
Aku bertindak tanpa berpikir. Membayangkan Pak Armand berada di dalam ruang yang dilalap api menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Aku takut, sangat takut. Aku takut terjadi apa-apa padanya. Aku tak kan pernah mampu memaafkan diri sendiri bila hal buruk terjadi padanya. Aku tak ingin kehilangan dirinya!
Pusat api berada di lantai dua, namun asapnya sudah memenuhi banking hall dan area sekitarnya. Ruangan seperti dipenuhi kabut berwarna putih bercampur hitam. Begitu masuk, kepulan asap itu langsung terhirup begitu saja. Aku menutup hidung dan mencoba bernapas melalui mulut.
Jarak pandang menjadi terbatas. Mengandalkan ingatan, aku menyusuri tangga satu demi satu menuju lantai dua. Begitu tiba di lantai dua, aku sama sekali tidak bisa melihat pemandangan di depan mata. Kabut asap sudah memenuhi keseluruhan ruang.
Benar kata Kak Niar, pusat api berada di dekat ruangan Pak Armand, lebih tepatnya di ruang pemberkasan. Api itu masih berkobar-kobar, menyala merah layaknya lidah setan. Semakin didekati, energi panas itu semakin terasa.
Terlalu banyak menghirup karbon monoksida membuatku kesulitan bernapas. Aku terbatuk-batuk untuk membersihkan paru-paru dari zat berbahaya itu.
"Pak?!! Pak Armand?!! Anda dimana?! Uhuk!! Uhukk!" Mata mulai berair, hidung mulai mengeluarkan lendir. Dada semakin sesak. Pandangan semakin kabur. Kepala mulai pusing sementara perut pun mual.
"Bapak dimana?! Pak!! Pak!! Ini aku!! Arsha!!" Aku berusaha berteriak sekuat mungkin, namun tak ada sahutan. Tak ada tanda-tanda ada kehidupan di sana. Pikiranku semakin kalut. Aku takut Pak Armand pingsan dan terjebak di dalam ruang.
"Pak!!" Aku bergerak maju. Jilatan si jago merah terasa semakin panas. Membuat kulitku serasa terbakar. Aku memberanikan diri untuk mendekati ruang Pak Armand, untuk memastikan pria itu berada di sana.
__ADS_1
Setengah pintu ruang itu sudah terbakar. Tanpa berpikir, aku berusaha memutar kenop pintu.
"Auuwwww!!" Kenop stainless steel itu menghantarkan panas dengan sempurna. Tanganku melepuh. Pun begitu, aku tak begitu menghiraukan. Tidak berhasil menggunakan tangan, aku menendang pintu itu dengan kaki beberapa kali. Tak berhasil. Pintu itu tetap tak bisa terbuka.
"Pak!! Bapak!! Bapak di dalam 'kah?! Pak, ini Arsha! Ayo keluar Pak! Uhuukk!! Uhuuukk!" Teriakku. Suaraku mulai melirih. Aku terbatuk-batuk dengan hebatnya. Membuatku harus bersimpuh sembari memegang dada. Dadaku sesak dan sangat sakit. Sepertinya zat yang kuhirup sudah terlalu banyak. Zat itu memenuhi paru-paru, sehingga digunakan untuk bernapas pun menjadi sakit.
Air mataku tak berhenti mengalir. Campuran dari rasa pedih asap dan kesedihan karena tak mampu menemukan Pak Armand.
"Pak, Bapak dimana? A-ayo keluar Pak, hah, hah, hah ...." Napas mulai tersengal-sengal. Semakin mencoba menghirup, semakin sakit dada ini. Menahan diri untuk tak bernapas juga tak bisa.
Sedikit demi sedikit, pandangan mulai kabur. Kesadaran secara bertahap mulai menghilang. Pemandangan di depan mata semakin tak terlihat. Namun anehnya, sayup-sayup dari kejauhan, aku mendengar namaku dipanggil-panggil. Aku ingin menjawab, namun mulut ini sudah tak bisa berucap.
"Aku di sini!" Ingin aku berteriak seperti itu. Jangankan teriakan, suara lirihan pun sudah tak mampu kuucapkan. Napas tersisa sepenggal-sepenggal.
"Arsha!! Kamu dimana?!"
__ADS_1
Mungkinkah ini mimpi? Mungkin aku tengah berhalusinasi? Karena terlalu ingin melihatnya, memastikannya tidak kenapa-kenapa, aku mendengar suara Pak Armand memanggil-manggil dari kejauhan.
"Pak, aku di sini! Aku cari-cari Bapak. Bapak darimana?" Bisakah dia mendengar suaraku?
Dalam anganku, aku tengah berteriak. Melambai padanya, agar dia bisa melihatku.
"Ar!! Arsha! Kamu dimana Sayang?!"
Baru kali ini aku mendengar pria itu berteriak. Jadi seperti ini suaranya? Sepertinya Pak Armand khawatir ya? Padahal aku nggak apa-apa.
Syukurlah kalau Bapak nggak apa-apa. Aku sangat lega. Dari tadi aku mencarimu, Pak. Bapak darimana saja?
Kepalaku semakin pusing Pak. Aku tidur dulu ya sebentar.
***
__ADS_1