Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 38 - Luapkan & Lupakan!!


__ADS_3

Tapi nyatanya, jawaban itu tak seperti yang kubayangkan. Hanya terdiri dari beberapa suku kata, namun mampu menjungkirbalikkan duniaku begitu saja.


"Oh, dari Nadya ya?" Jawaban yang sangat santai. Tidak ada mimik wajah terkejut atau merasa bersalah. Seolah-olah menerima bekal dari wanita itu adalah hal yang sangat lumrah.


Baiklah. Cukup sudah. Aku sudah menemukan jawabannya. Wanita itu memang istrinya. Yang perlu kulakukan saat ini adalah keluar dari ruangan ini secepat mungkin, sebelum mempermalukan diri sendiri.


Kedua tanganku gemetar. Kuremat tangan dengan kuat sampai buku-buku jari memutih. Luapan emosi berkecamuk. Berlomba-lomba untuk keluar dan menunjukkan eksistensi diri. Aku menahan mulut ini untuk tidak berteriak dan mempertanyakan perlakuannya selama ini.


Kamu kuat, Arsha!! Balik badan dan segera keluar dari ruangan ini sekarang juga!!


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak." Aku membungkukkan tubuh dan mulai berjalan mundur.


"Kamu dari BI?"


"Iya."


"Dapat warkat berapa?"


"Belum saya hitung."


"Maaf ya, chatmu lupa kubalas. Aku nggak sempat."


"Iya Pak, tidak apa-apa. Saya permisi dulu ...."


"Mau kemana? Nggak duduk dulu?"


"Masih ada pekerjaan yang belum selesai. Saya permisi dulu, Pak." Tanpa menunggu balasan, aku langsung berbalik dan membuka pintu. Pergi dari ruang itu secepat yang aku bisa.


Air mata sudah menggenang. Bersiap untuk tumpah ruah layaknya air bah. Aku sudah tak mampu membendungnya lagi, sehingga tanpa sadar langkah ini membawaku ke kamar kecil. Membuka pintu itu dan menguncinya rapat-rapat. Mengurung diri. Bersembunyi dari wajah-wajah yang ingin kuhindari.

__ADS_1


Sakit. Serasa ada lubang besar di dada ini. Sesak. Seperti terkena himpitan batu besar. Perih. Seolah terkena irisan sembilu yang menyayat-nyayat hati. Aku hancur.


Aku sudah berusaha menahannya. Mencoba untuk bersikap biasa-biasa saja. Namun, ketika melihat wajahnya, mengapa rasa sakit ini terasa begitu nyata? Sebesar itukah rasa sukaku padanya? Sejak kapan rasa suka ini berkembang menjadi rasa sayang dan cinta? Mengapa mencintainya terasa begitu menyakitkan?


Aku membekap mulut dengan tangan kanan. Mencegah isakan itu terdengar sampai keluar. Sementara tangan kiri memukul-mukul dada yang terasa sesak dan perih. Kenapa sangat menyakitkan? Aku merasa hancur luar dan dalam. Ini perasaan yang baru pertama kali kurasakan. Aku tak mampu mengatasinya. Bisakah aku sembuh dan bangkit lagi dari rasa sakit ini?


"Ada orang di dalam?" Suara wanita disertai ketukan pintu menyela rasa sedihku. Untuk sesaat, tangis itu terhenti. Aku hanya bisa tertegun, menatap kenop pintu yang diputar berkali-kali.


"Halo? Ada orang di dalam?"


"Ah, ya. Ada." Kepedihan itu tertunda. Aku cepat-cepat menyeka airmata dan ingus yang telah berceceran memenuhi wajah.


"Masih lama?"


"Ng-nggak Mbak. Sebentar lagi selesai," jawabku tergesa-gesa. Bahkan untuk merasa sedih sekalipun, semesta tak mengijinkannya.


***


Abaikan rasa sakitmu. Akan ada waktu dan tempat untuk meluapkannya. Fokus pada berkas berserakan di mejamu. Selesaikan semua pekerjaanmu. Usahakan pulang on time. Pulang ke kosan. Kunci pintu. Dan saat itulah, me time! Luapkan dan lampiaskan semua amarah dan emosimu yang terpendam!!


Berlandaskan pemikiran itu, aku mencoba mengabaikan semua rasa sakit ini. Aku berkonsentrasi penuh pada pekerjaan karena teledor sedikit saja resikonya besar.


Ada deretan daftar pekerjaan yang telah menunggu. Setiap berhasil menyelesaikan, aku mencentangnya. Berkonsentrasi pada pekerjaan sedikit banyak membuatku melupakan kenyataan pahit.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Semua pekerjaan sudah berhasil kuselesaikan. Tidak ada selisih di neraca maupun rekening penampungan. Semua warkat sudah terdebet. Begitu pula dengan paymentnya. Semua sudah balance.


Biasanya, pekerjaan paling akhir yang kulakukan adalah mempersiapkan berkas termination untuk keesokan hari. Untuk mengambil berkas dibutuhkan persetujuan dari pejabat yaitu Pak Armand atau Pak Arif. Berhubung saat ini hatiku belum siap untuk bertemu dengannya lagi, aku memutuskan untuk men-skip pekerjaan itu. Toh pekerjaan itu bisa kukerjakan keesokan hari.


Aku mulai membereskan berkas-berkas di meja dan merapikannya. Mengambil tas dan bersiap untuk pulang.

__ADS_1


Ketika melangkah menuju lantai satu, aku sengaja mengacuhkan ruangan yang tertutup rapat itu. Jangankan melihat penghuninya, melihat ruangannya saja sudah membuat hatiku sakit. Aku harus segera keluar dari sini.


***


Luapan emosi itu tumpah begitu saja. Rasa yang berusaha dipendam selama beberapa jam kini tak terbendung lagi. Marah, kecewa, sakit hati bergumul menjadi satu.


Jahat banget! Kenapa memberi harapan kalau pada akhirnya akan menghempaskan?! Kenapa memberi perhatian berlebih yang bisa disalahtafsirkan?! Kenapa memperlakukanku berbeda kalau tidak memiliki perasaan apa-apa? Apa kamu memang tipe laki-laki seperti ini?! Yang suka melambungkan perasaan wanita? Yang suka tebar pesona dimana-mana? Kenapa kamu jahat sekali?!


Lalu, apa maksud semua kebaikanmu selama ini? Kenapa kamu menolongku di saat orang lain tak bisa? Kenapa mengkhawatirkanku layaknya aku adalah orang yang paling penting di hidupmu?! Kenapa kamu menunjukkan karakter aslimu hanya di depanku?! Apa maksudnya? Apa memang semua itu tak berarti apa-apa? Kenapa?!


Layaknya orang bodoh, aku menangisi Pak Armand sembari menatap fotonya. Hatiku sangat sakit. Benar-benar sakit. Gumpalan rasa sesak ini memenuhi dada. Harapan yang telah melambung tinggi kini telah sirna, tak berbekas lagi.


Pria pertama yang kusuka. Pria yang berhasil membuatku melabuhkan hati. Pria yang kupikir memiliki perasaan yang sama. Pria yang kupikir akan menjadi calon imamku sudah tak ada lagi. Semua harapan itu telah pupus. Angan-angan indah itu telah pudar, layaknya gelembung udara yang pecah. Mimpi indah untuk bisa hidup bersamanya kini tak ada lagi.


Salahku telah menaruh harapan terlalu tinggi. Salahku telah membesarkan perasaan ini hingga tak terkontrol lagi. Salahku yang terlalu lena hingga membuat asumsi sendiri. Salahku yang sangat naif. Berani melabuhkan hati tanpa tahu latar belakang orang yang disukai. Semua ini salahku! Salahku!


***


Malam itu kuhabiskan dengan menangisi kebodohanku. Setelah berjam-jam berada dalam kubangan kesedihan, air mata itu mulai mengering. Secara perlahan otak dan logika mulai mengambil alih.


Jika dipikir secara runut, pria itu tak pernah sekalipun menyatakan rasa suka atau sayang. Dia memang selalu ada ketika aku membutuhkan, tapi bukan berarti karena dia menyukaiku. Bukankah dulu aku pernah bertanya, mengapa ia sangat baik? Dan jawabannya sangat simpel, karena tanggung jawab.


Seharusnya, aku memegang teguh jawabannya itu. Seharusnya, aku tidak mudah goyah dengan semua sikap dan perhatiannya. Dari awal dia sudah memberi garis batas. Aku saja yang terlalu yakin dengan pemikiran sendiri dan membuat asumsi-asumsi. Pak Armand tidak bersalah.


Masalah status dia? Itu juga salahku. Harusnya aku memeriksa statusnya dengan jelas sebelum menaruh hati padanya. Bila dipikir secara logika, tidak mungkin seorang pria yang mapan, tampan dengan umur yang matang akan single, kecuali ada alasan-alasan tertentu. Semua memang salahku. Ironinya, ini memang hanya cinta sepihak.


Seberapa keras otakku berpikir, jawabannya selalu kembali pada kesimpulan yang sama. Yaitu, mundur dan melupakannya. Tapi pertanyaannya, bisakah aku melupakannya? Butuh waktu berapa lama? Bagaimana cara membentengi hati agar tak terluka lagi? Haruskah aku pergi saja? Resign misalnya?


***

__ADS_1


Happy Reading 🥰


__ADS_2