Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 60 - POV Armand


__ADS_3

"Jadi, kamu mau pilih yang mana?"


Ada belasan berkas lamaran pekerja yang dibentangkan di meja. Berkas itu merupakan hasil sortasi panjang setelah menyingkirkan ratusan berkas yang sudah masuk.


"Ini." Tanpa ragu aku menunjuk CV yang di pojok kiri atas tertera foto seorang gadis berambut pendek.


"Gadis tadi? Yakin mau pilih dia?" Arif Marga memegang dagu sembari melihatku dengan sikap skeptis.


Aku memilih tak menjawab dan membereskan berkas-berkas yang lain. Hanya menyisakan satu berkas itu.


"Armand, kamu yakin mau pilih dia?"


"Ya."


"Dia fresh graduate. Hanya lulusan universitas lokal. Back ground keluarganya juga biasa."


"Malah bagus. Dia akan lebih tahan untuk ditempa."


"Sepertinya dia gadis yang ceroboh. Kamu akan kesulitan bila memilihnya. Pilih yang lain saja. Ini, ada yang lulusan S2. Ada juga yang lulusan universitas terkenal. IPK-nya juga bagus." Arif Marga kembali mengambil beberapa berkas yang sudah kubereskan dan membentangkan berkas-berkas itu di depanku.


Aku mengambil satu berkas yang kupilih. "Saya akan bertanggung-jawab dengan pilihan saya."


Arif Marga, branch manager kantor ini, menghela napas. Dia menatap penuh ketidaksetujuan. Mulut membuka, kemudian menutup. Ingin protes, namun tak melanjutkan. Pada akhirnya dia mengalah.


"Ya sudahlah. Dia akan jadi anak buahmu. Atur dia. Jangan sampai membuat kesalahan." Lelaki paruh baya itu memutar badan dan duduk di kursinya. Pandangan matanya menelisik.


"Apa ada alasan khusus kenapa memilihnya?"


"Tidak ada."


"Yakin?" Pria paruh baya itu membenahi kacamatanya. Tatapannya masih menelisik.


"Saya bawa berkas ini." Aku mengacungkan berkas di tangan dan berbalik tanpa ada keinginan untuk menjawab pertanyaannya.


***


Arsha Nayyara Usman. Melihat foto di CV-nya sangat familiar. Seperti pernah melihat, tapi dimana? Apa kami pernah bertemu sebelumnya?


Tak mau terlalu banyak menebak-nebak, aku menekan tombol interkom. Detik berikutnya terdengar nada sambung dan suara sahutan di ujung sana.

__ADS_1


"Selamat sore, bank J**** dengan Gita, bagian HRD ada yang bisa dibantu?"


"Gita, cek email. Aku kirim data staff baru. Kamu buatkan kontraknya dan suruh dia datang besok."


"Baik Pak."


Aku mematikan interkom dan memijit hidung. Tumpukan berkas di meja semakin hari semakin menggunung. Meja kerjaku layaknya kapal pecah. Semua pekerjaan bertumpuk menjadi satu.


Setidaknya hari ini aku mendapat staff baru yang akan membantu menyelesaikan tumpukan pekerjaan ini. Harapanku, staff kali ini akan lebih tahan banting dibanding sebelumnya.


Alasanku memilih gadis ini, selain karena wajahnya familiar juga karena latar belakang pendidikan dan keluarga. Tidak bermaksud menyepelekan, tapi biasanya gadis seperti ini akan kuat dengan tekanan pekerjaan. Tidak mudah menyerah, apalagi kebanyakan drama.


Tiga gadis sebelumnya bisa menjadi contoh. Universitas bagus, gelar S2 tak menjamin membuat mereka loyal terhadap perusahaan. Begitu ada masalah sedikit atau mendapat tawaran dari perusahaan lain, langsung resign. Yang terakhir justru resign karena masalah asmara.


Ada berita yang beredar, mereka juga tidak betah dengan sikapku. Menurut mereka, aku terlalu kaku dan perfeksionis. Lelah bila harus mencari staff lagi. Mungkin ada baiknya bila nanti aku mencoba untuk merubah sikap.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat ketika zoom meeting itu diakhiri. Aku membereskan beberapa pekerjaan sebelum turun ke lantai pertama. Seperti biasa, kondisi kantor sudah lengang.


"Pulang Pak?"


"Hem."


"Ya, lakukan."


Abdul naik ke lantai dua. Memadamkan lampu dan mengunci setiap ruang. Dia juga memastikan ruang server tidak ada kendala. Setelahnya dia turun ke lantai pertama. Mematikan aliran PDAM dan memastikan alarm berfungsi normal. Kemudian dia menutup pintu teralis dan memencet kode.


"Sudah dikunci semua?" tanyaku setelah Abdul menyerahkan kunci.


"Sudah, Pak."


"Terima kasih." Aku menepuk pundak Abdul dan menyelipkan tiga lembar ratusan ke tangannya. "Untuk anakmu."


"Eh, t-tidak perlu, Pak."


"Jangan ditolak." Aku langsung masuk ke mobil dan menghidupkan mesin. Memacu dan bergabung dengan kendaraan lain di jalan raya.


***

__ADS_1


Tak banyak yang bisa dilakukan di kota kecil ini. Begitu selesai membeli makanan, aku langsung membawanya ke apartemen. Satu-satunya apartemen yang berada di kota Jember.


Apartemen itu letaknya cukup strategis. Dekat dengan kampus negeri sehingga menumbuhkan perekonomian di sekitarnya. Di sekeliling apartemen dipenuhi dengan resto maupun lapak penjual makanan. Mencari makanan di sini sangat mudah dan murah. Bila dibandingkan dengan Surabaya, biaya hidup di Jember tergolong murah.


Aku menenteng sebungkus nasi goreng dan menaiki lift. Apartemen itu cukup lengang. Sepertinya konsep hunian berupa rumah susun ini kurang banyak peminatnya di Jember. Masyarakat masih lebih memilih konsep rumah secara konvensional, sehingga banyak pemilik apartemen yang menyewakan apartemennya secara harian maupun bulanan.


Kalau aku pribadi, lebih suka tinggal di apartemen. Selain lebih privasi, aku juga tidak perlu memikirkan berbasa-basi dengan penghuni kanan kiri.


***


"Bi, udah nyampe?"


"Sudah."


"Lagi apa?"


"Makan."


"Makan apa?"


"Nasgor."


"Pasti pedes lagi ya?"


"Hem."


"Mau apa habis ini?"


"Ngegame."


"Kamu masih kesel ya, Bi?"


"Nggak juga."


"Kalau nggak kesel, pulang dong, Bi. Papa sakit lho."


"Ada kamu yang jaga. Sudah dulu ya Nad. Aku lanjut dulu."


Aku mematikan panggilan suara itu. Selera makan pun langsung hilang. Nasi goreng panas dengan irisan cabe di atasnya tak lagi menarik minat.

__ADS_1


Memang tidak dianjurkan menerima panggilan di saat makan. Apalagi bila si penelepon yang menjadi faktor X. Wanita itu bernama Nadya Yasmin. Salah satu alasan aku terdampar di kota kecil ini. Bermula dari kejadian tiga bulan yang lalu.


***


__ADS_2