
Satu tahun kemudian
"Hoaaaammm ...." Arsha menangkup mulut dengan telapak tangan, berusaha menahan kuap yang semakin melebar. Beberapa kali dia menepuk-nepuk pipi, berharap tindakannya itu bisa membuat matanya melebar.
Tingkahnya itu tak luput dari penglihatan mata yang sedari tadi melihatnya dengan geli. Seulas senyum tipis terbentuk. Pria sang pemilik senyum mengusapkan telapak tangannya yang besar di kepala Arsha.
"Ngantuk?" Nada suaranya sangat hangat. Berbanding terbalik dengan tubuhnya yang tinggi dan gagah. Merasa mendapat perhatian, tingkah Arsha semakin menjadi. Dia menggelayutkan tangannya di lengan pria itu. Dia mendongak dan memasang tampang puppy eyes.
"Hu'um. Ngantuk banget. Kapan acaranya selesai sih?"
"Sabar. Sepuluh menit lagi juga kelar," jawabnya sembari melirik arloji yang terlilit di lengan.
Waktu menunjukkan pukul 20.51 WIB. Mereka tengah berada di aula hotel bintang 4 di Jember. Mereka sedang menghadiri pernikahan mereka sendiri. Arsha dan Armand menikah hari ini!
Kisah cinta mereka dimulai semenjak kedatangan Armand ke rumah Arsha setahun yang lalu. Armand dengan begitu tiba-tiba datang melamar Arsha. Setelahnya, waktu terasa begitu cepat berlalu. Selama satu tahun itu, banyak hal yang telah terjadi.
Pria yang disinyalir sebagai ayah biologis anak Nadya muncul tepat sebelum wanita itu melahirkan. Pria itu bukannya lepas tanggung-jawab, hanya saja Nadya tidak pernah memberinya kesempatan untuk bertanggung-jawab. Nadya menyadari kesalahannya. Meski dia tidak mencintai pria itu, dia menerima pria itu sebagai ayah dari anaknya, bukan sebagai kekasih hatinya. Mereka berkomitmen untuk membesarkan anak itu bersama-sama.
Nadya menjadi pribadi yang lebih positif. Dia kembali menekuni passion yang selama ini ia abaikan demi mengejar pria yang tak mencintainya. Seperti janjinya, Nadya menjauh dari Armand maupun keluarga. Dia memilih pergi ke Ibu Kota untuk mengejar passionnya. Nadya tak menikah. Dia hanya hidup sesuai inginnya. Berusaha mencari bahagianya sendiri, tanpa terobsesi dengan cinta butanya selama ini.
Untuk Saka, setelah mengetahui berita pertunangan Arsha dan Armand, dia datang dengan gentle. Memberi ucapan selamat yang tulus pada keduanya. Setengah tahun yang lalu, pria itu berpamitan. Dia telah dipindah tugas ke bagian timur wilayah Indonesia. Entah itu hanya kebetulan, atau memang pria itu sengaja menjauh dari Arsha.
Malam ini, di hari spesial mereka, kedua orang itu tidak datang. Mungkin memang butuh waktu untuk menyembuhkan semua luka. Waktu itu tidak sekarang. Namun yakinlah, bahwa suatu saat nanti, waktu akan menyembuhkan semuanya.
***
Hamparan kelopak mawar berwarna merah bertebaran di atas lantai marmer putih. Kelopak itu membentuk pola seperti jalan setapak dari pintu masuk hingga mengarah ke ranjang king size yang berada di tengah kamar.
Di atas ranjang berwarna putih juga bertabur kelopak mawar berbentuk hati hingga rangkaian handuk putih yang dibentuk sepasang angsa yang tengah bercumbu.
Bukannya takut, Arsha malah bersemangat melihat hal itu semua. Dia sudah mempersiapkan diri dari jauh-jauh hari. Dia membekali ilmu malam pertama dari berbagai sumber. Dari online maupun offline. Dia sudah banyak mewawancarai teman-temannya yang lebih berpengalaman hingga belajar melalui internet. Arsha sudah siap secara lahir maupun batin untuk menghadapi malam ini.
Begitu masuk kamar, Arsha langsung bersih-bersih diri. Dia membersihkan wajahnya dari make up. Mandi sebersih dan sewangi mungkin. Hampir setengah jam dia berada di kamar mandi.
__ADS_1
Arsha sengaja memakai baju lingerie seksi yang sudah dia persiapkan jauh-jauh hari. Setelahnya dia membungkus tubuhnya dengan bathrobe dan keluar dari kamar mandi.
Dalam bayangannya, dia akan melihat pria kesayangan dan kecintaan yang telah menjadi suaminya itu tengah menunggunya dengan penuh harap di atas ranjang. Nyatanya, pria itu justru duduk di atas ranjang dengan laptop di tangannya. Matanya begitu fokus hingga kehadiran Arsha tak mempengaruhinya sedikit pun.
"Ehem!" Arsha berdehem, untuk menarik perhatian. Tubuh itu masih bergeming.
"Ehem!" Arsha berdehem untuk kedua kali. Salah satu kakinya udah mulai menghentak, menunjukkan kekesalan.
"Tenggorakannya gatal?" Wajah itu akhirnya mendongak. Dia menatap Arsha dengan penuh tanda tanya. Tangan kanannya menyaut sebotol air mineral yang berada di atas nakas.
"Duduk sini." Pak Armand menepuk ranjang. Tanpa babibubebo, kaki Arsha melangkah dengan sendirinya dan duduk tepat di sebelah Pak Armand. "Diminum dulu," ucapnya lagi.
Arsha menepis air itu. Wajahnya cemberut. Kedua tangan ia belitkan di atas dada. Andaikan dibuat versi anime, mungkin sudah keluar asap dari hidup Arsha.
"Pak?" Nada suara yang Arsha kira akan terdengar penuh kemarahan, nyatanya lebih terdengar seperti rengekan. Ciri khasnya. Arsha tak pernah bisa marah pada pria kecintaannya ini.
"Hem?"
"Bapak nggak mau ngapa-ngapain saya?" Akhirnya tercetus sudah. Sepertinya Arsha harus mengutarakan semua uneg-uneg di kepala menghadapi pria kaku dan tidak peka di depannya ini. Bila bermain kode-kodean, maka jangan harap ia akan mendapat hasil sesuai yang diinginkan.
"Itu lho. Aku banyak baca di internet. Katanya kalau habis nikah itu ada malam pertama."
"Oh ya? Bisa kamu deskripsikan malam pertama itu seperti apa?" Armand menyenderkan kepala di headboard. Kedua tangan ia silangkan di depan dada. Dia memperhatikan Arsha dengan tatapan geli.
"Penyatuan dua tubuh, melebur jadi satu." Arsha menangkupkan kedua telapak tangan hingga menjadi satu, untuk mendeskripsikan apa yang dimaksud.
"Oh ya? Seperti apa itu?" Armand menahan diri untuk tak tertawa melihat kelakuan istri absurdnya.
"Ih, Bapak kan laki. Bapak pasti tau lah!"
"Nggak. Aku nggak tau. Belum pernah ngelakuin juga."
"Oh, ternyata Bapak nggak pengalaman ya."
__ADS_1
"Memang kamu mau aku punya banyak pengalaman?"
"Ya nggak juga sih. Terus ini gimana? Kita nggak jadi malam pertama?"
"Ini kan sudah malam pertama. Malam pertama kita tidur satu kamar." Pak Armand menarik tubuh Arsha hingga jatuh di atas dada bidangnya berotot.
"Pelan-pelan saja ya. Kita masih punya banyak waktu." Kecupan manis sepersekian detik berlabuh di kening Arsha. Membuat wajah wanita itu memerah dan panas.
"Hem .... Pak?"
"Apa?"
"Bapak masih menganggap saya kayak anak kecil ya?"
"Terkadang."
"Jangan-jangan Bapak nggak nafsu sama saya?" Memikirkan hal itu membuat mata Arsha mulai berkaca-kaca.
"Mana mungkin kalau nggak nafsu aku nikahin. Ada-ada saja kamu ini. Ayo tidur. Besok masih kunjungan ke saudara-saudaramu 'kan?"
"Aku nggak mau tidur! Aku mau malam pertama! Gimana aku jawab pertanyaan temen-temen kalo malam ini aku nggak lakuin malam pertama?!"
"Kamu yakin mau malam pertama sekarang?"
"Yakin!"
"Nanti kamu nggak bisa jalan lho."
"Kok bisa?"
"Bisa aja. Masih yakin?"
***
__ADS_1
Happy Reading 😅🙏