Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 54 - Hal Tak Terduga


__ADS_3

"Arsha, sepertinya aku menyukaimu."


DEG


Kata-kata itu terngiang-ngiang dengan sangat jelas. Untuk sesaat, aku lupa cara bernapas. Tubuh membeku dan mati rasa. Aku juga lupa cara bergerak.


Arsha, aku menyukaimu ...


Menyukaimu ...


Menyukaimu ...


Hanya kata-kata itu yang terngiang-ngiang di kepala. Entahlah, gumpalan perasaan ini bercampur aduk. Aku benar-benar tidak bisa berpikir. Ini suatu kejutan yang tak pernah kusangka. Aku tak bisa mendiskripsikannya.


Dering ponsel mengalihkan perhatian. Dari nadanya, itu ponsel Pak Armand. Beberapa saat kemudian, pria itu mengangkatnya. Aku menghembuskan napas yang sedari tadi kutahan tanpa ketahuan.


"Iya. Sudah nyebrang. Saat ini? Otewe Denpasar. Kamu belum tidur?"


Dari Nadya 'kah?


Ya, pasti Nadya yang telepon. Bodohnya aku. Kenapa aku tadi melambung tinggi hingga lupa cara bernapas? Apa aku lupa kalau pria ini sudah memiliki istri yang tengah hamil? Ya Tuhan, dimana akal sehatku?!


Abaikan dia!! Abaikan! Mau dia bicara seperti apapun, abaikan saja ucapannya! Anggap angin lalu. Seorang pria yang sudah menikah, mengatakan menyukai wanita lain, apa tujuannya kalau bukan untuk main-main?


Jangan lemah! Jangan goyah!! Kuat Arsha!!


***


Aroma segar bercampur garam mulai terendus. Deburan ombak mulai terdengar bersahut-sahutan. Menandakan bahwa tujuan kami telah dekat.


Bus merapat di hotel Pullman menjelang pukul empat pagi. Di sana kedatangan kami telah ditunggu oleh resepsionis yang berjaga selama 24 jam.


Sepanjang perjalanan, aku pura-pura tidur. Ucapan serta kekesalan kepada Pak Armand membuatku tak bisa memejamkan mata, otak berpikir kemana-mana.


Begitu tahu bus sudah merapat, serta merta aku berdiri. Menghela tubuh, menjauh dari pria berbahaya ini. Kondisi Pak Armand berkebalikan denganku. Pria itu setengah tertidur, sehingga tidak begitu sadar ketika aku turun dengan terburu-buru.


Pihak travel mulai menurunkan barang-barang. Bersama dengan staff yang lain, aku menunggu koper dengan sabar. Ketika koper sudah keluar dan akan beralih ke tanganku, tiba-tiba ada satu tangan lain yang meraihnya.


"Aku bawakan," ucap pria bertubuh tinggi besar yang telah berdiri di sebelahku. Tanpa menunggu persetujuan, dia menyeret koper menuju lobby. Aku tertegun sejenak, begitu tersadar aku langsung berlari menyusulnya.


"Tidak perlu. Saya bisa membawanya sendiri." Aku menarik gagang koper dengan kasar dan berjalan menjauh. Aku siap untuk berbicara lebih ketus lagi bila dia bersikukuh, nyatanya kekhawatiranku tak beralasan. Pria itu bergeming. Aku menghela napas lega.


***

__ADS_1


Jadwal tour family gathering akan dimulai pada pukul 10.00 WITA. Berhubung masih Subuh, para staff diberi kesempatan untuk melanjutkan istirahat.


Kamarku berada di lantai tiga. Tipe twin bedroom. Aku berbagi kamar dengan salah satu frontliner.


Seperti hotel bintang lima pada umumnya, kamar itu memiliki tata ruang yang sangat indah dan elegan dengan view menghadap pantai. Namun karena otakku dipenuhi dengan berbagai macam pikiran, aku tak melihat sisi keindahan.


"Sha aku tidur dulu ya. Bangunin kalo kamu mau ke bawah," ucap Kak Niar sembari merebahkan tubuh. Matanya yang tertutup rapat kembali terbuka.


"Sha, kamu ada masalah dengan Pak Armand?" Aku yang tengah membongkar koper tertegun sejenak. Menatap Kak Niar lamat-lamat. Menebak-nebak apa yang dia tahu. Tapi menilik dari mata itu, sepertinya tak banyak yang diketahui.


"Kenapa Kakak berpikir seperti itu?" tanyaku pura-pura sambil lalu. Tangan kembali sibuk membongkar koper.


"Biasanya 'kan kamu akrab dengan beliau. Bahkan ada gosip lho tentang kalian." Kak Niar kembali duduk. Matanya yang setengah mengantuk telah berubah berbinar-binar. Sepertinya kenginan untuk tidur telah pupus.


"Gosip apa Kak?"


"Aku tau dari cabang lain. Kamu jangan tersinggung ya."


"Eh, gosip apa ya Kak?"


"Ada gosip kalau kalian dekat. Ingat waktu kamu OJT dua minggu ke Bogor?"


"Iya."


"Hanya gosip Kak. Beliau seperti itu karena aku satu-satunya anak buah yang ikut. Lagian beliau juga sudah punya istri," jawabku sembari menata baju di laci. Bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


"Hah? Yang benar Sha? Dengar darimana kamu kabar itu?" Kali ini Kak Niar turun dari ranjang dan mendekatiku.


"Bukannya semuanya juga tau ya Kak kalau beliau sudah menikah? Istrinya 'kan beberapa kali ke kantor."


"Hah? Sejak kapan beliau nikah? Kamu tau dari siapa kalau beliau sudah nikah?" kejar Kak Niar. Dia seperti tidak percaya. Matanya membulat. Campuran rasa terkejut, antusias dan ketidakpercayaan.


"Tau dari istrinya Kak. Aku pikir semua orang sudah tahu."


"Eh beneran, Sha? Kita nggak ada yang tau lho. Setauku beliau belum nikah. Aku pernah nggak sengaja liat KTP beliau. Statusnya "Belum Kawin" lho."


"Kakak liatnya dimana? Kapan?"


"Waktu itu semua karyawan disuruh ngumpulin fotokopi KTP buat di SLIK. Kebetulan aku bagian koordinir. Iseng-iseng cek KTP beliau dan statusnya belum kawin. Salah info kali kamu Sha."


"Kakak kapan liatnya?"


"Beberapa bulan lalu sih." Kak Niar menaruh tangan di dagu, seolah berusaha mengingat-ngingat.

__ADS_1


"Ya mungkin waktu itu emang belum nikah. Atau beliau belum ganti status di KTP-nya. Pokoknya gosip yang beredar nggak benar, Kak." Tanpa menunggu respon Kak Niar, aku pergi ke kamar mandi. Aku perlu mandi air panas. Membersihkan otak yang sedang kusut.


***


Sepanjang acara aku memilih untuk menghindar. Dimulai sejak sarapan, hingga bus membawa kami ke tempat-tempat wisata. Aku menggandeng lengan Kak Niar kemana-mana, tidak memberi kesempatan baginya untuk mendekat.


Dari sudut mata, aku bisa melihat bahwa dia memperhatikan. Berusaha untuk mendekat, namun tidak bisa. Keberadaan Kak Niar benar-benar menjadi tameng penyelamatku. Yang tak habis pikir, bagaimana dia menyatakan suka sementara ada istri dan calon anak yang tengah menunggu? Apa dia tidak memikirkan perasaan istrinya? Apa dia menganggapku gampangan hingga mau dipacari pria yang telah beristri? Aku benar-benar tak bisa memahami jalan pikirannya.


Waktu menunjukkan pukul 18.39 WITA ketika bus kembali merapat ke hotel.


"Sha, kamu naik dulu deh. Aku masih ada janji sama temen," ucap Kak Niar sembari menepuk pundakku. Tanpa menunggu jawaban dia turun dari bus dan disambut oleh seseorang di sana.


Aku merasa seperti kehilangan tameng. Perasaan menjadi tak enak. Bagaimana kalau usahaku selama beberapa jam menghindarinya menjadi sia-sia?


Tanpa menoleh ke belakang, aku segera turun dari bus. Membuat langkah lebar-lebar, berharap segera sampai di kamar. Ruang yang akan menjadi perlindungan.


Harapan tak menjadi nyata. Ketika langkahku tengah mengitari pinggiran kolam yang mengarah ke kamar, sebuah tangan mencekal pergelangan tanganku. Menariknya sedikit hingga membuatku serta merta berbalik.


"Arsha." Aku melihat wajah yang ingin kuhindari di sana. "Ada yang mau kubicarakan," sambungnya tanpa melepas cekalan. Wajahnya terlihat tak tenang. Seperti banyak pikiran bergelayut.


"Bicara apa ya Pak? Boleh lepaskan tangan saya dulu?"


"Dengan syarat."


"Apa?"


"Kamu mau mendengarku." Aku tidak ingin mendengarnya, namun aku ingin terlepas darinya. Untuk itu aku mengangguk samar sebagai persetujuan.


Dia memenuhi janjinya. Secara perlahan dia melepas tanganku. Aku mengambil kesempatan itu dan berlari secepat yang kubisa. Namun dasar, langkah kecil ini tak bisa dibandingkan dengan langkah lebarnya. Dalam secepat kilat dia berhasil menangkapku. Menarik hingga punggungku membentur dadanya. Dan adegan selanjutnya, sungguh tak pernah kuduga meski dalam mimpi.


Dia mendekapku dari belakang. Memelukku erat. Kedua tangannya membelit tubuhku. Membuatku tak bisa bergerak. Bibirnya berada dekat sekali dengan telingaku.


"Arsha .... Aku menyukaimu. Aku menyukaimu," ucapnya dengan suara gemetar dan serak. Bahkan aku bisa merasakan getaran di tubuhnya. Pembaca gerak tubuh pasti akan tahu kalau pria itu tidak berbohong.


Seketika tubuhku membeku. Lidah kelu. Pikiran kosong, tak tahu harus bersikap. Aku hanya berdiri mematung, tanpa bisa bereaksi sedikit pun. Aku benar-benar bingung harus ....


"Apa yang kalian lakukan?"


***


Happy Reading 🥰


NB : Novel ini tidak perlu di vote atau dikasih tips ya 🥰. Saya update disini untuk memenuhi janji. Tidak mengharap dapat rank atau keuntungan lainnya. Jadi kasih vote kalian ke novel-novel yang berkualitas dan authornya rajin update setiap hari ya 🥰 🙏

__ADS_1


__ADS_2