
Suasana ruangan itu menjadi hening.
"Saya rasa penjelasan saya sudah cukup. Apa saya boleh keluar, sekarang?"
"Batasan?" Aku sudah melangkah ke arah pintu, namun langkahku terhenti begitu mendengar satu kata itu. Aku berbalik. Pria itu tengah memandangku. Kedua tangan dimasukkan saku. Dagu agak terangkat, dengan mata menelisik. Dari tatapannya, bisa kulihat adanya tantangan.
"Menjaga sikap dan tidak melewati batas? Apa maksud ucapanmu itu? Apa ada sikapku yang melewati batas? Apa aku melecehkanmu?"
Aku terperangah. Menatap pria di depanku dengan pandangan tak percaya. Apa dia benar-benar tidak memahami ucapanku? Seorang pria dewasa dengan umur yang cukup matang dan cerdas tidak memahami arti batasan? Apa dia sedang bercanda?!
Sorot matanya tajam dan serius. Ternyata dia tidak sedang bercanda! Sebenarnya pria ini bisa memahami hati manusia apa tidak sih? Sebutan "kaku" benar-benar cocok untuknya. Tidak hanya sikapnya yang kaku, tapi hatinya juga!
Baiklah, sepertinya aku harus menjabarkan secara detail, agar pria di depanku ini bisa memahami dan meresapi kata-kataku dengan baik.
"Bapak bertanya, sikap yang melewati batas? Mau tau contohnya?" Pria itu tak menjawab, namun dia menyimak semua perkataanku. "Contohnya adalah ini semua." Aku membuat gerakan dengan tangan. Menunjuk keseluruhan ruang.
"Apa Bapak pikir wajar, seorang atasan mengunci bawahan di ruangannya? Hanya agar si bawahan makan dan minum obat?" Ketika sudah memulai, aku menjadi susah untuk berhenti.
"Menanyakan masalah pribadi di kantor. Apa menurut Bapak itu tidak melewati batas? Bukankah itu tak ada hubungannya dengan perusahaan maupun Bapak? Kenapa Bapak mencampuri urusan saya?" Dia masih diam. Memberiku kesempatan untuk berbicara lebih banyak.
"Memegang tubuh bawahan tanpa ijin. Apa Bapak pikir memegang dahi, pipi, lengan tidak memerlukan ijin? Apa Bapak pikir orang yang menerima perlakuan itu akan senang? Tidak, Pak. Saya risih, sangat risih." Raut wajahnya berubah menjadi suram dan menggelap. Namun hal itu tak menghentikanku untuk mengeluarkan semuanya.
"Itu dari sudut pandang saya. Bayangkan dari sudut pandang pasangan kita masing-masing. Apa Bapak pikir pacar saya akan rela melihat saya diperlakukan seperti ini? Dan, bagaimana dengan perasaan istri Bapak? Dia juga pasti tidak akan suka melihat suaminya ...."
"Nadya akan baik-baik saja," sergahnya tanpa merasa bersalah.
"Bagaimana Bapak yakin istri Bapak akan baik-baik saja melihat suaminya memberi perhatian pada wanita lain? Tidak ada wanita yang ...."
"Nadya akan mengerti. Skip masalah Nadya. Masalah ini tak ada hubungannya dengan dia."
__ADS_1
"Tentu saja ada hubungannya. Saya membuat batasan ini untuk menjaga hati pasangan kita masing-masing."
"Jadi, kamu benar-benar risih?" Dahinya mengernyit, seperti orang yang sedang menahan sakit. Kedua tangannya disilangkan di dada. Menunjukkan sikap defensif. Dia mengabaikan ucapanku yang terakhir.
Tangannya naik untuk menggusal rambut. Sedetik kemudian, tangan itu telah berada di pinggang. Sikap tubuhnya berubah-ubah, tak setenang biasanya. Entahlah, dia terlihat seperti seseorang yang tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Hah, aku pikir tidak masalah. Mengingat beberapa kali kita skinship .... Aku tidak tahu, kalau hal itu sangat membuatmu risih." Dia menghela napas. "Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa ijin." Pak Kaku mengangkat tangan. Terlihat serba salah. Wajahnya terlihat sangat frustasi. Ada rasa kasihan .... Ah, tidak-tidak. Aku tidak boleh kasihan. Aku tetap harus keras padanya, maupun pada diriku sendiri!
"Sekarang, boleh aku berargumen?" tanyanya. Sepertinya dia kurang puas sebelum membantah ucapanku. Baiklah, aku juga ingin mendengar alasannya. Aku menganggukkan kepala.
"Kamu tadi berbicara mengenai batasan. Yang pertama, mengapa aku mengurungmu di sini? Selama di kantor, kamu menjadi tanggung jawabku. Sehat atau sakitmu, semua tanggung jawabku. Alasanku mengurungmu di sini, karena, bila aku sekedar memerintahmu untuk makan atau minum obat, kamu tidak akan melakukannya. Cara termudah adalah dengan memaksa dan mengurungmu."
"Kedua. Kenapa aku ingin tahu mengenai urusan pribadimu? Ini berkaitan dengan janjiku kepada kedua orangtuamu. Aku berjanji untuk menjagamu. Salah satunya dengan mencegahmu menemui pria yang salah."
"Kamu bicara batasan? Oke, ini batasannya. Aku tidak akan melakukan skinship. Kamu akan selalu jadi tanggung jawabku. Kamu sudah punya pacar? Pertemukan aku dengannya, atau aku akan mencari tahu sendiri."
***
Sekarang aku yang kebingungan sendiri. Apa yang harus kulakukan? Bagaimana cara mendapat pacar? Haruskah aku jujur saja? Kalau sebenarnya aku memang tidak punya? Ah, tapi itu akan melukai harga diriku. Hah!
Dasar bodoh. Niat hati berbohong agar bisa segera lepas dari dia, malah seperti menggali kuburan sendiri. Sekarang, jalan keluar seperti tertutup. Bagaimana ini?
Di tengah kebingungan itu, tiba-tiba telepon mejaku berdering. Aku takut untuk melihat nomor pemanggil. Takut orang itu yang menelepon. Menanyakan kapan waktu yang tepat untuk bertemu dengan pacar khayalan.
Telepon itu berdering terus menerus. Aku memberanikan diri untuk melirik monitor. Ah ternyata bukan nomor 201 yang memanggil, melainkan 100. Itu artinya, nomor security. Tumben?
Aku segera mengangkatnya. "Dengan Arsha, bagian back office. Ada yang bisa dibantu?"
"Mbak Arsha sibuk?" suara diseberang balik bertanya.
__ADS_1
"Tidak begitu, Pak. Ada apa ya?"
"Oh, ini Mbak .... Ada yang cari. Katanya temennya Mbak ...."
"Siapa namanya, Pak?"
"Em, beliaunya tidak mau bilang, Mbak. Katanya, biar Mbak Arsha sendiri yang ke sini. Gimana Mbak?"
Aneh sekali. Mengaku temanku, tapi ditanya namanya tidak mau jawab? Jadi penasaran.
"Oke Pak. Saya turun."
Berusaha untuk bersikap profesional, aku melepas jaket dan sedikit memoles bibir dengan lipstik agar tidak terlihat terlalu pucat. Menyisir rambut dengan tangan agar terlihat lebih rapi. Setelahnya, aku turun ke area banking hall dan berjalan ke area tunggu nasabah.
Memperhatikan nasabah satu per satu. Berharap melihat wajah familiar di sana. Namun nyatanya tak ada.
Aku menghampiri Pak Security, untuk menanyakan keberadaan "teman" itu.
"Itu lho Mbak. Yang pake baju loreng-loreng. Yang ngeliatin Mbak Arsha terus dari tadi." Aku melihat ke arah yang ditunjuk. Benar saja, mataku bertatapan dengan mata tajam seorang pria.
Menyadari aku sudah melihatnya, pria itu tersenyum. Kemudian dia berdiri dan mulai berjalan ke arahku.
Sosoknya sangat menonjol dan mengintimidasi. Sepatu bootsnya menghentak lantai langkah demi langkah. Pria itu memiliki potongan rambut cepak, berbadan tegap dengan tinggi badan 180 cm lebih. Dia memakai seragam loreng pas badan dengan lengan tergulung, memperlihatkan otot lengannya yang kekar. Sekilas pandang, semua orang akan tahu bahwa pria itu seorang army.
"Boncel, bagaimana kabarmu? Masih ingat aku?" tanyanya dengan senyum dikulum dan mata bersinar jahil.
***
Happy Reading 🥰
__ADS_1
NB : Maaf kalau diksinya acak-acakan. Belum sempat diedit langsung diterbangkan 🙏Oh ya, penggemar Aku hanya Figuran/Kamu bukan Figuran, bisa ditengok di novelnya ya. Ada updetan babang kerdus 😅