
"Apa yang kalian lakukan?" Dari arah belakang terdengar suara yang kukenal. Serta merta aku melepaskan diri dari tangan yang merengkuh tubuh dan berbalik.
Sekitar sepuluh meter dari tempat kami berdiri, terlihat seorang pria menatap penuh kemarahan yang ditahan. Mata menatap penuh nanar, sementara di sampingnya ...
"Aakhhhh!" Seorang wanita yang tengah hamil besar memegang perut bagian bawah sembari mengaduh. Wajahnya tertutup oleh rambut yang menjuntai. Aku juga familiar dengan tubuh itu, sepertinya dia ...
"Nadya!" Pria yang awalnya berada di sebelahku, secepat kilat berlari dan menyongsong wanita itu. Dalam sekejab, pria itu telah berada di samping Nadya.
"Kamu kenapa?" Raut wajahnya tak bisa berbohong. Pria itu terlihat sangat khawatir.
"S-sakit. Perutku sakit Bi. Akhhh!" jawabnya dengan wajah meringis.
"Kita ke RS!" Tanpa banyak kata lagi, Pak Armand membopong Nadya.
"Kamu bawa mobil 'kan? Ambil mobilmu sekarang," perintahnya pada Saka. Pria yang diajak berbicara mengangguk cepat. Tanpa kata, kedua pria itu setengah berlari melewati lobby. Aku tanpa sadar mengikuti mereka dari belakang.
Saka dengan cepat mengeluarkan mobil dari area parkiran dan berhenti tepat di depan hotel. Tanpa berpikir, aku segera membuka pintu untuk memudahkan Pak Armand dan Nadya masuk mobil. Setelah memastikan keduanya masuk, aku segera menutup pintu dan beralih duduk di samping Saka. Semua dilakukan secepat kilat dan tanpa berpikir. Kondisi menegangkan yang memaksa kami untuk melakukan hal itu.
Di sepanjang perjalanan, hanya terdengar keluh kesakitan dari bibir Nadya. Dari kaca spion aku bisa melihat ringis kesakitan di wajah cantik itu sementara di sampingnya ada suami yang memberi kata-kata penghiburan. Aku mengabaikan rasa sakit ini dan mengosongkan pikiran.
Tubuh pria di sebelahku juga terlihat kaku seperti kayu. Mungkin dia kecewa dan marah melihat kami yang tengah berpelukan. Betapa sangat memalukan. Apa yang dipikirkan Nadya dan Saka? Jangan-jangan apa yang dialami Nadya gara-gara dia melihat kami?
Aku *******-***** tangan sampai buku jari memutih. Tubuh gemetar diliputi perasaan bersalah dan takut yang begitu besar. Aku tidak akan memaafkan diri sendiri kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nadya dan bayinya. Aku berharap dia baik-baik saja.
"Akhhh Bi! Sakit Bi!"
"Iya, sabar ya. Sebentar lagi kita sampai. Bisa lebih cepat?!" ujarnya. Tanpa kata Saka mempercepat laju kendaraan. Berusaha menyelip-nyelip diantara kepadatan lalu lintas.
Ekspresi wajah Saka sangat kaku. Raut wajah tengil dan ceria yang biasa ditunjukkan kini sudah tak ada lagi. Buku jarinya memutih di balik kemudi. Entah siapa yang lebih membuatnya marah? Pak Armand 'kah? Atau aku?
Apa yang dipikirkan Saka? Apa dia pikir aku wanita murahan yang dengan sukarela dipeluk oleh pria beristri? Bagaimana penilaiannya terhadapku? Dia pasti sangat marah dan kecewa.
__ADS_1
***
Beberapa belas menit kemudian, mobil memasuki pelataran rumah sakit. Saka langsung memarkir mobil di depan IGD. Dia buru-buru membantu Pak Armand yang membopong Nadya.
Kedatangan kami disambut oleh dokter jaga dan beberapa perawat. Mereka meletakkan Nadya di atas brankar dan mulai membawanya ke ruang pemeriksaan awal. Meninggalkan aku dan Saka yang berdiri dengan canggung.
Saka tetap bungkam. Tak sekalipun dia mengajakku berbicara. Dia hanya berdiri bersandar di dinding sembari bersidekap.
"A-aku harap t-tak 'kan terjadi apa-apa pada dia ...," cicitku tanpa bisa menyembunyikan suara yang gemetar. Saka sepertinya bisa merasakan perasaanku. Dia menatapku. Tatapannya melunak.
"Tidak akan terjadi apa-apa. Tenanglah. Kamu sudah makan?" Dia mengalihkan pembicaraan. Aku menggeleng cepat. Rasa lapar sangat jauh dari pikiran.
"Ayo cari makan dulu." Lagi-lagi aku menggeleng.
"Tidak! Aku akan menunggu di sini!"
"Sudah ada yang menunggunya. Kehadiran kita tak dibutuhkan. Ayo."
"A-a-aku t-tidak akan memaafkan di-diriku k-kalau t-terjadi s-sesuatu pada dia." Butiran yang tak diharapkan itu mengalir begitu saja. Butir-butir kelemahan yang jarang kutunjukkan pada orang. Aku memeluk tubuhku sendiri yang tengah gemetar.
"I-ini salahku. K-kalau aku t-tidak melakukannya ...."
"Hei, ini bukan salahmu." Saka bergerak. Dengan satu tangan dia merengkuhku dalam pelukan. Seperti mendapat tempat bersandar, aku langsung menumpahkan isakan yang tertahan.
"Ehem."
Suara pintu terbuka dan deheman membuatku langsung berbalik dan melihat pria itu berdiri di sana. Memandang Saka dengan tatapan mematikan, terlebih ketika melihat tangan Saka masih merengkuh bahuku.
"B-bagaimana kondisi dia?" Pertanyaanku membuat mata itu teralihkan fokusnya dari menatap tangan Saka. Dia memalingkan wajah.
"Dia baik-baik saja. Tadi hanya kontraksi palsu. Bisa minta tolong temani dia? Aku mau urus administrasi untuk pindah kamar."
__ADS_1
"I-iya, Pak. S-saya akan temani." Aku menghembuskan napas lega. Aku tak tahu kontraksi palsu itu apa, tapi mendengar dia baik-baik saja membuat segala ketakutan yang membayang seketika sirna.
***
Sesuai perintah Pak Armand, aku masuk ke dalam kamar. Nadya telah dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Kamar itu didominasi oleh warna nude. Satu brankar berada di tengah ruang sementara sofa besar berada di dekat jendela.
Wanita itu tengah memandang keluar jendela. Mendengar suara pintu dibuka, dia langsung menoleh. Tatapan kami pun bertemu.
Kalau boleh jujur, sebenarnya aku mengumpulkan keberanian cukup besar untuk menemuinya. Perasaan tidak enak dan bersalah yang menjadi penyebabnya. Meskipun adegan yang dia lihat bukan sepenuhnya salahku, namun aku telah mencintai suaminya. Hal itu yang membuat perasaan bersalah ini sangat besar.
Mengetahui aku yang datang, dia kembali membuang muka. Sangat terlihat bahwa kedatanganku tak diharapkannya. Membuat langkahku ragu untuk mendekat.
"Punya nyali juga ya kamu menemuiku seperti ini?" Langkahku langsung berhenti.
"Puas melihatku seperti ini? Apa memang ini tujuanmu? Membuatku dan bayiku celaka?" Kata-kata setajam belati menghunus jantung. Kaku dan kelu. Itulah yang dialami lidahku.
"Aku, bukannya tidak tau dengan perasaanmu. Dalam sekali lihat, aku tau kamu menyukai bahkan mencintai suamiku," lanjutnya. Kejutan yang membuat mata membelalak dan jantung berdebar kencang.
"Bukankah hati seorang istri sangat peka? Lalu, apa kamu pikir dia memiliki perasaan yang sama? Tidak, Arsha. Jangan terbuai dengan ucapannya. Dia mengatakan itu pada banyak wanita. Kamu bukan wanita spesial di matanya. Kamu hanya bentuk pelarian dari rasa bosannya."
Otakku benar-benar kosong. Aku tidak siap menerima kata-kata frontal yang langsung menghujam jantung.
"Kamu masih muda dan cantik. Masa depanmu masih panjang. Kamu bisa memilih lelaki manapun yang masih lajang. Negara kita tidak kekurangan lelaki lajang bukan? Apakah etis menginginkan pria yang sudah beristri?"
"Keluargamu juga pasti mengajarkan hal yang baik-baik. Merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain pasti tidak diajarkan bukan? Atau memang diajarkan? Menjadikan hal itu sesuatu yang lumrah?"
Airmataku sudah meleleh tanpa bisa dibendung. Ayah dan Ibu tidak tahu apa-apa. Kenapa disangkut-pautkan dengan hal ini? Kenapa menghina mereka? Sakit sekali rasanya mendengar kata itu.
"Arsha, mungkin kamu pernah mendengar kata-kata ini. Wanita baik-baik tidak akan pernah merebut apa yang sudah menjadi milik orang lain. Bila melakukannya, itu adalah prilaku wanita tak berpendidikan, tak tahu malu, murahan dan sangat hina. Kamu tidak ingin 'kan dicap seperti itu? Kamu tentu tidak mau 'kan mempermalukan keluargamu?"
"Tekan perasaanmu. Buang jauh-jauh perasaan itu. Bila dia mendekat, tolak dan jauhi dia. Pergilah. Pergi yang jauh dari kehidupan kami. Kami tidak ingin melihatmu lagi. Jangan usik kebahagiaan kami. Pergi!"
__ADS_1
***
Happy Reading 🙂🙃