Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 64 - POV Armand


__ADS_3

Beradaptasi dengan pekerjaan ini tidaklah sulit. Boleh dikatakan, pekerjaan ini sangat jauh berbeda dengan pekerjaan sebelumnya. Bila sebelumnya aku menggeluti dunia konstruksi, perencanaan dan gambar tender untuk lelang proyek, kali ini yang kugeluti di bidang keuangan.


Tak kurang dari sehari, aku memahami garis besar pekerjaan ini. Pekerjaan yang cukup mudah. Hanya membutuhkan kehati-hatian dan kecakapan dalam pelayanan agar tak terjadi complain.


Tidak ada saling sikut karena memperebutkan proyek besar. Mungkin karena bagian operasional, sehingga yang dikerjakan lebih banyak entry data nasabah dan fokus di pelayanan.


Tiga bulan berada di Jember, sudah tiga kali pergantian back office. Harapanku back office kali ini lebih tahan banting. Cukup melelahkan bila harus mengajari dari awal sesuatu yang diulang-ulang.


Arsha Nayyara Usman, pernah bertemu dimana? Kenapa wajahnya sangat familiar? Biasanya aku memiliki ingatan yang kuat tentang beberapa hal, tapi ingatan tentang gadis ini sangat buram.


Sembari menatap langit-langit kamar, aku berusaha mengingat-ingat calon back officeku. Tak ada ingatan yang bisa kugali, hingga lelap pun datang.


***

__ADS_1


Aku menyingkap tirai sedikit untuk memperhatikannya dengan lebih detail. Dari biodatanya, Arsha berumur 22 tahun. Tapi bila melihat perawakannya, dia seperti gadis SMP. Tubuhnya kecil dan mungil. Rambut pendek membuatnya terlihat lebih muda dari usianya.


Sepintas melihat Arsha, aku sudah bisa menilai kepribadiannya. Gadis ini sebenarnya pintar, namun tak percaya diri. Polos dan mudah terpengaruh. Daya khayalnya tinggi dan ceroboh. Namun dibalik kelemahannya, terdapat jiwa pekerja keras yang tak mudah menyerah.


Gadis ini hanya butuh dibimbing. Nantinya dia akan berkembang pesat. Dia hanya tak menyadari potensinya saja.


Pandanganku terusik begitu melihat kepala tim lending mendekati back officeku. Haidar memang belum menikah, namun dia terkenal pemberi harapan dan perusak wanita. Back office sebelumnya resign karena bermasalah dengan Haidar. Aku tak ingin back officeku kali ini mengalami hal yang sama. Untuk itu aku menyela percakapan mereka dan mengusir Haidar melalui tatapan.


***


Setelah seharian mengajari Arsha, tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Tanpa sadar waktu sudah malam. Aku menyelesaikan semua pekerjaan dan bersiap untuk pulang.


Tak ada maksud apa-apa, mendengar rumahnya jauh, aku berniat untuk mengantarnya. Sembari menunggunya selesai beberes, aku turun ke lantai pertama untuk memanaskan mobil.

__ADS_1


Di halaman parkir hanya tersisa mobilku dan sebuah pick up. Di samping pick up terlihat seorang pria dan wanita paruh baya. Kupikir nasabah, jadi aku menghampiri untuk menanyakan keperluannya. Akan tetapi, setelah mendekat, aku mengenali keduanya.


"Pak, Bu ...." Aku mengambil langkah lebar untuk mempersempit jarak. Begitu jarak tak kurang dari satu meter, aku mengambil tangan pria itu dan membawanya ke kening. Kebiasaan yang kulakukan pada saat kuliah dulu ketika bertemu dengan beliau.


Keduanya menatapku penuh tanda tanya, namun pria itu tak menarik tangannya dari genggamanku. Pertemuan ini sangat tak disangka.


"Siapa?" tanya pria itu sembari menatapku penuh tanda tanya.


"Saya Armand, teman kuliah almarhum di Surabaya." Pupil mata itu melebar, mulut perlahan membuka. Ada genangan di mata tua itu yang ditahan untuk keluar. Pria itu menyeka sudut matanya yang menggenang, kemudian menepuk-nepuk bahuku.


"Aku lupa kamu siapa. Tapi, terima kasih karena masih mengingat anak kami."


***

__ADS_1


__ADS_2