
Malam itu berisi perdebatan dengan Saka. Bahkan ketika sampai dikontrakan sekalipun, perdebatan itu tak kunjung selesai. Pada akhirnya, perdebatan diakhiri dengan sebuah perjanjian. Kalau dalam jangka waktu tiga bulan Saka belum mampu mengubah perasaanku, maka kami akan berteman seperti biasa.
"Puas?"
"Belum puas. Maunya sih nggak ada perjanjian-perjanjian. Jalani apa adanya."
"Lagian kamu juga aneh. Tiba-tiba datang ngajak pacaran. Kamu suka sama aku?"
"Kalau aku jawab 'iya', apa kamu bakal percaya?"
"Nggak."
"Yaudah. Anggep aja nggak. Lagian apa ruginya sih pacaran sama aku, Nay?"
"Aku single. Belum punya istri yang hamil. Sudah punya kerjaan. Wajah nggak jelek-jelek amat. Tubuh lumayan tinggi. Apalagi yang kurang?" Saka berpose menaruh dua jari dibawah dagunya. Senyum tengilnya merekah. Aku tahu diantara kalimatnya terselip sindiran untuk Pak Armand. Aku berusaha mengabaikan.
"Kurang debaran!"
"Aku sudah berhasil membuatmu berdebar. Ingat?"
"Itu namanya curang. Tau ah, kesel banget kalau ngomong sama kamu nih. Nggak ada habisnya. Selalu saja ada jawaban. Dah sana pulang. Besok kita masih kerja. Hush, hush."
"Oke pacar. Aku akan pulang. Cium dulu." Saka memonyongkan bibir dan memejamkan mata. Sumpah ya, andaikan ada p*antat wajan yang menghitam, pasti sudah kusodorkan di bibirnya. Gemas sekali sama kelakuan pria satu ini. Tentara tapi nggak ada jaim-jaimnya.
"Cepat pulang deh. Sebelum kulempar helm." Candaan kasar seperti ini sudah biasa kami lakukan. Dan satu sama lain tidak ada yang tersinggung.
__ADS_1
"Siap! Laksanakan!" Saka membuat gerakan hormat. "Kunci pintu rapat-rapat. Besok aku pasangin teralis untuk jendela dan pintu ...."
"Hah? Buat apa? Ini rumah orang, nggak bisa dipasangin ini-itu sesuka hati."
"Yang punya pasti senang Nay. Sana masuk. Kunci pintunya."
"Sana pulang."
"Aku pulang kalau sudah lihat kamu masuk dan kunci pintu."
"Iya, iya. Dah. Makasih ya."
"Iya, sama-sama Pacar."
***
Saka menepati janji. Setelah melihatku masuk dan menutup pintu, dia menggeber motornya pergi. Malam ini terasa sangat melelahkan. Banyak sekali kejadian yang terjadi.
Kilatan ingatan mulai bertebaran. Dari kegilaan Saka melamar, kepergian Pak Armand dan permintaan Saka untuk menjadi pacar. Dari hal gila itu semua, yang kuingat hanya respon Pak Armand.
Mengapa dia pergi? Apa dia tahu kalau aku dan Saka hanya pura-pura hingga ia terlalu muak untuk melihat drama di depan mata? Apakah aku bisa mempercayai Saka, dengan menggunakan cincin ini akan membuatnya percaya?
Pak, tolong jangan bersikap aneh. Tolong jangan membuatku bingung. Bersikaplah layaknya seorang pria yang telah beristri. Aku benar-benar akan berusaha melupakanmu, Pak.
***
__ADS_1
Pagi datang begitu cepat. Aku sudah was-was akan mendapat perlakuan seperti apa. Aku sudah menyiapkan jawaban-jawaban diplomatis bila dia memanggil dan menanyakan tentang kelanjutan kemarin malam.
Nyatanya, bukannya dikepoin, aku malah dicuekin. Seharian dia berada di dalam ruangannya. Tidak menelepon atau menyuruhku untuk melakukan ini-itu. Sebenarnya ini hal yang bagus. Bukankah aku ingin dia tidak ikut campur dengan urusanku?
Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mari selesaikan semua pekerjaan dan pulang. Aku yakin lambat laun akan terbiasa dan melupakan semua rasa yang ada padanya.
***
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul lima sore. Aku membereskan meja dan bersiap untuk pulang. Beberapa saat kemudian, telepon meja berdering. Aku terkejut. Aku pikir panggilan dari HO, ternyata dari BM.
"Assalamu'alaikum, selamat sore dengan Arsha bagian back office ada yang bisa dibantu?"
"Arsha, tolong kumpulkan semua karyawan. Ada yang ingin aku sampaikan," jawab suara di ujung telepon.
"Baik, Pak." Setelahnya, aku mulai menghubungi para staff dan kami berkumpul di banking hall.
"Selama setahun ini kita sudah bekerja keras. Perusahaan sangat mengapresiasi kinerja kalian semua. Untuk itu, kita akan mengadakan family gathering ke Bali sebagai salah satu bentuk reward perusahaan. Kalian boleh membawa keluarga, anak, istri, suami. Bebas!"
Hampir semua karyawan berteriak. Aku sih senang-senang saja, jalan-jalan tapi perusahaan yang membayar kebutuhan. Siapa yang tidak senang .... Kenapa aku merasa ada yang menatapku? Aku mengedarkan pandang ke seluruh ruang, dan benar saja. Di pojok ruang, berdiri terpisah dari yang lain, pria yang seharian mengacuhkanku itu tengah menatapku secara intens.
***
Happy Reading 🥰
NB : Ceritanya masih muter-muter ya 😂 yang sabar aja nunggunya ya gaes 😘
__ADS_1