
"Arsha, sebenarnya aku dan Abi tak pernah menikah. Jangankan menikah, dia melihatku sebagai wanita saja tak pernah."
DEG
Ucapan Nadya berhasil membuat jantung Arsha berdegup kencang. Matanya membulat dengan bibir terbuka sempurna. Otaknya berkejar-kejaran. Menuntut penjelasan atas pernyataan yang terucap. Arsha takut untuk berspekulasi. Dia takut untuk berekspektasi terlalu tinggi. Pernyataan atas status hubungan mereka membuat hormon kebahagiannya berloncatan keluar, namun hal itu tak bertahan lama. Mungkin mereka tidak menikah, tapi perut besar Nadya menjadi buktinya bahwa hubungan keduanya tak sesederhana itu.
Nadya bisa melihat tatapan mata Arsha yang tertuju pada perutnya. Dia mengelus perut buncitnya.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku dan Abi tak pernah menikah. Abi tak pernah melihatku sebagai wanita. Apa yang kukatakan padamu selama ini hanya kebohongan belaka. Hal itu kulakukan karena marah dan cemburu. Janin ini ... bukan miliknya. Aku tak memiliki hubungan apa-apa dengan Abi. Maafkan aku Arsha ...." Tangis Nadya pun pecah. Dia menangis tersedu-sedu sembari merangkum tangan Arsha. Tetesan air mata membasahi kedua tangan mereka.
__ADS_1
Tubuh Arsha bergetar hebat. Semua emosi berkecamuk dan campur aduk. Dia tak bisa menggambarkan apa yang dirasakannya. Ada perasaan bahagia luar biasa karena mengetahui pria yang sangat dicintainya selama ini ternyata belum memiliki ikatan apapun, namun juga terselip rasa kesal karena banyaknya hal menyedihkan yang dilaluinya hanya karena kebohongan satu orang.
"Maaf .... Maafkan aku Arsha .... Maaf ...." Arsha bergeming. Dia bingung harus melakukan apa-apa. Apa yang dilakukan Nadya terlalu menyakitkan. Namun bila Nadya tak mengatakannya, dia tak 'kan pernah tahu dengan kesalahpahaman ini.
"Aku mengaku kalah.... Abi sangat mencintaimu, Arsha. Selama mengenalnya, belum pernah aku melihatnya seperti itu. Ketika tahu kamu masih ada di dalam, dia langsung masuk. Dia tidak peduli dengan api yang semakin besar. Dia jarang peduli dengan orang lain, tapi menyangkut dirimu, dia melakukan segalanya ...."
"J-jadi y-yang bawa aku keluar ...." Arsha menggantung kalimatnya. Kedua tangan menutup mulut, matanya melebar mengetahui kenyataan yang baru saja ia dengar. Arsha pikir, dia lah yang datang untuk membawa Armand keluar, namun nyatanya sebaliknya. Justru Armand 'lah yang telah menyelamatkannya. Mata Arsha memburam.
"M-maaf ya Arsha .... Aku telah menjadi penghalang kalian. Aku sadar kalian saling mencintai, tapi karena keegoisanku membuat kalian tak bisa bersatu. Aku tak berharap kamu bisa memaafkanku. Kesalahanku sangat besar. Aku tak punya muka untuk bertemu dengan Abi maupun keluarga. Ampuni aku, Arsha. Aku janji tidak akan pernah muncul di depan kalian lagi. Aku akan pergi dari hidup kalian." Wajah Nadya sudah kusut masai dipenuhi air mata. Wajah yang dipenuhi dengan penyesalan. Arsha bukan tipe pendendam. Melihat Nadya seperti itu membuatnya luluh. Ia balik menangkup tangan Nadya, namun sebelum itu suara ketukan pintu menjeda mereka. Keduanya langsung menoleh ke asal suara.
__ADS_1
Seorang perawat memasuki ruangan.
"Dengan Ibu Arsha?" Perawat itu berbicara sembari menatap keduanya.
"S-saya!" Arsha secara spontan mengangkat tangannya. "Ada apa, Sus?"
"Pasien atas nama Armand Abimanyu sudah sadar. Dan beliau ingin bertemu dengan Ibu Arsha," ucap perawat sembari tersenyum.
***
__ADS_1
Happy Reading 🥰