
"I miss you, Nay." Kata yang keluar dari mulut seorang pria yang memiliki tatapan sangat tulus. Dari matanya aku sudah bisa menilai, bahwa pria ini benar-benar jujur dengan ucapannya.
Aku tersenyum lebar. Balik menepuk-nepuk punggung tangannya. "Aku juga, partner in crimeku. Nggak nyangka, bisa ketemu lagi seperti ini...." Bunyi panggilan telepon mengalihkan perhatian. Aku menarik tangan dari genggaman Saka dan mengambil ponsel yang terletak di saku celana.
Membaca nama si penelepon saja sudah membuatku malas. Orang yang paling ingin kuhindari tengah menghubungi. Ingin rasanya mereject panggilan itu. Namun alih-alih merejectnya, aku memilih untuk mengabaikan dan kembali memasukkan ponsel ke dalam saku.
"Nggak diangkat?"
"Nggak penting kok. Oh ya, gimana kabarmu? Gimana kabar keluarga, sehat?" Bunyi ponsel tak kunjung berhenti, benar-benar mengganggu pembicaraan kami.
"Sepertinya penting, Nay. Coba kamu angkat dulu," desak Saka. Dengan perasaan kesal, aku kembali mengeluarkan ponsel. Begitu tombol hijau akan kugeser, panggilan itu berhenti sendiri.
"Mati." Aku mengangkat bahu sembari mengacungkan ponsel di depan Saka. "Gimana kabar om dan tante? Sehat?" Saka sudah membuka mulut, bersiap untuk menjawab. Namun serangkaian bunyi pesan tak berkesudahan kembali menginterupsi.
Cepat naik.
Pekerjaanmu masih banyak.
Ini masih jam kerja.
Perusahaan menggajimu untuk bekerja. Jangan membuang uang perusahaan dengan sia-sia.
Secara spontan aku mengedarkan pandangan sekeliling, untuk melihat keberadaannya. Entah mengapa aku merasa pria itu tengah melihatku, namun tak kutemukan sosok itu.
Tiba-tiba aku teringat, lokasi kantin yang berada di belakang gedung bisa dilihat dari ruangan orang itu. Serta merta aku mengarahkan pandang ke lantai dua.
Benar saja. Tatapanku langsung bertemu pandang dengan sosok tinggi besar yang tengah berdiri di balik kaca. Aku tidak bisa melihat ekspresinya dengan jelas, karena jarak yang cukup jauh. Namun melihat gesturnya yang kaku dan isi chatnya, aku bisa menyimpulkan bahwa pria itu tengah marah.
"Pesan dari siapa?"
"Hah?" Suara Saka berhasil mengalihkan perhatian. Aku menatap pria itu dengan linglung.
"Siapa?" tanya Saka sembari mengedikkan kepala ke arah ponsel.
"Oh, oh, ini ...." Aku kembali melihat ruangan orang itu. Pria itu masih menatap dengan sangat dingin. "Em, i-ini dari bosku. S-sepertinya aku harus kembali ...." Aku berdiri dengan buru-buru.
"Mau kemana?" Saka menahan lenganku.
"Aku harus kembali. Ini masih jam kerja ...."
"Pulang jam berapa?"
"Nggak tau. Nggak pasti."
"Biasanya jam operasional selesai jam berapa?"
"Jam lima sih. Tapi pulangnya lebih dari itu ...."
"Ya sudah, jam lima aku kesini. Sana, kerja lagi." Saka ikut-ikutan berdiri. Berhadap-hadapan seperti ini membuat jarak tinggi kami semakin terlihat. Jika diukur secara kasat mata, sepertinya tinggi Saka sama dengan orang itu.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih sama kayak dulu? Tetep boncel." Saka meletakkan telapak tangan di atas kepala dan mulai mengkusuk-kusuk rambutku. Tinggiku hanya sebatas dadanya.
"Hish, apaan sih. Aku bukannya boncel. Kamu aja yang pertumbuhannya upnormal. Sana ah, aku mau balik dulu."
"Entar jam lima aku jemput ya."
"Tapi aku nggak janji jam segitu udah selesai ...."
"Nggak apa-apa. Aku tungguin. Sana kerja." Saka memutar tubuhku dan mendorongnya pelan.
"Aku balik dulu ya. Senang bertemu denganmu, partner in crimeku." Aku melambaikan tangan dengan semangat. Saka tersenyum lebar sembari membuat gerakan menghalau.
***
Sekembalinya dari bertemu Saka, aku kembali ke meja kerja. Sepanjang jalan aku sudah membayangkan akan diberondong dengan berbagai pertanyaan. Aku sudah menyiapkan jawaban-jawaban ketus yang akan melukai hati siapa saja yang mendengarnya. Namun ternyata prediksiku salah.
Pria itu tidak menungguku. Pintunya tertutup rapat. Aku menghembuskan napas lega. Setidaknya untuk saat ini aku terbebas darinya.
Aku menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk. Mengecek semua berkas dan menginputnya dalam sistem kredit. Mencocokkan saldo kas di akhir hari. Aku sudah mulai terbiasa dengan pekerjaan ini sehingga kesalahan-kesalahan yang acapkali kulakukan di saat awal kerja sudah tidak kulakukan lagi.
Tanpa sadar, semua pekerjaan itu sudah selesai. Aku melirik ruang HO yang sedari tadi masih tertutup rapat. Tumben sekali pria itu tidak menggangguku. Sebenarnya ini merupakan hal yang bagus. Aku bisa terbebas dari sikapnya yang sangat mengganggu.
Suara notif pesan masuk mengalihkan perhatian. Aku melirik ponsel.
Aku sudah di bawah.
Pesan dari nomor baru. Aku mengusap ponsel dan melihat profil whats app-nya yang bergambar bendera merah putih. Nomor Saka-kah?
Iya. Siapa lagi. Cepet turun.
Wait.
Waktu menunjukkan pukul 17.03 WIB. Bila aku pulang sekarang, ini akan menjadi rekor tercepatku pulang on time. Lagi-lagi aku melirik ruangan yang tertutup rapat itu.
Sebenarnya, tidak ada salahnya pulang saat ini. Semua pekerjaan telah kuselesaikan. Dan lagi, ini sudah melebihi jam operasional. Tidak ada ruang bagi orang itu untuk memarahiku. Berbekal pemikiran seperti itu, aku membereskan meja kerja sampai rapi. Mengambil tas dan beranjak pergi.
"Aku duluan ya," ucapku pada teman-teman yang berada dalam satu ruang.
"Tumben on time?"
"Paling mau kencan."
"Oh ya, tadi Pak Abdul bilang pacar Arsha tentara. Cie, cie ...." Ruangan itu seketika menjadi ramai. Aku hanya menanggapinya dengan tersenyum lebar.
Entah mengapa kabar itu berkembang menjadi sangat cepat. Aku berlalu dari ruangan itu dengan diiringi suitan dan godaan. Sekarang satu kantor beranggapan bahwa aku memiliki pacar seorang tentara. Kabar ini lambat laun akan sampai ke telinga orang itu. Dipikir-pikir, kejadian ini sangat menguntungkan. Baru tadi pagi aku berpikir untuk mendapatkan seorang pacar (meskipun pacar bohongan) dan sekarang, semesta benar-benar mengirim seseorang itu. Setidaknya, untuk saat ini, Saka akan menjadi tameng yang bagus untukku.
***
Saka menunggu di depan kantor. Kali ini pria itu tak lagi memakai seragam. Dia memakai kaos berwarna putih yang ditutup dengan jaket hitam. Sementara celana jeans berwarna hitam membalut kakinya. Rambut cepaknya tersisir rapi. Melihat penampilannya yang stylist, mungkin tidak akan ada yang menduga bahwa dia seorang tentara. Hanya potongan rambut cepaknya yang terlalu rapi yang membuat orang menduga profesinya.
__ADS_1
Kehadirannya cukup menarik perhatian. Hal itu terbukti dengan banyaknya pasang mata (terutama mata para wanita) yang memperhatikannya secara terang-terangan. Tak bisa dipungkiri, (sebenarnya aku sangat malas mengakui), Saka memang tampan. Bila bertemu di jalan, seratus persen aku tidak akan mengenalinya. Bocah kecil berkulit hitam legam dan pendek itu tak ada lagi. Berganti dengan pria gagah berkulit sawo matang yang mempesona.
Begitu melihatku, dia serta merta datang menghampiri.
"Sudah selesai?"
"Hu'um."
"Ayo." Satu tangannya mengambil tasku, sementara tangannya yang lain menggandeng tanganku. Orang lain pasti akan berpikir bahwa kami benar-benar pacaran.
"Mau kemana?"
"Keliling kota Jember. Sambil cari makan," jawabnya santai. Kami berjalan ke area parkiran dan berhenti tepat di sebelah motor ninja berwarna hitam.
"Pakai helm dulu." Pria itu mengambil helm dan tanpa banyak bicara memasangkannya kepadaku.
"Aku bisa pakai sendiri," protesku. Tangan Saka bergerak cepat. Tak sampai semenit, helm itu sudah terpasang dengan aman.
"Boncel, tapi imut," gumamnya pelan.
"Apa?"
"Kamu boncel." Saka memakai helm dan duduk di atas motor. "Ayo naik," ucapnya sembari menepuk-nepuk jok. Aku menuruti ucapan Saka dan menghela tubuh hingga duduk di atas motor.
"Kakimu nyampe?"
"Apa maksudmu? Ya nyampe 'lah."
"Kupikir nggak nyampe. Kakimu 'kan pendek."
"Apa katamu?!" Aku mencubit pinggang Saka dengan kekuatan penuh.
"Auw, auw, ampun Nay. Iya, ya. Kakimu panjang dan jenjang. Puas? Lepasin, please."
"Ngomong aku boncel lagi, kucubit nih." Aku membuat gerakan tangan seperti capit kepiting.
Saka mengelus-ngelus pinggangnya. Wajahnya meringis. Mungkin karena di tubuhnya tak ada lemak, sehingga cubitanku lebih terasa.
"Dulu suka mukul. Sekarang suka nyubit. You such a beautiful monster."
"Lebay. Yuk, cuzz berangkat." Aku menepuk punggung Saka dengan keras.
"Arsha. Mau kemana?"
Mendengar namaku dipanggil, secara spontan aku mengalihkan ke arah suara. Sebenarnya aku sudah suara siapa, karena aku sangat mengenalnya.
Terlalu sibuk bercanda dengan Saka membuatku tidak menyadari kehadiran Xpander Silver yang baru memasuki area parkir dan terparkir tepat di sebelah kami.
Orang yang malas kusebut namanya itu berada di samping mobil. Menatapku dengan tatapan dingin dan rahang mengeras. Belum sempat kujawab pertanyaannya, dari mobil penumpang keluar seorang wanita yang tak lain adalah Nadya.
__ADS_1
***
Happy Reading 🥰