Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 46 - Sudah Berapa Lama


__ADS_3

"Arsha. Mau kemana?" Tatapan yang sangat dingin. Bahkan mampu membuat bulu kudukku merinding. Sinar matanya mampu membuat lawan bicara terintimidasi. Bibir terkatup rapat, seperti mencoba menahan amarah yang ingin meledak keluar. Gestur tubuhnya kaku. Layaknya batang pohon kokoh yang tak tergoyahkan meskipun ada angin besar yang bertiup. Kedua lengan bergelung di depan dada. Bersiap untuk menghakimi.


Jujur saja, melihatnya seperti itu membuat nyaliku menciut. Sekelumit rasa takut mulai hinggap. Ada keraguan untuk membantah. Mungkin dia memang terlahir untuk menaklukan orang-orang di sekitarnya. Sifatnya yang sangat mendominasi membuatku gugup.


"Siapa?" Suara Saka membawaku kembali ke dalam realita. Pandanganku yang awalnya hanya terfokus pada pria itu, menjadi teralihkan begitu melihat gerakan di sebelahnya. Kemunculan Nadya kembali menyadarkanku akan kenyataan yang ada. Dalam sekejab, rasa takut itu pun menguap, berubah menjadi rasa sakit, amarah dan perasaan menyesakkan lainnya.


"Ah, dia atasanku," gumamku. Kulihat pria itu berjalan mendekat. Demi kesopanan, aku pun turun dari motor dan bersiap bila harus berkonfrontasi.


"Mau kemana?" tanya suara dingin itu.


"Ya mau pulang 'lah Bi. Mau kencan. Mau kemana lagi. Iya 'kan Ar?" Belum sempat kujawab, Nadya datang. Memotong pembicaraan dan menggelayut lengan pria itu. Wajahnya terlihat ceria. Sesekali dia mencuri-curi pandang ke arah Saka, seolah-olah memberi kode untuk meminta dikenalkan.


Aku menahan diri untuk tidak melengos. Getaran rasa sakit itu ternyata masih ada. Nyeri di dada ini seolah menjadi pertanda, bahwa perasaan itu nyata adanya. Aku tak bisa menampik, bahwa melihat mereka membuat luka ini semakin menganga.


"Ya. Kami memang akan kencan." Kurasakan sebuah tangan merengkuh bahu. Tanpa kusadari, Saka telah turun dari motor dan berdiri di sebelahku. Tangan kanannya merengkuh bahuku dengan posesif. Meskipun Saka temanku, aku merasa sangat tidak nyaman. Aku berusaha melepaskan diri, namun Saka semakin mengeratkan rengkuhannya.


"Kamu nggak mau mengenalkan kami?" bisiknya lembut, membuatku merinding. Aku menatap Saka dengan linglung. Tatapan yang biasanya jahil itu berubah hangat. Dia seperti bukan Saka yang kukenal.


Ada apa dengan anak ini? Salah minum obat?


"Ah, em, ya. Dia Saka .... Saka, beliau mbak Nadya dan pak Armand ...."


"Saka. Calonnya Arsha." Saka menjulurkan tangan. Perkataannya membuatku terkejut sehingga tanpa sadar aku memutar kepala dan memelototinya. Sepertinya Saka benar-benar salah minum obat!


Ternyata tidak hanya aku saja yang merasakannya. Kedua orang di depanku juga menunjukkan keterkejutan meskipun mereka menanggapinya dengan cara berbeda.


"Wah, ternyata calonnya Arsha. Saya Nadya." Nadya langsung meraih tangan Saka. Ekspresi wajahnya terlihat riang dan gembira. Berkebalikan dengan pria di sebelahnya. Wajahnya mengeras dengan bibir terkatup rapat.


"Pekerjaanmu sudah selesai?" Alih-alih menyambut uluran tangan Saka, Pak Armand justru mengacuhkannya. Dia bersidekap. Menatap lurus padaku. Dari tatapannya, dia ingin menundukkanku. Namun, kali ini aku tak akan gentar. Aku tak takut meski dia akan memakanku hidup-hidup.


"Sudah semua."


"Kliring, unbalance, jurnal harian, input berkas, cek jaminan, inventory ...."


"Sudah semua, Pak."


"Ada berkas yang harus kamu input. Aku meninggalkannya di ruangan ...."


"Akan saya input besok Pak. Jam operasional sudah berakhir. Saya berhak untuk pulang. Kalau begitu, kami permisi dulu." Aku menarik tangan Saka. Ingin segera pergi dari situasi tidak mengenakkan ini.


"Tunggu!"


"Ya Pak?" Ah, rasanya aku ingin menghentak-hentakan kaki. Aku ingin lari sejauh-jauhnya, namun kenapa pria ini seolah-olah tengah mengulur-ngulur waktu?


"Kalian akan pergi? Bagaimana kalau kita makan bersama? Aku ingin mendengar cerita tentang 'calonmu' ini." Pandangan Pak Armand langsung beralih pada Saka. Tinggi yang hampir sama membuat tatapan mereka sejajar.

__ADS_1


Dua pria gagah berdiri berhadap-hadapan. Aura di sekitar mereka seketika berubah. Tidak ada senyum ramah, layaknya orang yang baru kenal. Melainkan tatapan tajam. Mengukur dan menilai, kekuatan dan kelebihan satu sama lain.


"Tidak. Terima kasih. Saya akan pergi dengan Saka. Mungkin lain kali. Kalau begitu, kami permisi dulu. Mari Pak, Mbak." Aku menganggukkan kepala dengan sopan dan menarik tangan Saka menjauh.


***


"Nay!"


"Apa?!"


"Kalau mau nangis, nangis aja. Aku nggak liat!"


"Apa?! Aku nggak denger!" Kami tengah berada di jalan raya. Melintasi jalan yang cukup padat itu dengan kecepatan sedang. Suara kendaraan menghambat komunikasi kami.


Saka membuka kaca helm dan kembali mengulang ucapannya.


"Kalau mau nangis, nangis aja. Aku nggak liat!"


"Apa maksutmu?! Siapa yang mau nangis?!"


"Udah!! Nggak usah malu! Nangis kenceng-kenceng nggak apa-apa. Jaketku murah. Nggak bakalan ngaruh kena ingusmu!" Dengan satu tangan, Saka menarik tanganku dan membuatnya melingkari pinggangnya.


"Nangis yang kenceng! Lap ingusmu pake jaketku. Aku pake headset, nggak bakal denger kamu nangis!"


"Beneran pake headset?!"


"Awas kalo dengerin!"


"Nggak!"


"Janji?!"


"Iya. Janji!"


Menuruti ucapan Saka, aku memegang erat-erat ujung jaketnya. Kusandarkan dahi di punggungnya, dan lelehan murahan itu tumpah seketika.


Aku pikir, air mata ini sudah kering. Ternyata stoknya masih banyak. Hanya dengan melihat kebersamaan mereka, membuat kelenjar mataku memproduksi air mata dengan cuma-cuma. Ini bukan salahku. Salahkan saja hati dan mataku yang lemah!


Selama ini, aku tidak pernah menceritakan masalahku pada orang lain. Aku hanya menangis sendiri. Menelan kekecewaan itu sendiri. Mengetahui ada orang lain yang memahami, membuat jiwa manjaku keluar. Tanpa bisa dicegah, air mata ini pun keluar dengan sendirinya.


"Huuuuuu.... Huuuuuu .... Huuuuuuu ...." Suara tangisan, ditelan oleh angin. Seolah membawa kesedihan itu pergi.


Entah berapa lama aku menangis. Entah berapa lama kami berkendara. Yang kutahu, udara dingin mulai menusuk kulit. Jalanan sedikit berkabut dan menanjak. Rumah warga terlihat jarang-jarang, sementara pepohonan lebat di kanan-kiri jalan membentuk bayangan yang menyeramkan. Terlalu fokus menangis membuatku tak menyadari sekitar.


"Kita mau kemana?!"

__ADS_1


"Udahan nangisnya?"


"Iya. Udah! Kita lagi dimana? Mau kemana?!"


"Cari anget-anget."


"Anget-anget apa?! Jangan aneh-aneh kamu!"


"Hahaha, aneh-aneh apa sih."


"Kalau kamu aneh-aneh, aku bakal loncat!"


"Hahaha! Apaan sih. Sabar. Bentar lagi nyampe."


***


Ternyata, 'anget-anget' yang dimaksud Saka adalah secangkir kopi hitam panas dan gorengan yang baru diangkat dari wajan.


"Ini anget-anget," ucapnya sembari menyantap pisang goreng yang masih mengepul. "Duduk sini." Saka menepuk-nepuk tempat di sampingnya. Kami tengah berada di sebuah bangunan yang terbuat dari bambu. Tiang, usuk, maupun lantainya terbuat dari bambu yang dianyam. Sementara atapnya ditutupi oleh jerami. Bangunan itu cukup luas dan memiliki dua lantai.


Bangunan sederhana itu berdiri di ketinggian 700 mdpl. Pemandangan kota Jember hampir bisa dilihat secara keseluruhan. Kerlap kerlip lampu layaknya bintang yang bertaburan di angkasa. Kami berada di daerah wisata Rembangan.


"Kamu kok tau tempat ini? Bukannya kamu baru ke Jember lagi?" Aku menuruti ucapan Saka dan duduk di sebelahnya. Menatap indahnya kota Jember di malam hari.


"Oh, aku dapat rekom dari temen. Katanya, kalau mau mesum-mesum low budget, bawa aja gadis kesini. Hanya modal kopi dan gorengan, udah bisa raba-raba ...."


"Apa?! Raba-raba?! Coba sini kalau berani. Aku dorong kamu ke jurang!" Aku berkata bukan tanpa alasan. Dibawah kami memang ada jurang.


"Hahaha. Serius amat Nay. Nih, tissue. Masih ada ingus tuh di hidungmu." Saka menyodorkan sekotak tissue. Kemudian dia melepas jaketnya. "Hah, kasian sekali jaket baruku," keluhnya dengan wajah menyedihkan. Di punggung jaket terdapat cetakan basah yang membentuk kepulauan. Tentu saja itu ulah airmataku.


"Bukan salahku," sanggahku.


"Ya, ya. Wanita memang tidak pernah salah."


"Nay?"


"Apa?"


"Sudah berapa lama?"


"Apanya?"


"Suka sama suami orang."


***

__ADS_1


Happy Reading 🥰


__ADS_2