Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 67 - POV Armand


__ADS_3

Aku memang sangat lega melihat Arsha telah ditemukan, tapi melihat kondisinya yang terluka membuat amarah yang tak pernah ada mencuat ke permukaan. Berkali-kali aku meyakinkan diri untuk menekan dan mengendalikan gemuruh yang memenuhi dada. Mencoba fokus pada kesehatan Arsha.


Setelah memastikan Arsha tertangani dengan benar, aku tak bisa menahan diri lagi. Aku kembali ke puncak. Tujuannya satu. Untuk mencari si bangsat itu!


Perkelahian terakhir yang kulakukan terjadi pada saat masih SMA. Ketika hormon masa muda lebih mengambil alih dibanding logika. Aku tak percaya di umur yang hampir kepala tiga ini aku melakukan hal yang sama. Memukul dengan tangan kosong dan membabi buta.


Pria itu tak membalas. Lebih tepatnya tak ada kesempatan. Aku memintanya untuk meminta maaf secara langsung pada Arsha. Mungkin masih diliputi perasaan bersalah, pria itu mengikuti mauku tanpa banyak protes.


Ada satu momen yang membuatku bertanya-tanya. Ketika aku dan Arsha berada di ruang yang sama. Aku merasakan atmosfir yang berbeda. Sebenarnya, bukan satu dua kali aku berada dalam satu ruang dengan Arsha. Namun tak pernah meninggalkan perasaan seperti ini.


Atmosfir di ruang itu memanas. Aku merasa gerah dan kepanasan. Padahal angka di AC menunjukkan suhu 20 derajat. Bagaimana mungkin aku bisa gelisah dan segugup ini padahal hanya berhadapan dengan anak kecil yang kuanggap sebagai adik sendiri?


Aku menyalahkan hormon atas hal tak masuk akal ini. Hormon kelelakianku lebih banyak mengambil alih dibanding akal pikiran. Aku meyakinkan diri, bahwa di mataku Arsha bukanlah wanita, melainkan adik kecil yang harus kulindungi.


***


Nadya datang tiba-tiba. Memaksa untuk tinggal bersama. Dia muncul begitu saja di depan apartemen dengan dua koper besar di tangannya.


"Aku akan mengantarmu." Aku meraih pergelangan tangannya dan menariknya keluar.


"Ngantar kemana, Bi?!"


"Pulang."


"Nggak mau!!" Wanita itu menghempas tanganku dan kembali masuk ke apartemen.


"Nad."


"Jangan suruh aku pulang, Bi! Aku nggak mau!"


"Nad, kamu tidak seharusnya ada di sini."


Nadya menangis. Memohon-mohon untuk tetap tinggal. Akhirnya aku membiarkannya untuk tinggal sembari menunggu emosinya reda.


***


Hari pertama, aku masih membiarkannya tidur di kamar utama. Apartemen ini memang hanya memiliki satu kamar. Di desain untuk pria atau wanita lajang dan pasangan yang tak berniat untuk menambah anggota keluarga.

__ADS_1


Di hari kedua, aku membujuk Nadya untuk pulang, namun dia tetap bersikukuh pada pendirian. Dia memohon untuk tetap tinggal. Nadya beralasan, bahwa dia tertekan tinggal di Surabaya. Aku menelepon keluarga di Surabaya, meminta mereka untuk menjemput Nadya. Mama bercerita kalau Nadya banyak menangis dan beberapa kali harus bedrest disebabkan masalah pada kehamilannya. Untuk menjaga kondisi psikologis Nadya, Mama memintaku untuk menjaganya.


Demi menjaga kesehatan mental Nadya yang akan berdampak terhadap bayinya, seluruh keluarga sepakat untuk memenuhi apa yang Nadya minta. Tidak masuk akal memang, namun aku juga tidak tega mengusir wanita itu keluar.


***


Tinggal bersama wanita tanpa memiliki ikatan apapun membuatku risih. Untuk itu aku menyewa salah satu unit untuk dijadikan tempat tinggal Nadya. Unit itu terletak tepat di depan unitku. Jadi tidak ada alasan bagi Nadya untuk protes.


"Kamu tinggal di sini. Aku sudah bayar sewa bulanannya."


"Bi! Aku nggak mau. Aku mau tinggal sama kamu!"


"Patuhi aturanku, atau aku paksa kamu pulang." Mungkin Nadya melihat kalau aku serius dengan ucapanku, sehingga dia tak protes lagi.


Meskipun tinggal di unit terpisah, hampir setiap menit Nadya berada di apartemenku. Banyak hal yang dijadikannya alasan. Entah itu karena masalah kehamilan, kesepian tinggal sendiri, berbagi makanan dan lain-lain.


"Bi ...."


"Apalagi?"


Nadya wanita yang cantik. Dia juga cerdas dan cukup memiliki bakat di bidang desain interior. Bila diasah dan minatnya difokuskan, dia pasti akan berkembang. Sayangnya semua yang dimiliki harus hilang karena kecerobohannya sendiri.


"Bi, aku pengen batagor," ucapnya sembari mengelus-ngelus perutnya yang menonjol.


"Jam berapa ini, Nad. Besok aja."


"Bayinya pengen sekarang. Ayo anterin, Bi. Please, anterin ya. Katanya kamu bisa bantuin aku apa aja."


Aku menggusal rambut. Malas sebenarnya, tapi ada rasa kasihan melihatnya seperti itu.


"Ya udah, tunggu. Aku ganti baju dulu."


Semenjak kedatangan Nadya, aktivitas sehari-hariku mulai berubah. Di saat aku berangkat kerja, aku menyuruhnya untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia seorang design interior. Meskipun tak sama seperti dulu, tapi lambat laut hubungan kami mulai kembali seperti semula. Dia seperti adik sekaligus seorang teman.


Aku menemani Nadya kontrol dan sebisa mungkin selalu ada ketika dia membutuhkan (terkait kehamilannya). Aku berusaha mengorek mengenai ayah dari bayinya, namun Nadya selalu mengatakan bahwa pria itu telah pergi. Aku ingin mencari pria itu dan menuntut tanggung jawab yang harusnya diambil. Tak mendapat jawaban dari Nadya, aku mengumpulkan beberapa informasi yang relevan terkait hubungannya dengan para lelaki.


Informasi sementara yang kudapat, beberapa bulan yang lalu, Nadya pernah menjalin hubungan one night stand dengan pria yang juga tak dikenal oleh teman-temannya. Pertemuan itu terjadi di suatu club. Dalam kondisi mabuk, mereka melakukannya. Tak ada info lebih lanjut yang bisa kudapatkan. Aku masih memiliki PR untuk mencari tahu identitas pria ini.

__ADS_1


***


"Kenapa senyum-senyum, Bi? Ada yang lucu?"


"Nggak ada."


"Kenapa sih? Aku jarang liat kamu senyum-senyum." Nadya melongok hapeku. Secepat kilat aku menghindar. "Ada apa sih? Ada hal bagus?"


"Nggak ada Nad."


Aku tengah memikirkan Arsha yang lucu. Mengingat tingkahnya selalu berhasil membuatku tersenyum.


"Bi, bekalnya."


"Nggak usah."


"Kenapa?"


"Udah ada yang bawain."


"Siapa?"


Terlalu sering berinteraksi dengan Arsha membuatku secara tak sadar menceritakan gadis itu pada Nadya. Mungkin aku memang tidak peka. Aku tidak tahu kalau hal ini akan berimbas buruk terhadap hubunganku dengan Arsha ke depannya.


***


Sikap Arsha berubah. Dia tak lagi lucu. Dia lebih banyak menghindar. Dia juga mendingin. Hal itu sangat membingungkan. Apa aku telah berbuat salah?


Jujur saja, aku bingung dengan perubahan Arsha. Padahal selama ini hubungan kami baik-baik saja. Kami sering makan bersama dan banyak melakukan hal-hal menyenangkan. Namun sekarang Arsha tak mau melakukannya. Ketika aku mengkonfrontirnya, dia mengatakan bahwa ada hati yang harus dijaga.


Emosiku terasa sampai di ubun-ubun. Ada indikasi dia memiliki pacar. Kenapa aku jadi sangat marah? Terakhir kali aku marah ketika melihat Arsha terluka, sekarang kemarahan itu kembali datang. Apa ini sikap seorang kakak yang tidak rela adik kecilnya memiliki pacar?


***


Happy Reading 🥲🙏


NB : Nulis ginian aja butuh waktu luuuuaaamaaa 🥲🙏 Maaf ini tanpa revisi ya, nggak sempat. Maaf kalo amburadul 🥲🙏

__ADS_1


__ADS_2