Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 68 - POV Armand


__ADS_3

Perasaan apa ini? Ada kemarahan besar yang menggumpal di dada. Kalau tidak ingat sedang berada di tempat umum, mungkin aku sudah melempar meja itu tepat di depan mukanya! Melihat adegan itu lebih lama lagi, aku pasti akan merealisasikan hal-hal kejam yang tengah berputar di kepala.


Aku beringsut berdiri. Tanpa berkata-kata dan melihat mereka, aku pergi meninggalkan tempat itu. Mungkin ini adalah pertama kalinya aku bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Aku yang mengundang mereka datang, namun aku pulalah yang meninggalkan mereka. Hanya karena aku tak tahan melihat mereka bersama?!


"Bi, tunggu aku! Bi!" Bahkan suara-suara itu tak mampu menghentikan langkah kaki ini. Aku tetap mengambil langkah lebar. Setelah mencapai lantai dasar, aku segera menuju parkiran. Berjalan ke arah mobil dengan langkah lebar-lebar. Berusaha untuk menjauh dari tempat itu sesegera mungkin


Begitu berada di dalam mobil, aku langsung menginjak gas kuat-kuat. Kendaraan roda empat itu meluncur secepat kilat. Aku tak melihat seberapa cepat jarum spedometer berputar. Memainkan gas sedalam mungkin seperti menjadi satu-satunya pelampiasan yang bisa kulakukan untuk saat ini.


Tak terhitung berapa banyak bunyi klakson dan juga jumlah umpatan yang keluar. Aku tak peduli. Pijakan pada pedal gas semakin dalam. Pijakan itu baru terlepas dan berubah menginjak pedal rem ketika seseorang melintas. Hampir saja aku menabrak seseorang!


"F**k!!" Aku memukul setir dengan kesal. Ada apa denganku? Kenapa aku jadi pribadi yang tak terkontrol seperti ini?

__ADS_1


Kelebatan ingatan itu terlintas. Aku sudah berusaha bersikap sedewasa mungkin. Bahkan ketika kami tak sengaja bertemu di parkiran, aku masih menahan diri untuk tidak meninju wajah pria. Meskipun tubuh dan kepalan tanganku telah siap melakukannya.


Aku pikir dengan mengatur pertemuan, akan membuatku mampu mengontrol emosi dan berbicara layaknya orang dewasa. Namun rupanya tak seperti itu. Aku tetap bertingkah kekanak-kanakan. Begitu melihat bocah itu berlutut sembari mengeluarkan cincin, emosiku justru menjadi tak terbendung. Untuk mencegah ada meja yang terlempar, aku memilih pergi.


Kemana akal sehatku? Mengapa aku bisa semarah ini melihat Arsha dekat dengan pria lain? Apa seperti ini perasaan seorang kakak ketika melihat adiknya dekat dengan seorang pria? Apa yang dilakukan seorang kakak disituasi seperti ini?


***


Tak sulit menemukan bocah itu di kota Jember. Hanya dengan mengunjungi satu dua tempat, aku sudah mengetahui keberadaannya. Hal yang cukup mengejutkan, ternyata bocah itu memiliki jabatan yang lumayan di usianya yang masih muda. Bila dia tak ada hubungannya dengan Arsha, mungkin aku akan sedikit menaruh respect atas prestasinya.


"Pak Armand." Bocah itu menjulurkan tangan. Aku menyambut. Genggaman dan jabat tangannya sangat erat. Dalam seragam dan di ruang dinasnya dia terlihat berwibawa, tapi di mataku dia tetap seorang bocah.

__ADS_1


"Silahkan duduk." Aku duduk di ujung sofa berbentuk huruf L. Dia duduk di ujung lainnya. Sikap tubuhnya menunjukkan kepercayaan diri. "Bagaimana Anda menemukan saya?"


"Tidak sulit menemukanmu. Ini kota kecil."


"Lalu? Tentu ada tujuan Anda mencari saya seperti ini."


"Ya. Jauhi Arsha." Atmosfir di ruang itu berubah semakin kaku. Kami saling bertatapan. Sorot mata bocah itu mengeras. Dia menatapku lekat. Tak langsung menjawab.


"Anda berbicara sebagai siapa?" tanyanya tenang. Dia sedikit tersenyum miring. Aku tahu dia sedang memprovokasi. Sebagai orang dewasa, aku tak boleh terprovokasi.


***

__ADS_1


Happy Reading 😅🙏


__ADS_2