
Topik ini benar-benar membuat mual. Rasanya aku ingin berteriak dan menyuruhnya berhenti berbicara. Aku tidak ingin mendengar keseluruhan kisah mereka! Kupingku panas. Sementara rasa amarah dan sakit hati memenuhi dada. Aku ingin segera pergi dari tempat ini!
Suara notif pesan menyelamatkanku dari situasi tidak mengenakkan ini. Kebetulan pesan itu datang dari teman SD yang sudah lama tak berjumpa. Hanya pesan sederhana, menanyakan kabar, tapi bisa kujadikan alasan untuk keluar dari situasi ini.
"Em, Mbak .... Sepertinya saya harus pergi ...."
"Lho, mau kemana? Kalau kamu pergi, aku sendiri dong." Wajah Nadya merengut, terlihat sangat keberatan.
"Maaf Mbak, saya ada janji." Aku mulai berdiri. Nadya ikut-ikutan berdiri.
"Wah, sayang sekali. Padahal aku masih pengen ngobrol banyak." Nadya memegang tanganku. Gestur tubuhnya menunjukkan seolah-olah sudah sangat akrab. "Mau ketemuan sama siapa? Pacar?"
"Ya, bisa dibilang begitu. Maaf ya Mbak, saya duluan ya." Aku menjawab asal-asalan. Hanya karena ingin segera lepas dari situasi ini.
"Wah, ternyata kamu sudah punya pacar." Wajah Nadya terlihat sangat ceria. Dia menepuk-nepuk punggung tanganku. "Awet-awet ya kalian," ujarnya semringah. Dia menarik tanganku hingga tubuhku beringsut mendekat. Kemudian dia memelukku dan membuat gerakan cipika-cipiki.
"Sampai berjumpa lagi ya, Arsha. Aku baru pindah ke sini. Belum ada teman. Aku harap kita bisa jadi sahabat dekat. Kamu nggak keberatan 'kan?"
Hati kecilku ingin menolak. Rasanya akan sangat tidak nyaman bila menjadi dekat dengan istri pria yang disuka, namun aku juga tak bisa menolaknya. Lagi-lagi adab kesopanan mencegahku untuk berbuat sesuka hati.
"Ya Mbak, tentu saja," cicitku pasrah. Kemudian kami berbasa-basi sejenak sebelum akhirnya berpisah.
***
Aku menghirup udara segar sebanyak-banyaknya. Entah mengapa, bisa lepas dari mereka membuatku lega luar biasa. Berbagai macam emosi berkecamuk di dalam dada.
Hujan yang mengguyur dengan tiba-tiba semakin menambah suramnya suasana. Layaknya di sebuah film-film drama, sang pemeran utama kehujanan sembari menyusuri jalanan.
__ADS_1
Entah mengapa tak ada niat untuk berteduh. Aku menikmati segala rasa ini. Membaurnya dengan hujan, berharap segala rasa ini menguap seketika.
"Hahahaha!! Hahahaha!! Hahahaha!!" Ledakan emosi ini menjadi sebuah tawa ironi menyedihkan yang tak bisa terkontrol. Aku tak bisa menghentikan diriku untuk menertawakan kebodohanku. Aku mengabaikan orang-orang yang melihat dengan aneh.
"Bodoh!! Bodoh!! Dasar gadis bodoh!!" Aku memaki-maki diri sendiri. Semua ucapan Nadya berputar-putar di kepala. Semua menjadi masuk akal sekarang.
Ternyata semua kebaikan dan perhatian yang dilakukannya itu tak berarti apa-apa. Dia hanya ingin membuatku betah dan tidak resign. Dia tidak ingin kerepotan mencari pegawai baru!! Bodohnya aku menafsirkannya berbeda!
Selama ini aku selalu memandangnya sebagai seorang pria gentleman. Menghargai dan menghormati wanita. Tidak disangka, dibalik sikapnya yang kaku, dingin dan perfeksionis, tersembunyi jiwa-jiwa buaya darat dan tukang tebar pesona!!
"Hahaha! Apa?! Membuat bengkak?! Hei Pak! Tidak bisakah Anda menunggu halal dulu?! Sebegitu tidak sabarnya Anda, sampai membuat pacar Anda hamil lebih dulu hanya karena ingin cepat-cepat menikah?! Dasar br*ngsek!! Mesum!! Tukang PHP!! Penjahat kel*min!!" Segala bentuk macam makian keluar dari mulut. Bila Ayah dan Ibu mendengarku berbicara seperti ini, mereka pasti akan pingsan.
Tertawa yang disertai dengan tangis. Airmata yang larut dalam derai hujan. Sakit. Benar-benar sakit. Andaikan bisa, aku ingin mengeluarkan segala sesuatu yang membuat sakit dari tubuhku ini. Mungkin dengan seperti itu, aku akan baik-baik saja.
Setidaknya, malam ini aku mendapatkan fakta-fakta baru tentang dia. Dia tidak seperfect yang aku kira. Semua sikapnya ada tujuannya, tak ada yang tulus. Poin negatifnya bertambah. Hal ini akan membuatku semakin mudah untuk melupakannya.
Aku sudah memutuskan untuk bertahan di pekerjaan ini. Meskipun ke depannya mungkin akan lebih sulit, aku tidak boleh menyerah.
***
Flu, dalam kamusku bukan termasuk kategori penyakit berat yang mengharuskan penderitanya beristirahat dan bergelung di kasur yang hangat. Untuk itu, aku menghela badan. Memaksa untuk bangkit dan bekerja seperti biasa.
Ada untungnya bekerja di bagian back office. Setidaknya aku tidak perlu terlalu mengutamakan penampilan. Di kondisi tidak enak badan seperti ini, keinginan untuk berdandan serasa hilang. Aku memutuskan untuk memakai setelan berwarna navy dan membalutnya dengan jaket.
Hari ini aku memutuskan untuk berjalan kaki. Kondisi kantor masih lengang ketika aku datang. Hanya terdapat security dan pramubakti. Aku langsung naik ke lantai dua dan menghidupkan komputer. AC sengaja tidak kunyalakan, karena takut gejala flu akan semakin parah.
Aku mulai fokus pada pekerjaan. Beberapa menit kemudian, satu per satu staff mulai berdatangan. Terlalu fokus pada pekerjaan, membuatku tak begitu memperhatikan siapa saja yang datang. Hingga akhirnya, dering table phone membuatku terkejut.
__ADS_1
Di monitor tertera angka 201 sedang memanggil. Itu artinya, Paduka Head Of Operation Sok Kaku Tapi Mesum telah datang. Rasanya aku ingin membanting gagang telepon itu dan berteriak padanya, "Jangan hubungi aku lagi!" Yah, tentu saja itu hanya ada dibayanganku saja. Aku hanyalah seorang staf training yang akan selalu patuh pada atasan, sehingga sebelum dering ketiga, aku sudah mengangkat telepon itu.
"Dengan Arsha bagian back office. Ada yang bisa dibantu?"
"Ke ruanganku," balas suara dingin di ujung telepon.
"Baik, Bapak." Hah, aku ingin menghentakkan kaki. Mengapa aku harus ke ruangannya sepagi ini?! Bisakah dia tidak menggangguku dan fokus dengan istri dan pekerjaannya?!
Dengan bersungut-sungut dan hati dongkol, aku pergi ke ruangan yang telah puluhan kali kumasuki itu. Mengetuk pintunya secara perlahan hingga terdengar sahutan dari dalam.
"Ada apa, Pak?" Jujur saja, aku masih tidak berani menatap matanya. Aku takut dengan perasaanku sendiri. Meskipun pikiranku sudah mulai membencinya, tapi aku tidak tahu dengan hatiku.
"Duduk." Suaranya terdengar ketus. Aku jadi takut. Tanpa menunggu diperintah dua kali, aku langsung duduk di kursi tepat di depannya. Tentu saja masih dengan wajah menunduk.
Pikiranku mulai berkelana dan bertanya-tanya. Ada apa ini? Mengapa dia menjadi sedingin ini? Bukankah harusnya aku yang bersikap seperti ini? Apa ada kesalahan yang telah kulakukan? Apa dia mendengar ketika aku sedang memaki-maki?
"Pulang jam berapa tadi malam?" Khayalanku terputus mendengar pertanyaan itu. Nada suaranya rendah dan dingin. Aku memberanikan diri untuk mengintip wajahnya sekilas. Wajahnya terlihat sangat mendung dan menakutkan. Sorot mata dingin dengan kening mengerut, membuat kedua alisnya itu hampir menyatu. Bibir terkatup rapat dengan rahang yang mengeras. Dia marah?
"Tidak terlalu malam, Pak ...."
"Jam berapa tepatnya?!" Nada suaranya meninggi satu oktaf. "Aku dengar dari Nadya, kamu janjian sama pacarmu?! Anak mana? Pekerjaan apa? Ayah ibu sudah tahu?!"
Kali ini aku menatap matanya. Pertanyaannya membuatku terperangah, sehingga rasa takut yang sempat ada kini telah hilang. Entah mengapa rasa marah menguasaiku sehingga aku berani membantahnya.
"Bila Bapak memanggil saya hanya untuk menanyakan masalah pribadi, saya keberatan untuk menjawab. Kalau tidak ada lagi yang perlu disampaikan, saya permisi dulu." Aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Sebelum tanganku mencapai gagang pintu, sebuah tangan kekar menarik lenganku. Menyentaknya hingga tubuhku berhadapan dengan sang pemilik tangan.
"Aku belum selesai bicara!"
__ADS_1
***
Happy Reading 🥰