
"Dari awal aku tak pernah bercanda kalau menyangkut kamu, Nay. Take your time. Aku bersedia menjadi tamengmu. Gunakan aku sesukamu."
Ucapan Saka terngiang-ngiang di kepala. Ada perasaan bersalah yang menyergap. Aku seperti tengah memanfaatkan Saka demi kepentinganku sendiri. Padahal aku tak bermaksud seperti itu.
"Jangan merasa bersalah. Kamu tak pernah memanfaatkanku. Aku yang mengambil kesempatan." Saka seperti bisa membaca jalan pikiran. "Tidur, Nay. Perjalanan kita masih panjang." Dia mengkusuk-kusuk kepalaku. Sikapnya itu semakin membuatku merasa bersalah.
Maaf ya, Saka. Maaf bila aku terlihat memanfaatkanmu. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri. Aku akan mempertimbangkanmu dengan serius. Aku tak 'kan main-main. Aku akan berusaha untuk hubungan ini.
Saka memang menyuruhku untuk tidur, namun mata ini tak mampu terpejam. Pikiranku berputar-putar. Bagaimana caranya memutus rantai hubungan tak sehat ini?
Haruskah aku menghadap Pak Marga dan meminta untuk pindah divisi? Hah, siapalah aku? Aku hanya anak baru yang status kepegawaiannya juga belum jelas. Kalau aku meminta seperti itu, pasti akan langsung ditolak. Tapi, apa selamanya aku akan berada di bawah divisi dia? Kapan rantai ini akan terputus kalau seperti ini terus?
Perjalanan dari Denpasar ke Jember ditempuh dalam kurun waktu tujuh jam. Saka hanya beristirahat pada saat di atas kapal saja. Membelikanku pop mie dan teh panas. Setelah berada di darat, dia kembali memacu mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Aku memperhatikan wajahnya secara diam-diam. Raut wajahnya terlihat tegang. Keningnya berkerut. Cekalan tangannya di kemudi mengetat, menarik otot-ototnya terlihat. Pun begitu, dia selalu tersenyum dan menenangkan ketika berbicara padaku. Demi membuatku nyaman dan tak merasa bersalah, dia menyembunyikan perasaannya. Sungguh sikapnya itu semakin membuatku merasa bersalah.
Dari Bali, Saka langsung membawaku bertolak ke Jember. Bukannya mengantar ke kontrakan, dia langsung membawaku pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, Ayah dan Ibu menyambut kami dengan bingung. Aku berpamitan berangkat ke Bali dan pulang Senin dini hari. Sementara sekarang masih hari Sabtu pagi. Wajar saja kalau mereka kebingungan.
"Aku akan meninggalkanmu di sini. Jernihkan pikiranmu. Besok malam aku jemput."
"Nggak usah dijemput. Aku bisa ke kontrakan sendiri."
"Motormu di kontrakan. Ingat?"
"Iya juga ya." Aku menggaruk kepala yang tidak gatal.
__ADS_1
"Istirahat sana. Aku tau tadi kamu tidurnya nggak nyenyak."
"Kamu juga istirahat. Kamu pasti capek. Nyetir non stop."
"Cie, mulai perhatian. Kamu mulai suka aku 'kan Nay?" Saka mencoel-coel bahuku dengan ujung telunjuknya. Aku mengibaskan tangannya.
"Ishh! Apaan sih! Sana pulang." Melihatku sewot, dia tertawa lebar. Saka yang kukenal akhirnya kembali.
***
Sepeninggalnya Saka, pikiranku kembali berkutat ke hal itu-itu saja. Di sepanjang perjalanan pulang, aku sengaja mematikan ponsel karena aku takut dia akan menghubungiku. Setelah berada di rumah, aku kembali mengaktifkan ponsel.
Begitu paketan datanya diaktifkan, panggilan dan ratusan chat masuk langsung bertumpuk. Chat itu dari beberapa grup kantor sementara chat yang lain dari Saka dan dia.
Aku melihat ada 23 pesan dan 79 panggilan darinya. Belum sempat tangan ini membuka chat, ada panggilan masuk. Nama kontak pria itu muncul di layar.
Pesan beruntun kembali masuk.
"Arsha, angkat telponnya. Kamu dimana?"
"Arsha? Angkat telponnya, atau aku umumkan ke semua rombongan kalau kamu hilang."
Aku ingin membalas, "Ya umumkan saja. Toh nantinya Anda sendiri yang akan malu. Saya sudah ijin ke Pak Marga kalau pulang lebih dulu." Namun hal itu tak kulakukan. Aku tak ingin ada spekulasi yang berkembang mengenai hubungan kami (atasan bawahan) yang retak di kalangan orang-orang kantor.
Alih-alih mereject, aku menggeser tombol hijau sehingga sedetik kemudian panggilan itu pun tersambung.
"Kamu dimana?" Suara itu sangat berat. Terlampau berat. Dia tidak berteriak. Justru nada suaranya sangat rendah. Namun aku yakin satu hal, dia sedang menahan amarahnya.
__ADS_1
"Di rumah." Panggilan suara itu tiba-tiba berubah menjadi panggilan video. Yang benar saja. Ngapain dia sekepo ini?! Secara otomatis tanganku langsung merejectnya.
"Angkat. Aku hanya ingin memastikan, apa kamu benar-benar di rumah atau di tempat lain." Gemas juga aku membaca chatnya. Kenapa dia jadi protektif melebihi orangtuaku? Padahal juga bukan apa-apaku.
"Kamu masih jadi tanggung jawabku. Angkat."
Membalas panggilan video dia sama halnya dengan kembali mengulang hal lama. Aku takut kembali lemah. Sehingga alih-alih mengangkatnya, aku justru memfoto kamar dan ruang tamu. Tak lupa aku juga mengaktifkan fitur tanggal dan waktu untuk meyakinkannya. Kemudian aku mengirim foto itu.
"Aku ingin melihatmu," balasnya tak puas. Hah, aku jadi gregetan sama orang ini.
"Saya benar-benar sudah di rumah. Saya baik-baik saja. Saya mau istirahat dulu." Kukirim pesan balasan dan kembali mematikan ponsel.
***
Hari Senin datang begitu cepat. Aku benci hari Senin, sekarang kebencianku bertambah menjadi berkali-kali lipat. Membayangkan harus bertemu dengannya dan menghadapi sikapnya yang tak bisa kuprediksi membuatku kepikiran.
Seperti biasa, aku datang lebih awal dibanding yang lain. Kantor masih sepi. Hanya ada security dan office boy yang tengah membersihkan kantor.
Begitu datang, aku langsung naik ke lantai dua dan duduk di kursiku. Kunyalakan PC dan monitor. Kemudian mulai mengeluarkan berkas-berkas yang belum selesai dari dalam laci. Menata pekerjaan yang akan kukerjakan hari ini.
Waktu menunjukkan pukul 07.33 WIB ketika panggilan morning briefing datang. Aku segera turun ke lantai pertama. Biasanya yang memimpin morbrief Pak Marga atau Pak Armand. Namun keduanya tak terlihat saat ini sehingga yang memimpin adalah Pak Haidar.
Jujur saja, aku tak bisa konsentrasi. Aneh sekali aku ini. Kenapa ketika orangnya ada aku begitu enggan dan benci namun ketika orangnya tak ada justru kucari? Sudah gilakah?
"Kalau tidak ada saran dan masukan, briefing diakhiri. Wassalamu'alaikum warahmatullahi waa barokatuh." Pak Haidar mengakhiri briefing tak kurang dari sepuluh menit.
Aku bersiap untuk naik ke lantai dua ketika tanganku digamit seseorang. Aku sudah ketar-ketir, takut yang menggamit tanganku Pak Armand. Bisa kubayangkan bagaimana reaksi orang-orang nantinya. Tapi syukurlah, itu bukan Pak Armand.
__ADS_1
***