Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 35 - Perasaan Galau


__ADS_3

"Kamu mau?" Dua kata yang berhasil membuatku tercengang.


Semua gerakan yang kulakukan langsung terhenti. Tanganku tak lagi meremati daging ayam. Mulutku tak lagi mengunyah. Mataku tak lagi menatap gamang. Aku hanya fokus pada pria di depanku ini.


Aku menatap dua netra gelap itu. Menelisik, mencari tanda-tanda kejahilan di sana. Netra itu balas menatapku dengan tajam. Pupil menggelap dan membesar, menunjukkan ketertarikan. Dari keseluruhan mimik wajah, tak kutemukan adanya kejahilan melainkan keteguhan dan keseriusan.


Jantungku berdegup sangat kencang. Telapak tangan mulai basah. Tenggorokan mengering, hingga kata tak mampu keluar dari sana. Aku gugup. Sangat gugup! Apakah Pak Armand serius dengan kata-katanya?! Apa itu artinya dia menawarkanku untuk jadi pasangannya? Yang akan memasak hanya untuknya setiap hari? Yang akan mendampinginya?!


"Kamu mau?" suara bariton itu kembali mengulangi pertanyaan yang sama. Suaraku tercekat. Mulut membuka namun tak ada suara yang keluar. Dalam hati kecil, aku ingin menjawab "iya" sembari berteriak kegirangan dan melompat-lompat.


"Em .... A-aku ... a-aku ...."


Suara dering tablephone memenuhi ruangan. Memutus kontak mata yang telah terjalin. Menghentikan bibir ini dari memberi jawaban. Pak Armand mengangkat tangan, menyuruhku untuk tidak melanjutkan.


Dia menekan tombol loudspeaker. Dari nomor yang tertera, bagian head teller yang tengah menghubungi.


"Ya, Astri. Ada apa?"


"Maaf Pak, mengganggu waktu makan siangnya. Saya perlu otorisasi, Pak. Ada transaksi RTGS sejumlah 7 M." (RTGS \= Real Time Gross Settlement)


"Oke. Aku ke bawah." Sambungan itu terputus.


"Arsha, aku sudah selesai. Aku ke bawah dulu. Kamu boleh di sini dulu sampai makanmu selesai." Setelah mengucapkan itu, Pak Armand membereskan sisa-sisa makanan dan berjalan keluar. Meninggalkanku dengan jantung yang masih berdegub kencang dan mulut tercekat.


***


Kejadian itu berlalu seperti tidak pernah terjadi. Pak Armand kembali sibuk dengan pekerjaannya. Aku yang mengharapkan kejelasan, pada akhirnya juga melakukan hal yang sama. Berkutat dengan pekerjaan yang telah bertumpuk.

__ADS_1


Pikiranku tak bisa konsentrasi. Terlalu banyak asumsi memenuhi kepala. Berusaha menafsirkan ucapan Pak Armand. Dari mimik wajah, tak ada tanda-tanda bercanda. Mungkinkah Pak Armand serius dengan ucapannya? Mungkinkah sudah waktunya perasaan ini saling bertaut?


Membayangkan saja sudah membuat pipiku memerah dan memanas. Andaikan kejadian tadi tidak disela dengan bunyi dering telepon, mungkin aku dan dia sudah saling tahu perasaan masing-masing.


"Sabar Sha, sabar .... Sebentar lagi kamu akan mendengar pengakuannya. Tunggu sebentar lagi," ucapku pada diri sendiri seraya melihat ruang pujaan hati yang tertutup rapat.


***


Dibayanganku, hari ini kami akan pulang paling terakhir, seperti sebelum-sebelumnya. Kami akan berada di ruang pemberkasan. Mencari berkas termination keesokan harinya. Mungkin di saat seperti itu, Pak Armand akan mengungkapkan isi hatinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Pintu ruang head of operasional masih tertutup rapat. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Sebegitu sibukkah dia? Hingga tidak keluar ruangan seharian?


"Arsha, kamu tidak pulang?" Aku mengedarkan pandang, mencari sumber suara. Tepat di depanku ada Pak Haidar. Dia tengah melongokkan kepala di dinding pembatas ruang yang tingginya hanya satu setengah meter.


"Eh, belum Pak ...."


"T-tidak perlu Pak. Kosan saya dekat."


"Kamu selalu seperti itu. Kamu mengijinkan Armand dekat denganmu, tapi tak mengijinkanku. Padahal status kami juga sama."


"Y-ya Pak?"


"Kenapa kamu belum pulang? Bosmu loh sudah pulang." Pak Haidar mengedikkan wajah ke arah ruang Pak Armand untuk menekankan ucapannya.


"Ha? Pulang?"


"Kamu tidak tahu? Armand sudah pulang jam empat tadi. Katanya ada urusan. Kamu pulango juga. Di lantai ini, hanya tinggal kita berdua yang belum pulang." Selesai mengucapkan itu, Pak Haidar berbalik dan turun ke lantai satu.

__ADS_1


Aku mengedarkan pandang ke sekeliling. Ruangan sudah kosong melompong. Semua komputer dan lampu meja sudah dimatikan. Menandakan semua penghuninya sudah pulang. Kemudian aku kembali menatap pintu ruang Pak Armand yang tertutup rapat. Aku masih sangsi dengan informasi yang diberi Pak Haidar. Benarkah Pak Armand sudah pulang? Kapan? Kenapa tidak memberitahuku?


Masih diliputi dengan rasa penasaran, aku berjalan ke ruang Pak Armand dan mulai mengetuk pintu.


Satu ketukan, belum ada jawaban.


Tiga ketukan, juga belum ada jawaban.


"Pak? Pak?" Langkah selanjutnya adalah memanggil namanya. Namun juga tidak ada sahutan. Kucoba untuk memutar kenop pintu yang ternyata terkunci. Berarti benar ucapan Pak Haidar, Pak Armand sudah tidak ada di ruangannya.


Lesu dan kecewa. Itulah perasaan yang kurasakan. Aku melangkah ke mejaku dengan lunglai. Membereskan semua berkas yang berserakan. Merapikan meja dan bersiap untuk pulang.


***


Moodku berantakan. Rasa bahagia, berdebar, penuh pengharapan seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kekecewaan. Padahal hanya masalah sepele, namun entah mengapa menciptakan lubang yang cukup dalam.


"Hah, Arsha! Memang kamu siapanya dia?! Sehingga kamu merasa berhak tahu semua hidupnya! Kamu bukan istrinya! Bukan pula pacarnya! Kenapa kamu harus kecewa hanya karena dia pergi tanpa pamit! Dewasalah! Jangan biarkan hal kecil seperti ini mempengaruhi perasaanmu terhadap dia. Oke!!"


Lagi-lagi yang kubisa hanya menyemangati diri. Aku menghempaskan tubuh ke ranjang dan mengambil handphone. Menggulir-gulirkan jempol, hingga menemukan nama yang kucari.


Status whatsappnya tidak sedang online. Di last seen tertulis 15.49 WIB. Itu artinya, mungkin memang ada urusan mendesak yang membuat Pak Armand tidak memiliki waktu untuk mengabariku. Aku memutuskan untuk mengirim pesan lebih dulu.


"Pak, apa urusannya sudah selesai?"


Pesan terkirim. Aku memantau handphone, menunggu balasan. Namun hasilnya nihil. Sampai aku ketiduran dan terbangun keesokan hari, balasan itu tak kunjung kudapatkan.


***

__ADS_1


Happy Reading 😚🤗


__ADS_2