
"Ayo."
"Bentar, Bi. Masih belum habis minumnya."
"Waktu makan siang hampir selesai, Nad. Aku nggak bisa lama-lama di luar."
"Iya, Bi. Bentar." Nadya menyeruput es coklat dan menyumpal mulutnya dengan seblak sendokan terakhir. Dia mengunyah secepat kilat begitu melihat Armand sudah berjalan ke arah parkiran.
"Tungguin, Bi," kejarnya. Dia segera menggamit tangan Armand begitu berhasil menyusul pria itu. Armand menepis gandengan tangannya.
"Jangan melakukan hal-hal yang akan membuat orang lain salah paham, Nad." Pria itu mengambil langkah lebar, Nadya masih membuntutinya dari belakang.
"Salah paham gimana sih, Bi?" kejarnya.
Armand tak langsung menjawab pertanyaan Nadya. Dia mengitari mobil dan masuk. Nadya juga masuk melalui pintu satunya.
Nadya baru saja selesai memasang sabuk pengaman. Armand menyalakan mesin. Mengganti gigi dan melepas kopling. Secara perlahan mobil pun berjalan. Bergabung dengan kendaraan lain, memecah kepadatan jalan Semanggi.
Perkataan Arsha mengumpul di benak Armand. Perkataan itu tak bisa hilang. Kata-kata itu selalu terngiang, mengusik pikiran.
'Bapak tidak tahu malu ya?! Bapak sudah menikah! Istri Bapak sebentar lagi akan melahirkan!'
Arsha berasumsi bahwa ia telah menikah dan memiliki istri yang akan melahirkan. Hanya satu wanita hamil yang selalu berada di dekatnya selama ini, yaitu Nadya. Itu artinya Arsha berasumsi bahwa Nadya adalah istrinya?! Bila Nadya istrinya, untuk apa ia mengatakan suka dan sayang kepada Arsha? Konyol sekali Arsha. Apa Arsha pikir ia adalah tipe laki-laki seperti itu?
Mau sekonyol apapun Arsha, asumsinya tetap seperti itu. Ia harus cepat-cepat mengklarifikasi kesalahpahaman ini. Kalau tidak, Arsha akan semakin menjauh.
__ADS_1
"Banyak yang mengira kamu istriku kalau kamu menempel seperti ini. Kapan kamu ke Surabaya? Aku akan mengantarmu."
"Lho, kok aku diusir sih, Bi? Aku 'kan tinggal di sebelahmu. Kenapa aku harus pulang ke Surabaya? Kalau kamu keberatan bayar sewa bulanannya, nanti aku bayar sendiri deh."
"HPL-mu semakin dekat. Ortumu menyuruhku untuk membujukmu pulang. Kamu harus melahirkan di Surabaya, Nad."
"Nggak mau, Bi. Aku mau lahiran di sini aja. Kamu 'kan tau alasanku nggak mau di sana, Bi. Pandangan tetangga sangat nggak ngenakin. Mending aku di sini. Setidaknya aku bisa lepas dari topik gosip mereka."
"Hadapi, Nad. Bukan lari. Itu namanya tanggung jawab. Kamu sudah dewasa 'kan? Tinggal di sini tidak menjadi solusi permanen, Nad. Kamu harus memikirkan masa depanmu dan calon anakmu. Kamu tidak mungkin selamanya di sini."
"Aku inginnya di sini aja sih, Bi. Yang penting bareng kamu."
"Apa kamu pikir aku akan selamanya di sisimu? Apa kamu tidak berpikir, aku juga ingin membangun keluargaku sendiri? Tidak selamanya aku menjadi penjagamu seperti ini. Jadilah dewasa."
Perasaan baru yang masih sulit untuk dipahami. Keinginan untuk membuat Arsha menjadi hak milik. Keinginan ini begitu besar. Bukan sebagai adik lagi, namun sebagai seorang wanita. Semua terasa masuk akal sekarang. Bagaimana ia begitu marah melihat Arsha terluka. Jantung berdebar kencang dan suasana canggung ketika berada dalam satu kamar, kemarahan ketika melihat Arsha dilamar di depan mata. Alasannya hanya satu. Karena ia sudah menyukai Arsha jauh sebelum itu. Sejak kapan perasaan ini menjadi sebesar ini?
Arsha yang dulunya dekat, kini telah menjauh. Armand tak tahu pasti. Perubahan sikap Arsha ini ada hubungannya dengan keberadaan bocah ingusan itu atau hal lainnya? Tapi satu hal yang Armand tahu pasti, dia harus meluruskan kesalahpahaman ini.
"Arsha salam paham." Tatapan Armand tetap fokus di jalan. Tangan dan kaki tetap awas dalam mengemudi.
"Salah paham gimana?"
"Dia nyangka kamu istriku."
"Terus?"
__ADS_1
"Prasangkanya salah. Aku harus meluruskan."
"Kenapa harus diluruskan? Biarkan saja dia berpikir seperti itu."
"Aku menyukainya."
Hening. Kali ini tak ada sanggahan. Nadya terdiam. Baru kali ini Armand mengakui perasaannya pada orang lain.
"Beberapa kali aku mengatakannya, namun baru tadi aku mendengar dia benar-benar menolakku. " Armand menyadari nada frustasi di suaranya. Nadya pun begitu.
"Menolak? Dia menolakmu?"
"Ya. Dia mengataiku pria beristri yang tak tahu malu. Aku nggak tahu perasaan Arsha, tapi aku harus meluruskan satu hal ini. Meskipun nantinya dia tetap tidak menyukaiku, tapi setidaknya dia harus tau. Kalau pria yang menyukainya ini belum pernah menikah satu kali pun."
"Itu bukan perasaan suka, Bi. Kamu belum pernah menyukai siapa pun. Bahkan kamu tidak bisa membedakan antara perasaan suka sebagai wanita atau sebagai adik ...."
"Aku bisa membedakannya, Nad. Aku menganggapmu sebagai adikku. Tapi aku tak bisa menganggapnya seperti itu. Aku ingin memilikinya."
"Kenapa harus dia, Bi?" Kali ini suara Nadya benar-benar pecah begitu pertanyaan itu tercetus di mulutnya.
***
Happy Reading 😅🙏
NB : Masih pendek2 🤣🙏🤣
__ADS_1