Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 83 - [POV Author] Berusaha Jujur


__ADS_3

"Lebih? Lebih gimana?"


"Menikah. Misalnya."


"Hah?! Gimana Pak?! Ulangi lagi!" Arsha memutar leher dengan cepat. Andaikan bukan ciptaan Tuhan, mungkin leher itu sudah patah.


Mata Arsha membulat. Pupil mata membesar dengan alis terangkat dan bibir menganga. Melihat ekspresi Arsha membuat Armand semakin geli. Dia menjentikkan jari telunjuk ke kening Arsha.


"Tidak ada siaran ulang. Cepat kembali ke kamarmu."


"Ah nggak mau! Tadi Bapak bilang apa sih? Aku dengar kata me-meni-kah?" Arsha menatap Armand dengan ragu sembari menggigit ujung jari. Pandangan matanya penuh harap-harap cemas.


"Kamu salah dengar. Cepat kembali ke kamarmu. Nanti ayah ibu nyari ...."


"Astaga! Aku lupa ngabari beliau! Ah mana HP-ku!" Arsha menepuk jidat. Dia tergopoh-gopoh memeriksa setiap saku di baju pasiennya. Tentu saja tak ada.


Begitu sadar, hal pertama yang ada di otaknya adalah Pak Armand. Setelah itu terusik dengan kehadiran Nadya dengan informasinya yang begitu mencengangkan. Membuatnya dengan tubuh ringan melangkah ke ruang dimana Pak Armand dirawat.


Memberi kabar orang tua sama sekali tak ada di dalam pikirannya. Betapa durhakanya ia sebagai anak?!


"HP saya ketinggalan, Pak. Saya balik kamar dulu ya."


"Dari tadi aku udah nyuruh kamu balik lho."

__ADS_1


"Iya, ya." Wanita mungil dengan rambut sebahu itu beringsut dari duduknya. Tangan kiri memegang tiang infus, sementara tangan kanan terulur. Armand menatap Arsha dengan bingung.


"Mana tangan Bapak?"


"Buat apa?"


"Mana dulu."


Armand mengulurkan tangannya juga. Arsha segera meraih tangan itu dan menggenggamnya erat. Kemudian ia menundukkan kepala, lalu disusul mencium tangan pria itu menggunakan hidung dan bibir dengan penuh takdzim.


"Pergi dulu ya calon suami. Jaga diri baik-baik," ucapnya ceria sembari cepat-cepat berbalik. Dari mulutnya terdengar derai renyah tawa. Arsha telah kembali ke setelan semula. Arsha yang ceria, blak-blakan dan ceroboh.


Armand geleng-geleng kepala melihat kelakuan bocil yang semakin menjauh. Sifat Arsha yang berkebalikan dengannya akan membuatnya sangat terhibur.


***


Seburuk-buruk sikapnya, ia harus tahu kapan waktunya menyerah. Bertahun-tahun ia telah berusaha, namun tak ada hasilnya. Memang benar apa kata orang. Cinta itu tak dilihat dari seberapa lamanya mengenal. Namun cinta akan muncul secara tiba-tiba, di waktu dan hati yang tepat.


Perasaan cinta itu tak pernah hadir di hati Armand, seberapa keras pun usahanya. Bahkan ia rela menjadi orang jahat dan menghalalkan segala cara untuk meraih hati pria itu. Namun tak pernah ada kesempatan untuknya. Sekarang sudah waktunya ia menyerah, melupakan dan mengikhlaskan semua.


"Aku tak punya muka untuk meminta maaf padamu secara langsung, Bi. Kesalahanku terlalu fatal. Kamu pasti tidak akan pernah memaafkanku. Aku terlalu pengecut untuk menghadapi kemarahanmu. Sebelum pergi, aku akan meluruskan semuanya. Semoga kalian bahagia," bisik Nadya sembari menempelkan kening di daun pintu. Ia mengusap satu bulir yang jatuh ke pipi.


Dengan berat hati, ia meraih pegangan koper dan menyeret langkahnya menjauh dari apartemen itu.

__ADS_1


***


Malam itu Nadya memutuskan untuk kembali ke Surabaya. Dia menyewa kendaraan pribadi. Di sepanjang perjalanan, ia tak henti-hentinya menangis. Banyak hal yang ia tangisi, terutama sikap jahatnya selama ini.


Menjelang pukul sepuluh malam, Nadya tiba di depan rumah. Mama dan Papa terlihat terkejut melihat kedatangannya. Terlebih ia datang seorang diri. Malam itu juga, Nadya mengajak orangtuanya pergi ke rumah Armand. Tekadnya sudah bulat. Ia akan meluruskan masalah ini dengan orang tua Armand lebih dulu.


Suasana rumah Armand begitu hening. Dulu, di jam-jam segini, masih akan terlihat beberapa aktivitas. Entah papanya dan Papa Armand bermain catur atau mama dan Mama Armand membahas resep kue. Namun, semenjak kepergiaan putra semata wayang, kondisi rumah sudah tak sama lagi. Papa Armand mulai sakit-sakitan. Mama menjadi murung. Usaha juga mulai tak terurus. Nadya lah yang bertanggung-jawab atas semua ini. Andaikan dulu ia tak egois, mungkin semua ini tak 'kan terjadi.


"Kenapa malam-malam kamu mengajak bertamu Nad? Dimana Abi? Kenapa kamu pulang sendiri?" Mama meraih lengan putrinya. Meminta perhatian dan mencegah Nadya yang tengah memencet bel.


"Nadi? Apa yang coba kamu lakukan?" Kali ini Mama menarik lengan Nadya. Sorot matanya menunjukkan kekhawatiran.


"Aku akan menjelaskan semuanya, Ma. Tapi tunggu semuanya ada."


"Apa maksudmu?" Tatapan Mama semakin tak mengerti. Nadya meraih tangan Mama dan menggenggamnya. Kemudian ia mencium tangan Mama. Apa yang akak dikatakannya ini akan mencoreng nama baik orangtuanya. Memang sebagai manusia, ia tak pernah bisa membanggakan siapa pun, bahkan orangtua sendiri.


"Nadya minta maaf, untuk semuanya, Ma, Pa ...." Kedua orang tua menatap Nadya dengan sorot mata bertanya-tanya dan bingung. Belum mereka mengutarakan pertanyaan, pintu rumah Armand terbuka. Seorang wanita paruh baya keluar dari rumah itu. Nadya menghirup udara sebanyak yang ia bisa. Melihat wajah teduh itu membuat keberaniannya menciut. Namun ia tak boleh mundur. Malam ini semua orang harus tau kebenarannya, meski resikonya ia akan ditinggalkan oleh semuanya. Itulah konsekuensi dari perbuatannya.


***


Happy Reading 🥰


NB : Follow akun IG-ku ya @erka_1502 untuk dapat info update dan buku baru 🥰

__ADS_1


__ADS_2