
"Sudah berapa lama?"
"Apanya?"
"Suka sama suami orang."
Pertanyaan itu ditanyakan dengan nada santai namun menimbulkan efek yang mengguncang. Aku terperangah. Menatap Saka lekat-lekat. Tenggorokan rasanya kering. Sulit sekali hanya untuk menelan ludah.
"A-ku, aku nggak ngerti apa maksudmu?" sanggahku sembari memalingkan wajah.
"Nay ...."
"A-apa?"
"Sudah berapa lama kita saling kenal?"
"N-nggak tahu. Aku nggak ngitung."
"Meskipun kita lama nggak ketemu, apa kamu pikir aku nggak bisa tau perasaanmu, Nay?"
"Jangan sok tau!"
"Sudah berapa dalam hubungan kalian?"
"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa! Kamu salah kira!" Nadaku meninggi. Jangankan 'dalamnya hubungan', pria itu tahu perasaanku saja 'tidak'.
"Oh, rupanya hanya perasaan sepihak." gumaman Saka yang bisa kudengar dengan jelas.
"Ya. Memang hanya sepihak. Puas?!" ketusku. Sudah kepalang tanggung. Percuma juga menutupinya. Saka sudah mengetahuinya. Apalagi dengan bodohnya aku menangis di punggungnya. Mau mengelak seperti apalagi?
"Kenapa suka dia?"
"Aku nggak tau."
"Mau dilanjut?"
"Apanya?"
"Perasaannya."
"Gila aja. Ya nggak 'lah."
"Terus?"
"Nggak ada terusannya. Mau aku coba buat lupain. Puas?!"
"Good girl." Saka mengusap-ngusap rambutku. "Nay?"
"Apa?"
__ADS_1
"Mau aku bantu buat lupain?"
***
Rasanya sangat melegakan mempunyai teman yang bisa diajak berbagi keluh kesah. Selama ini aku selalu menyimpannya sendiri. Atas desakan Saka, aku menceritakan semuanya. Kebaikan Pak Armand yang kusalahartikan. Ketidaktahuanku mengenai statusnya serta keinginanku untuk melupakannya.
Salah satu cara untuk melupakan adalah dengan berpura-pura memiliki pasangan. Yang menjadi masalah adalah sikap Pak Armand yang selalu ingin ikut campur dalam semua hal. Terlebih keingintahuannya terhadap pasangan.
Saka menangkap maksudku dengan sangat cepat. Tanpa diminta, dia langsung menawarkan diri sebagai pasangan 'pura-puraku'. Setidaknya satu masalah sudah terselesaikan sekarang. Semoga tidak ada masalah lain kedepannya.
***
Masalah yang tak kuharapkan itu datang keesokan paginya. Begitu datang, aku telah disambut dengan tatapan dingin. Dia menyuruhku ke ruangannya. Aku merasa dejavu. Kejadian yang sama terulang untuk kedua kalinya.
"Atur pertemuanku dengannya. Ini perintah," tandasnya tanpa tedeng aling-aling. Sungguh aku kehilangan kata-kata menghadapi orang ini.
"Begini ya, Pak. Sebenarnya saya bisa menolak perintah Bapak, karena hal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Tapi, bila dengan bertemu membuat Bapak berhenti untuk mencampuri urusan saya lagi. Saya akan melakukannya. Apa Bapak bisa menjamin ke depannya tidak akan ikut campur lagi?"
"Tergantung."
"Tergantung apa?!" Rasanya aku ingin menghentak-hentakkan kaki.
"Tergantung layak tidaknya dia buat kamu. Jadi kapan, aku bisa bertemu dengannya?"
"Apa saya punya pilihan untuk menolak?"
"Saya boleh mengajukan syarat?"
"Apa?"
"Ajak mbak Nadya."
"Apa hubungannya dengan dia?"
"Itu syarat dari saya. Bila Bapak keberatan, saya juga keberatan mengatur pertemuan ini."
Pak Armand terdiam sejenak. Raut wajahnya terlihat sedang menimbang-nimbang.
"Oke. Nadya akan kubawa. Jadi kapan?"
"Saya akan mengabari Bapak secepatnya. Kalau begitu, saya permisi."
***
Saka setuju untuk bertemu. Malah dia terlihat sangat antusias. Di dalam sorot matanya seperti terkandung suatu tekad untuk menang. Entahlah, aku pun tak tahu jalan pikirannya.
Akhirnya diputuskan bahwa pertemuan makan malam itu akan dilakukan selepas pulang dari kantor.
Pak Armand rupanya telah membuat reservasi di salah satu restoran hotel yang memiliki suasana sangat tenang sehingga pembicaraan itu bisa dilakukan.
__ADS_1
Kami berangkat secara terpisah. Pak Armand bersama dengan Nadya menggunakan mobil, sementara aku dan Saka menaiki motor. Kami tiba hampir bersamaan.
Tampilan Nadya sungguh cetar. Menggunakan gaun berwarna merah marun dengan rambut yang digerai bebas. Kehamilan tidak menghalanginya untuk selalu terlihat cantik. Begitu keluar dari mobil, tangannya langsung menggelayut di lengan Pak Armand. Seolah-olah menunjukkan bahwa pria itu adalah miliknya.
Aku sedikit bisa membaca pikiran Nadya. Dia khawatir aku akan tertarik pada suaminya dan akan merebutnya. Baiklah, aku memang tertarik. Tapi di kamusku, tidak ada yang namanya ingin memiliki apa yang sudah dimiliki orang lain. Aku tidak segila itu. Malam ini aku akan menunjukkan, bahwa kekhawatirannya itu tidak beralasan.
Sebenarnya situasi ini sangatlah lucu. Seorang atasan mengajak bawahannya makan malam dengan membawa pasangan masing-masing hanya karena si atasan ingin tahu tentang pasangan si bawahan. Adakah hal aneh dan menggelikan melebihi situasi ini?
"Yuk. Bengong aja." Saka meraih tanganku dan menggenggamnya. Dia tersenyum sangat manis. Penampilannya malam ini sangat keren. Dia membalut tubuhnya dengan kemeja hitam pas body. Menunjukkan bahu bidang dan lekukan tubuhnya yang kekar. Rambutnya dipomade dan disisir rapi. Dia terlihat seperti seorang eksekutif muda yang bersiap untuk dinner dengan kekasihnya.
Bisa dibilang, penampilanku dan Saka kebanting jauh. Bagaimana tidak? Aku memakai setelah one set berwarna abu-abu muda. Tipikal baju yang hanya dipakai pada saat bekerja. Aku tidak memiliki kesempatan untuk berdandan, sehingga penampilanku apa adanya.
Melihat Saka seperti ini menimbulkan kebanggaan tersendiri. Setidaknya Saka tidak terlihat memalukan di depan Pak Armand dan Nadya. Aku bisa membanggakan Saka.
"Terima kasih telah menerima undanganku," ucap Pak Armand ketika kita berempat sudah duduk di kursi masing-masing.
"Sebenarnya cukup mengejutkan. Seorang atasan mengundang makan malam. Saya berasumsi, mungkin kinerja Nay sangat bagus hingga atasan memberi perhatian lebih seperti ini. Saya terima niat baik Anda. Terima kasih telah mengundang saya."
Pak Armand berdehem. "Ya, kinerja dia memang bagus. Kemarin kita belum sempat berkenalan. Aku Armand."
"Saka. Senang mengenal Anda." Jawaban Saka sangat diplomatis dan tertata. Kesan bengal dan tengilnya hilang. Digantikan oleh sosok dewasa dan berwibawa.
"Aku juga tidak menyangka bisa makan malam bersama kalian seperti ini," potong Nadya dengan wajah ceria. "Ah, melihat kalian membuatku senang. Yang wanita, cantik. Laki-lakinya ganteng. Sangat serasi. Iya 'kan Bi?" Nadya menyenggol lengan Pak Armand dengan ujung siku. Pria yang dimintai pendapat itu hanya bungkam. Menatap dengan pandangan tak mengenakkan. Nadya yang merasa diacuhkan tersenyum canggung.
"Oh ya, sudah berapa lama kalian pacaran?" Nadya mengalihkan pertanyaan. Aku belum briefing perihal ini dengan Saka. Mendapat pertanyaan seperti ini membuatku kebingungan.
Tanpa diduga, Saka mengambil tanganku dan menggenggamnya. Membawa tangan itu ke bibir dan mengecupnya.
"Sudah cukup lama. Kami LDR. Sebenarnya saya cukup khawatir ...." Suara Saka terdengar ragu. Aku sampai tidak bisa mengucapkan apa-apa karena terlalu terkejut melihat aktingnya yang meyakinkan itu. Belajar darimana anak itu?!
"Khawatir kenapa?" Nadya meladeni percakapan itu. Dia tidak memperhatikan pria di sebelahnya yang sudah membatu. Wajah mengeras dengan bibir membentuk satu garis tipis.
"Saya sering meninggalkannya bertugas. Saya khawatir perasaannya akan berubah. Saya ingin mengikatnya. Tapi saya takut dia akan menolak. Mungkin, bila saya meminta di depan orang-orang yang dihormatinya, dia akan menerimanya."
Tiba-tiba Saka berdiri. Kemudian dia membuat gerakan berlutut layaknya pria yang akan melamar. Feeling-feelingku sudah mulai tidak enak. Akting Saka terlalu berlebihan. Bila adegan selanjutnya sama seperti yang kupikirkan, ini sudah tidak lucu lagi.
Benar saja. Saka mengeluarkan sesuatu dari balik saku. Kotak beludru berwarna biru, yang sudah bisa kutebak isinya apa. Pikiranku sudah jungkir balik tak karuan. Memikirkan reaksi apa yang harus kuberikan.
Sebuah cincin berlian tepat disodorkan di depan wajahku.
"Arsha Nayyara Usman, will you marry me?"
Saka sudah benar-benar gila tingkat akut!!
***
Happy Reading 🥰
NB: btw, novel yang disebelah juga sudah update. Bisa kepoin ig erka_1502 untuk infonya ya. Makasih 🤗
__ADS_1