ponsel Armand tak kunjung aktif. Hari ini Arsha telah diperbolehkan pulang. Pun begitu, raut wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan. Semenjak ia tahu bahwa Armand telah dipindah tanpa sepengetahuannya, bibirnya tak lagi bisa tersenyum.
Arsha menjadi muram. Matanya kosong, seolah tak ada kehidupan. Pikirannya bingung, sedih, kecewa, khawatir, campur aduk menjadi satu. Begitu tahu Armand sudah tak berada di RS yang sama dengannya, Arsha langsung mencari tahu apa yang tengah terjadi. Dia berusaha bertanya pada perawat maupun dokter yang menangani, namun tak ada yang memberitahunya apapun. Alasannya terkait kode etik mereka. Dan lagi, Arsha bukanlah siapa-siapa sehingga ia tak memiliki hak untuk tahu kondisi Armand.
Hal itu membuat Arsha semakin stress. Bila Armand sampai dirujuk ke RS lain, itu artinya RS yang sekarang tak mampu menangani Armand. Apa kondisi pria itu semakin parah? Bukankah ketika terakhir kali mereka bertemu, pria itu terlihat sudah membaik? Buktinya mereka bisa berinteraksi seperti itu. Apa Armand menyembunyikan rasa sakitnya untuk tak membuatnya khawatir?
Mengingat hal itu membuat rasa gelisah dan khawatirnya semakin tinggi. Mengenal pria itu selama berbulan-bulan dan mencintainya sebesar ini membuat Arsha sadar bahwa hanya sedikit yang ia ketahui mengenai Armand.
Arsha tak tahu dengan keluarga Armand maupun teman-temannya. Ia sudah berusaha bertanya pada teman-teman di kantor, mungkin ada yang tahu nomor pria itu yang lain, namun tak ada seorang pun yang tahu. Bodohnya, ia juga tak memiliki nomor Nadya dan tak tahu bagaimana mencari keberadaan wanita itu. Apa Nadya ikut ke Surabaya dan mendampingi Armand? Apa wanita itu telah melupakan janjinya dan berubah pikiran? Dia tetap mengejar Armand?
Berbagai pikiran yang berkecamuk itu membuatnya semakin stress. Tak ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di kepalanya, sehingga mendung itu menggelayut di wajahnya.
"Kenapa sedih terus to Nduk? Ibu yakin Nak Armand baik-baik saja. Mungkin dia masih belum punya kesempatan untuk memberimu kabar, Nduk. Seng sabar ae wis, Nduk."
Ibu berusaha menghibur anak gadisnya yang terlihat seperti remaja yang tengah putus cinta. Ibu tak mau berasumsi macam-macam. Ibu tahu kalau Armand adalah pria yang baik. Kalau bukan pria yang baik, tidak mungkin pria muda itu menjaga putrinya sampai rela bertaruh nyawa untuk menyelamatkan putrinya waktu kebakaran terjadi.
Ibu memiliki feeling, perasaan Armand ke putrinya tak hanya sekedar rasa ingin melindungi seorang kakak ke adiknya, namun lebih dari itu. Ibu juga tahu bila putrinya juga memiliki perasaan yang besar terhadap pria itu. Untuk itu, Ibu berharap putrinya tak dikecewakan. Yang bisa Ibu lakukan saat ini hanyalah berdoa. Mengharap yang terbaik untuk keduanya. Bila memang yang terbaik adalah dengan bersama, maka Ibu akan senang hati merestui. Namun bila sebaliknya, Ibu juga akan ikhlas menerimanya.
***
Begitu keluar dari RS, Ibu dan Ayah langsung membawa Arsha pulang. Kebetulan keesokannya sudah weekend, yaitu hari Sabtu sehingga Arsha masih memiliki waktu dua hari untuk mengistirahatkan tubuh.
Tubuhnya sudah benar-benar sehat. Ia tak lagi mengalami rasa pusing, mual ataupun keinginan untuk muntah. Yang sedang tak baik-baik saja adalah pikiran dan hatinya. Arsha masih tak bisa mengalihkan pikirannya dari Armand.
Baru saja dia merasa euforia luar biasa mengetahui status dan perasaan Armand, namun gelembung kebahagiaan itu dengan singkat telah pecah. Meninggalkan perasaan bingung, kekecewaan dan kesedihan.
__ADS_1
Siang itu Arsha tengah berbaring di kamarnya. Ponsel tak pernah jauh dari genggaman. Beratus-ratus kali dia memeriksa ponsel. Berharap pesannya telah terkirim dan orang yang dikiriminya pesan membalas pesannya. Arsha juga sudah menelepon, namun lagi-lagi nomor itu tak aktif. Arsha jadi ingin tahu, apakah hari Senin ia bisa mendapatkan kepastian ini?
Ketika tengah sibuk mencari nomor kontak teman-teman Armand di cabang lain, pintu kamarnya diketuk dari luar.
"Nduk, ini Ibu. Ibu boleh masuk?"
Arsha langsung beringsut duduk. Meski telah siang, ia belum mandi. Selesai sholat Subuh, ia langsung berbaring-baring tanpa semangat hidup. Alhasil, dia terlihat kumal. Rambut awut-awutan. Wajah kusam terlihat kurang tidur.
"Iya, Bu. Masuk aja."
Gagang pintu bergerak, sedetik kemudian Ibu muncul di sana. Wanita paruh baya itu langsung masuk ke kamarnya dan dengan cepat menutup pintu rapat-rapat.
"Nduk, kok rembes? Cepat mandi!"
Ibu menarik tangan Arsha. Menarik tubuh itu agar tak mengakar di tempat tidur.
"Ayo cepat mandi, Nduk!"
"Duh, males, Bu. Nanti aja mandinya."
"Cepat mandi, Nduk!"
"Nanti aja, Bu. Dhuhur 'kan masih sampe setengah tiga. Masih ada waktu ...."
"Sudah nggak ada waktu. Cepat mandi sekarang!"
__ADS_1
"Ibu kenapa sih?" Arsha berusaha melepaskan cekalan tangan ibunya.
"Ada tamu, Nduk. Cepat mandi."
"Memangnya kenapa kalau ada tamu? 'Kan tamunya Ibu sama ayah. Kenapa Nay harus ikut nemuin?"
"Tamunya mau ketemu kamu. Ayo nurut sama Ibu. Mandi dulu."
"Nggak mau, Bu. Males."
"Duh, anak ini. Kok susah nurut sama orangtua. Kamu mau ketemu tamu nggak mandi?"
"Nay nggak mau ketemu siapa-siapa, Bu. Nay mau tidur ...."
"Coba kamu liat siapa yang datang. Kalau tahu tamunya, mungkin kamu mau mandi." Ibu terlihat tak sabar. Dia menarik tangan anaknya dan membawanya keluar kamar. Antara ruang tamu dan ruang keluarga ada pintu yang hanya disekati oleh gorden, sehingga hanya dengan menyingkap gorden itu sedikit, maka akan tahu siapa yang tengah berada di ruang tamu.
Sebenarnya Arsha sangat malas. Namun untuk menghindari disuruh mandi, ia berjingkat-jingkat ke ruang keluarga. Dengan menggunakan ujung jari, dia menyingkap gorden itu sedikit dan mengintip.
Betapa terkejutnya dia dengan apa yang dilihat. Beruntung tangannya menutup mulutnya yang dengan refleks mengeluarkan pekikan terkejut.
Arsha melihat pria yang selama beberapa hari ini berada di pikirannya tengah duduk di ruang tamu beserta dengan beberapa orang yang lain!
***
Happy Reading 🥰
__ADS_1