Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 61 - POV Armand


__ADS_3

"Nikahi dia!"


Kaki ini baru melangkah memasuki rumah, salam pun bahkan belum terucap, namun aku sudah mendengar muntahan kata yang asing di telinga. Suara itu menggelegar di tengah ruang. Memantul di antara dinding-dinding. Pria di depanku berkacak pinggang sembari menunjuk objek yang dimaksud.


Pria itu adalah Papaku. Beliau seorang pria yang jarang sekali menaikkan nada suaranya. Sekali beliau menaikkan suara, justru kata itu yang meluncur dari bibirnya. Melihatnya seperti ini menimbulkan tanda tanya besar.


Aku mengalihkan pandang ke sekeliling ruang. Ternyata kami tak hanya berdua. Sudah ada beberapa orang di sana. Aku menatap satu per satu orang yang tengah berkumpul di ruangan itu. Papa, Mama, Nadya dan orangtuanya. Anehnya, Nadya tengah menangis di pelukan Mama. Jadi alasan menyuruhku pulang cepat karena hal ini? Ada apa? Drama apalagi ini?


Aku meletakkan tas dan draft proyek di kursi. Ujung kemeja kutarik hingga keluar dari belitan celana. Lengan kemeja kugulung dan satu kancing sengaja kubuka. Setelahnya aku melipat tangan di depan dada. Membaca situasi. Bersiap mendengar drama yang ada di depan mata.


"Ada apa ini?" tanyaku tanpa terprovokasi nada suara Papa yang meninggi.


"Ada apa katamu?! Nikahi Nadya! Ambil tanggung jawabmu sebagai laki-laki!" Papa masih tak merendahkan nada suaranya, justru suara itu semakin lantang terdengar.


Pelipisku mulai berdenyut. Aku memijatnya dengan ujung tangan. Beban kerja yang bertumpuk, persiapan tender proyek yang belum selesai, banyaknya masalah di lapangan, dan sekarang harus menghadapi masalah yang tak kutahu ini.


"Bisa kita duduk dan bicarakan dengan tenang?" Tenggorokanku kering. Baru sadar, sedari siang tidak ada makanan yang masuk. Berharap pulang ke rumah mendapat suguhan makanan, justru muntahan kata-kata kasar yang kudengar.

__ADS_1


Papa masih berkacak pinggang. Mata melebar, kening berkerut, bibir gemetar dengan napas pendek-pendek. Pria baruh baya itu sangat emosional. Kata-kataku tak dihiraukan.


"Papa mau kamu nikahi Nadya!"


"Kenapa tiba-tiba?"


"Nadya hamil anakmu! Kamu kurang aja ya! Bukannya menjaga dia layaknya adik sendiri justru menghamilinya! Kalau kamu ingin menikahinya, kamu bisa bilang ke Papa! Kapan Papa Mama melarangmu berhubungan dengan dia?! Justru kami mendukungmu!"


Oh, jadi ini titik masalahnya. Nadya hamil dan menuduh aku sebagai ayah dari anaknya?


Aku menatap Nadya yang terisak-isak di pelukan Mama. Sikapnya layaknya wanita yang teraniaya. Adegan seperti ini puluhan kali pernah kualami. Mengambil tanggung jawab untuk sesuatu yang tak kulakukan. Namun anehnya, justru orangtuaku lebih percaya pada Nadya, dibanding anaknya sendiri.


"Kamu bercanda Nad?" Aku menatap lekat wanita itu. Yang ditatap tangisnya justru semakin keras. Sepertinya drama ini akan terus berlanjut.


"Abhimanyu!"


"Bukan aku yang menghamilinya, Pa," jelasku. Di detik berikutnya suara tamparan mendarat di pipi. Rasa sakitnya baru kurasakan sedetik kemudian. Baru kali ini Papa menamparku seperti ini. Cukup mengejutkan.

__ADS_1


"Papa tidak pernah punya anak yang tidak bertanggung-jawab seperti ini! Ma, ini anak yang kamu banggakan?! Bilang ke anakmu Ma, ambil tanggung jawabnya sebagai laki-laki!"


"Abhi ...." Suara Mama lirih. Gurat kecewa dan sedih memenuhi wajahnya. Nadya berhasil membuat Papa marah dan Mama sedih. Nadya berhasil memainkan perannya.


"Nad, katakan sejujurnya. Kamu bercanda 'kan? Kamu pura-pura hamil 'kan?"


"Nak Abhi, Nadi memang hamil. Mama sudah bawa dia periksa. Usia kandungannya sudah 8 minggu." Kali ini ibu Nadya menjawab. Sementara pria di sebelahnya terduduk dengan lesu. Tampak tak tahu harus mengatakan dan melakukan apa.


"Awalnya Nadi tidak mau mengaku dan menutup-nutupi. Tapi setelah didesak, dia mengaku kalau anak yang dikandungnya adalah anakmu Nak Abhi."


Wah, Nadya. Apa yang ada dipikiranmu? Kamu menyuruhku untuk mengakui apa yang tak kulakukan. Aktingmu di depan keluarga juga sangat meyakinkan. Kamu pasti memiliki alasan untuk melakukannya, namun aku kecewa, kenapa kamu melibatkan keluarga?


"Bukan aku yang menghamilinya," jawabku tenang sembari menyambar tas dan draft proyek. "Kalau tak ada lagi yang dibicarakan, aku pamit dulu." Aku berbalik dan melangkah pergi.


"Abhi!!"


***

__ADS_1


Happy Reading 🥰


NB : Maaf kalau pendek2 ya, gak nutut nulisnya 🙏😅


__ADS_2