Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 81 - [POV Author] Patah Hati


__ADS_3

Mendengar kabar kebakaran itu membuat Saka tak tenang. Tubuhnya berada di Surabaya, namun pikirannya di Jember. Ia mengkhawatirkan keadaan Arsha. Berkali-kali ia mengumpat dalam hati, mengapa harus ada kejadian buruk ini ketika ia sedang jauh dari Arsha?


Saka sedang menghadiri pertemuan penting dengan petinggi-petinggi. Dia yang berada di unit intel melakukan pembahasan-pembahasan tentang daerah operasi dan pengawasan kegiatan intelijen untuk kepentingan territorial.


Dari pagi Saka sudah menghubungi Arsha. Pada awalnya, pesannya masih mendapat balasan. Menjelang siang, pesan itu sudah centang satu. Saka masih berusaha positif thinking. Mungkin saja ponsel Arsha kehabisan daya. Namun rasa gelisah itu semakin meningkat seiring dengan pesannya yang tak kunjung terkirim.


Tak punya pilihan lain, Saka menghubungi nomor teman Arsha. Memang terlihat weird menyimpan nomor teman Arsha tanpa sepengetahuan wanita itu tapi hal itu bisa ia gunakan di saat-saat seperti ini.


Dari temen Arsha, Saka menjadi tahu apa yang tengah terjadi saat ini. Dia seperti mendengar kabar territori sedang dalam bahaya. Mengejutkan, namun tetap berusaha untuk tenang dan berpikir jernih.


"Bagaimana keadaannya?"


"Arsha dan Pak Armand sudah dibawa ke RS Mas."


"Armand? Kenapa dia juga dibawa ke RS?"


"Pak Armand tadi masuk nolongin Arsha. Malah beliau yang lebih banyak luka. Sudah ya Mas, saya dan teman-teman mau ke RS dulu."


Penggalan terakhir dari pesan itu dibaca berulang-kali. Saka sedikit lega, mengetahui Arsha sudah tertangani. Namun mengetahui bahwa pria itu yang berkorban untuk Arsha menimbulkan perasaan tak rela. Saka merasa berhutang budi.


Saka bukannya tak tahu perasaan Arsha maupun pria itu. Dari segi mengambil hati, bisa dikatakan ia jauh tertinggal. Hati Arsha sudah dipenuhi oleh Armand. Namun, setidaknya dia menang dalam banyak hal. Misal dari segi status. Ia masih single. Tak memiliki istri hamil yang butuh diurus. Itu penghalang terbesar bagi mereka untuk bersama.


"Ada yang mengganggu pikiranmu?" Terdengar sebuah suara dari arah membelakangi. Saka serta merta memasang pose siaga. Ternyata yang mendekat adalah teman sejawatnya.


Di tengah pertemuan, Saka memang ijin sejenak untuk ke toilet - meski sebenarnya dia tak ada kepentingan di sana. Tujuannya untuk membaca dan membalas pesan dari teman Arsha.


"Kulihat wajahmu dari tadi seperti orang bingung. Ada masalah?" Pria bertubuh tegap dengan tag name Abidzar itu mengedik ke arah ponsel Saka.


"Keluargaku ada yang mengalami musibah." Saka mengusap wajah. Posisinya yang masih di Surabaya membuatnya tak leluasa. Saka tak bisa segera melihat keadaan Arsha. Dia kesal atas ketidakberdayaannya ini. Di depan rekan sejawatnya yang dekat, dia tak mampu menyembunyikan kegelisahan.

__ADS_1


Abidzar menyarankan Saka untuk menghadap komandan dan meminta ijin untuk tak mengikuti rangkaian pertemuan lanjutan. Namun Saka tak mengambil saran itu. Dia tetap mengikuti pertemuan sampai selesai.


Begitu telah selesai, dia langsung bergegas ke Jember secepat yang dia bisa.


***


Saka masih mengenakan seragam lengkap. Bulir keringat menetes di pelipis, hingga membuat rambut cepaknya lengket dan basah. Bulir itu juga membasahi bagian atas bibir. Helaan napasnya yang cepat menyatakan bahwa pria itu habis berlari.


Begitu matanya menangkap meja resepsionis, dia segera mempercepat langkah untuk mempersempit jarak. Tujuannya hanya satu. Untuk menanyakan di ruang mana Arsha dirawat.


Nasib baik. Kedatangannya bertepatan dengan jam besuk sehingga ia tak mendapat penolakan. Saka bergegas ke ruang dimana tempat Arsha dirawat.


Sepatu boots itu menapaki lantai dengan suara bergema. Suara langkah itu menunjukkan pemiliknya sedang terburu-buru. Setelah menaiki lift dan melewati koridor yang cukup panjang, akhirnya Saka berada tepat di depan sebuah kamar. Dia memastikan nomor kamar sudah benar dan mengetuk pintu beberapa kali.


Tak ada jawaban.


Bayangannya, dia akan melihat seorang pasien wanita yang tengah terbaring lemah dengan selang infus di lengan kanan atau kiri. Kenyataannya, kamar itu kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa.


Saka mencari sumber kehidupan. Dia berpikir mungkin saja Arsha tengah berada di toilet. Namun dugaannya salah. Memang tidak ada siapa-siapa di kamar. Apa ia salah kamar?


Melihat brankar yang kusut dan beberapa bekas makan yang belum diambil, Saka yakin kamar ini berpenghuni. Namun kemana Arsha? Bukankah seorang pasien harusnya tetap berada di kamarnya?


Tak melihat ada interkom, Saka keluar kamar untuk bertanya dan mencari keberadaan Arsha. Di depan kamar, dia bertemu dengan salah satu perawat.


"Sus, pasien kamar ini kemana?" tanyanya.


"Oh, ibu Arsha? Dia di kamar Amarilis 05."


"Amarilis?" Kening Saka berkerut. Info dari resepsionis, Arsha dirawat di ruang Lily 03, kenapa berubah?

__ADS_1


Saka ingin menanyakan hal itu lebih lanjut, namun perawat sudah pergi dengan terburu-buru.


Ah mungkin dia tadi memang salah informasi.


Tak mau berpikir terlalu jauh, Saka mencari kamar itu. Langkahnya tergesa, namun hentakan sepatu menunjukkan bahwa dia orang yang tegas. Saka mengabaikan pandangan orang-orang yang berpapasan dengannya.


Jarak antara kamar Lily ke Amarilis cukup jauh. Setelah melewati lorong-lorong, dia melihat penunjuk arah ke area Amarilis. Kamar Amarilis 01 berada di ujung koridor. Dia hanya harus melewati lima kamar untuk mencapai tempat Arsha.


Saka mempercepat langkahnya. Dia sudah tak sabar untuk bertemu Arsha. Ia ingin memastikan kondisi wanita itu secara langsung. Pikiran dan perasaannya tak tenang.


Begitu mencapai kamar Amarilis 05, Saka mengangkat tangan. Bersiap untuk mengetuk. Namun gerakan tangannya terhenti di udara, begitu mata elangnya menangkap pemandangan yang seharusnya tak ia lihat.


Dalam sedetik ia bisa mengkonfirmasi siapa yang tengah dilihatnya saat ini!


Sang pria tengah duduk di brankar dengan posisi membelakangi, sementara posisi tubuh sang wanita menghadap ke arah pintu. Meski sebagian tubuh wanita itu dihalangi oleh sang pria, namun Saka bisa mengidentifikasi bagian sisi wajahnya yang terlihat separuh.


Sepasang manusia itu tengah berciuman!


Perasaan Saka tak akan bergejolak seperti ini andaikan orang lain yang melakukannya. Namun ia tak bisa menoleransi hal ini!


Saka melihat Arsha, -Nay-nya-, tengah berciuman dengan pria yang diyakininya adalah Armand! Pria yang sudah menikah dan memiliki istri yang tengah hamil! Dimana Arsha meletakkan otaknya?!!


Kemarahan dan emosi yang meluap membakar jiwanya. Saka sudah akan menendang pintu itu, untuk membuat dua insan menghentikan kegiatannya, namun sebelum hal itu ia lakukan, sebuah tangan mencekal lengannya. Saka menoleh cepat. Ia ingin menepis tangan itu yang menurutnya mengganggu.


Saka bertatapan dengan wajah familiar, meski tak terlalu dikenalnya. Dia melihat istri Armand!


***


Happy Reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2