Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 42 - Ada Hati Yang Harus Dijaga


__ADS_3

"Aku belum selesai bicara!" Sorot matanya berkilat-kilat. Bibir terkatup rapat membentuk garis tipis. Ada kemarahan yang berusaha ditahan. Tapi, bukan dia saja yang bisa marah. Aku pun bisa!


"Mau saya pulang jam berapa?! Bertemu dengan siapa?! Mau ayah ibu tahu atau tidak, bukan urusan, Bapak! Di kantor Bapak memang atasan saya, tapi itu tidak membuat Bapak berhak mencampuri hidup saya! Lepas!" Aku menghentakkan tangannya dengan kasar. Bagaikan lintah, tangan itu tetap membelit pergelangan tanganku dengan kuat.


Secara tiba-tiba, tatapan menindas dan dingin itu berubah sendu. Pupil matanya meredup. "Arsha, kamu sakit? Kenapa wajahmu pucat?" Cekalan tangannya mengendur. Kini, tangan itu malah meraba-raba dahi dan pipiku secara acak. Membuatku sangat tidak tidak nyaman.


"Jangan pegang-pegang," sergahku seraya menampik tangannya.


"Badanmu panas. Ayo ke dokter," ucapnya seraya menarik tanganku.


"Saya tidak sakit. Jangan dibesar-besarkan."


"Badan panas. Hidung merah. Keringat dingin. Kamu sakit. Ikut aku!"


"Dibilang saya tidak sakit! Saya hanya flu! Saya tidak perlu ke dokter! Lepas! Kenapa maksa sih!" Setengah mati aku berusaha melepaskan capitan tangannya, namun tangan itu bergeming.


"Pak! Saya benar-benar tidak perlu ke dokter! Lepaskan tangan saya!" Aku mulai memberontak dan memukul-mukul lengannya. Akhirnya pria itu berbalik dan memegang kedua bahuku.


"Oke, kamu tidak mau ke dokter?" Aku menggelengkan kepala. Wajah Pak Armand mendekat dengan tatapan menyelidik.


"Kalau begitu, kamu tunggu di sini. Jangan kemana-mana." Selepas mengatakan itu, pria itu keluar. Aku berniat untuk menyusul, namun langkahku kurang cepat. Pintu itu secepat kilat dikunci dari luar. Aku terjebak di ruangannya!


***


Perasaan kesal dan marah menjadi satu. Berulang-kali aku menelepon orang itu, memintanya untuk membuka pintu, namun teleponku selalu tidak dijawab. Ingin menggedor-gedor pintu, tapi takut membuat keributan yang akan berakhir dengan kekacauan gosip yang lebih besar. Apa yang akan dipikirkan staff yang lain bila melihatku terkunci seperti ini?


Aku tidak mengerti jalan pikir orang itu. Apa maksudnya dia melakukan semua ini? Sekarang aku dikurung seperti ini? Apa gunanya? Untuk apa?


Selama menunggu, aku berjalan hilir mudik mengitari ruang yang cukup luas itu. Batuk dan bersin tak berhenti-berhenti. Aku sengaja melepas masker, berharap virus ini bisa menulari si pemilik ruang. Memang tingkah kekanak-kanakan, tapi aku tidak memiliki cara lain untuk membalas dendam.


Aku masih berpikir alasan dia mengunciku seperti ini. Berbagai pikiran buruk datang. Menduga-duga apa yang akan dilakukannya.


Setengah jam kemudian, terdengar suara knop pintu diputar. Tak berselang lama, sang pemilik ruangan telah muncul di hadapanku.


"Kalau pusing tiduran di sofa. Jangan berdiri disitu."

__ADS_1


"Saya mau keluar." Aku melangkah melewatinya. Tujuanku hanya satu, mencapai pintu. Namun secepat kilat tanganku ditarik dan dipaksa mengikuti langkahnya. Dalam waktu sekejab, tubuhku telah berada di dekat sofa.


"Duduk."


"Saya mau keluar. Pekerjaan saya masih banyak ...."


"Duduk," perintahnya lagi dengan nada yang lebih dingin. Sorot matanya tak bisa dibantah. Membuatku harus menelan kalimat sanggahan. Tanpa sadar tubuhku mengikuti perintahnya, duduk di sofa dengan sendirinya.


Dia meletakkan dua bungkusan kresek berwarna putih di atas meja. Satu kresek terlihat berisi buah dan makanan, sementara kresek yang lain obat-obatan. Dia mengambil sesuatu dari kresek yang berisi obat-obatan.


"Buka mulutmu."


"Buat a...ppp...." Mulutku kemasukan benda pipih seukuran ruas tangan, yang kutahu setelahnya bahwa itu adalah termometer.


"Tetap seperti itu selama semenit." Sembari berkata seperti itu, dia membuka kresek berisi makanan. Didalamnya terdapat buah-buahan, nasi dan sop. Dia membuka bungkusan sop dan menuangnya ke dalam mangkok. Tak berhenti disitu. Dia kembali membuka bungkusan obat dan merobek beberapa diantaranya.


Beberapa saat kemudian, termometer itu berbunyi. Dia kembali mengalihkan perhatian padaku. Tanpa aba-aba, mengambil termometer itu dari mulutku dan melihat hasilnya.


"38,7. Begitu masih bilang tidak sakit. Makan ini."


"Saya tidak lapar. Saya ingin keluar ...."


"Saya benar-benar ...."


"Selesai makan, kita bicara," tutupnya. Dia membiarkanku duduk di sofa, sementara dia berjalan ke arah pintu dan menguncinya dari dalam. Kemudian dia mengantongi kunci itu. Dia benar-benar bisa membaca jalan pikiranku yang ingin segera kabur dari ruangan ini.


Aku pikir dia akan kembali ke sofa, nyatanya dia berjalan ke meja kerjanya yang berjarak beberapa meter. Seperti tidak terjadi apa-apa, tatapannya kembali fokus di monitor.


"Jangan melihatku. Fokus makan, kalau tidak ingin dikurung di ruang ini seharian," ancamnya tanpa melihatku. Aku memang tengah melihatnya dengan tatapan kesal dan marah. Ingin memberontak, tapi tidak bisa. Pada akhirnya, meskipun dongkol, aku makan dan meminum obat yang dia beri.


***


"Bagaimana keadaanmu?" Pria itu berjalan mendekat. Tanpa ijin, dia meletakkan telapak tangan di dahiku. Aku menepisnya dengan segera.


"Bukan urusan, Bapak."

__ADS_1


Pria itu (aku benar-benar malas menyebut namanya), memandang tangan yang kutepis dengan tatapan terluka dan kecewa. Kemudian dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Sepertinya panasmu mulai turun. Apa masih pusing?"


"Saya sudah makan dan minum obat. Apa boleh saya keluar?" Aku memilih mengabaikan pertanyaannya.


"Bisa kita bicara?"


"Ini sudah bicara," jawabku ketus. Dia melihatku dengan tatapan menilai.


"Boleh aku tahu, kenapa kamu berubah seperti ini?"


"S-saya tidak berubah. Dari dulu saya sudah seperti ini." Mendapat pertanyaan frontal seperti itu cukup membuatku terkejut dan gelagapan.


"Sikapmu akhir-akhir ini berubah. Kamu seperti sengaja menghindar. Ada apa? Apa aku ada salah?"


Ya, Anda memang bersalah! Mengapa Anda melambungkan hati saya jika kenyataannya Anda sudah punya istri?! Apa Anda tidak memikirkan hati saya?! Apa ini memang sudah karakter Anda? Suka melambungkan dan mematahkan hati wanita?!


Rasanya aku ingin berteriak seperti itu. Tapi, bila melakukannya, dia akan tahu perasaanku yang sebenarnya. Dia akan semakin besar kepala. Dan itu akan menghancurkan harga diriku.


"Sengaja menghindar? Ya, mungkin bisa dibilang seperti itu ...."


"Jadi, kamu benar-benar menghindariku? Kenapa?" Pria itu maju selangkah, membuatku terintimidasi. Tapi aku tidak boleh takut. Ini adalah waktu penentuan. Sikapku sekarang, mungkin akan menentukan sikap kami ke depannya.


"Karena .... Sudah ada hati yang harus saya jaga." Aku mundur selangkah senatural mungkin. Berusaha bersikap santai. "Terlalu akrab dengan lawan jenis, siapa pun itu, akan mematahkan hatinya."


"Untuk itu, ke depannya, saya harap kita bisa menjaga sikap dengan tidak melewati batasan-batasan yang ada. Demi menjaga perasaan pasangan kita masing-masing."


Suasana ruangan itu menjadi hening.


"Saya rasa penjelasan saya sudah cukup. Apa saya boleh keluar, sekarang?"


***


Happy Reading 🥰

__ADS_1


Satu episode hanya untuk satu scene 😅🙏 1 episode aku isi 1100-1300 kata ya. Mampuku hanya segitu 😁 Kalau suka sama ceritanya, boleh dibantu vote ya 😁✌️


NB : info update, bisa follow ig-ku ya erka_1502


__ADS_2