
Dua mobil pemadam kebakaran dengan raungan sirine merapat tepat di depan kantor Bank J****. Sesaat kemudian, beberapa belas petugas damkar pun turun. Mereka membentuk formasi sesuai dengan tugas masing-masing. Ada yang menurunkan pipa, ada pula yang mengelilingi lokasi dan mencoba masuk ke gedung.
Begitu melihat petugas damkar datang, Nadya langsung berlari ke arah mereka. Wajahnya sudah kusut masai dipenuhi airmata.
"Pak!! Tolongin teman saya Pak! Dia ada di dalam Pak! Cepat ditolong Pak!" ucapnya memohon-mohon sembari memegang lengan petugas.
"Masih ada orang di dalam?"
"Ada Pak!! Cepet tolongin Pak!"
Mendengar penuturan Nadya, petugas yang sepertinya ketua tim memberi aba-aba ke anak buahnya untuk memasuki gedung. Mereka bergerak sangat cepat. Menyisiri gedung dan mengamankan jalur lintas mereka.
Nadya menunggu dengan hati yang kalut. Mulutnya tak henti-henti merapal doa. Memohon agar Armand bisa keluar dengan selamat. Tak kurang dari sepuluh menit, petugas keluar dengan membawa dua buah tandu. Mata Nadya membelalak melihat Armand yang terbaring tertelungkup.
"Abi!!" Dia menghambur mendekati tandu Armand. "Abi!! Bangun Bi! Bi!!" Runtuhan plafon dan batang besi merobek baju Armand sehingga robekan lukanya terlihat. Mata Armand yang tertutup membuat Nadya panik setengah mati. Dia mengabaikan Arsha yang juga tengah tak sadarkan diri.
"Abi!! Bangun Bi!! Bi!! Jangan tinggalin aku Bi!!" Nadya meraung-raung. Dia berusaha menjangkau tubuh Armand, namun dihalangi oleh petugas.
"Permisi, Bu! Jangan menghalangi jalan!"
Dua mobil ambulan sudah standby di depan kantor. Petugas medis bergerak cepat. Mereka segera menyongsong tandu dan memindahkan tubuh Armand dan Arsha. Begitu pintu akan ditutup, Nadya menerobos petugas.
__ADS_1
"Saya mau ikut, Pak!"
"Maaf, Bu. Hanya keluarga saja yang boleh ikut ...."
"Saya keluarganya! Saya ikut!" Nadya tetap memaksa. Akhirnya petugas mengalah dan membiarkannya masuk. Ada dua petugas di dalam ambulan dan tengah memberi pertolongan pertama. Mereka memberi Armand oksigen 100 persen untuk menghilangkan kandungan karbon monoksida yang telah dihirup.
"Bi!! Bangun Bi! Sadar dong Bi!" Tangis Nadya semakin keras apalagi ketika melihat luka di tubuh Armand. "Bangun Bi! Maafin aku Bi! Please, Bi!"
"Bu, tolong tenang ya."
"Bagaimana saya bisa tenang kalau teman saya tidak bangun?!"
"Teman Ibu keracunan gas CO. Kami sudah memberinya oksigen. Sesampainya di RS kami akan memberi penanganan lebih."
"Ba-bagaimana dengan lukanya?" Ada luka bakar di punggung Armand yang cukup besar.
"Melihat dari lukanya, pasien mengalami luka bakar derajat dua. Dan sepertinya ada fraktur di tulang punggung. Kami akan memastikannya setelah di rontgen."
***
Sesampainya di rumah sakit, Arsha dan Armand langsung dipindahkan ke ruang tindakan. Kondisi Armand dan Arsha yang berbeda membuat penanganan yang dilakukan pada mereka pun berbeda.
__ADS_1
Dokter langsung menjalankan analisa gas darah untuk melihat kadar carboxyhemoglobin di dalam darah Arsha maupun Armand. Bila kadar COHb pada pasien lebih tinggi 3–4% dari kadar normal, bisa dipastikan pasien mengalami keracunan karbon monoksida.
Selain analisa gas darah, dokter juga melakukan pemeriksaan untuk menilai fungsi organ lain, seperti jantung, paru-paru, ginjal, dan otak, juga dilakukan. Pemeriksaan itu akan disesuaikan dengan tingkat keracunan karbon monoksida dan beratnya hipoksia yang dialami keduanya.
Hasil analisa menunjukkan mereka berdua mengalami keracunan gas CO. Untuk itu dilakukan terapi oksigen berupa pemberian oksigen melalui masker oksigen. Terapi ini berfungsi agar kadar carboxyhemoglobin bisa turun dan berada di angka normal.
Setelah dilakukan terapi oksigen, Arsha dipindahkan ke ruang perawatan. Sementara Armand membutuhkan tindakan lanjutan. Luka bakar di punggung dan dugaan adanya fraktur yang menjadi penyebabnya.
Nadya hilir mudik di depan ruang Armand. Pikirannya kalut. Dia ingin menghubungi keluarga besar namun takut keluarga terlalu terkejut ketika mendengar berita ini. Untuk itu ia memutuskan akan menunggu kabar lanjutan baru setelah itu menghubungi keluarga.
"Dengan wali pasien atas nama Arsha Nayyara Usman?" Seorang wanita dengan rentang usia sekitar dua puluh tahunan dan berseragam perawat berjalan mendekat.
Nadya menatap wanita itu dengan bingung. Apa yang dibicarakan wanita ini?
"Ya??"
"Anda wali pasien atas nama Arsha?"
"Oh, ah Ar-Arsha?"
"Iya. Ibu Arsha sudah sadar. Mungkin Anda mau menemuinya."
__ADS_1
***