Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 62 - POV Armand


__ADS_3

Setelahnya, banyak kata-kata yang keluar dari Papa. Ancamannya yang menyuruhku untuk melepas jabatan di perusahaan hingga tak mengakuiku anak bila tak menikahi Nadya.


Boleh dibilang aku cukup menyukai pekerjaanku, namun aku rela melepasnya, bila dihadapkan pada pilihan menggadaikan prinsip. Tak ada yang bisa memaksaku untuk melakukan apapun yang tak kumau.


Beberapa hari selanjutnya dipenuhi dengan ketegangan. Mama beberapa kali datang ke apartemen hanya untuk membujukku menikahi Nadya. Sementara Papa mengirim orang-orangnya untuk memintaku menyerahkan file terkait tender yang sudah jalan maupun yang masih mau diikuti. Dari lagaknya, membebaskanku dari semua urusan perusahaan yang artinya memecatku.


Mungkin Papa pikir dengan melakukan hal itu akan membuatku menyerah dan menerima keputusannya. Aku tetap teguh dengan pendirian. Menolak dengan tegas.


***


Suatu hari Nadya datang ke apartemen dengan airmata memenuhi wajahnya. Dia berdiri di depanku dengan tatapan memohon.


"Apalagi?" Aku menghalanginya masuk. Berdiri di depan pintu dengan tangan disilangkan di depan dada.


"Bi ...."


"Keterlaluan kamu, Nad."


"Bi .... A-aku bisa jelasin Bi .... Ijinin aku masuk Bi ...."


"Untuk apa? Kamu sudah berhasil mengambil hati papa mama. Mereka lebih percaya kamu dibanding aku. Penjelasan apalagi?"


"Bi!" Nadya langsung bersimpuh di kakiku sembari menghiba. Sedu sedannya mulai terdengar. Hal yang selalu dia lakukan untuk memperdaya lawan.

__ADS_1


"Bi, m-maaf. Maafin aku, Bi. Kasih aku kesempatan buat jelasin semua, Bi. Maaf Bi ...." Tingkahnya itu mulai menarik perhatian penghuni apartemen yang lain, sehingga mau tak mau aku menyuruh wanita itu untuk masuk.


Sekarang kami tengah duduk berhadap-hadapan. Beberapa kali Nadya berusaha menyeka airmata dan ingusnya. Sebenarnya ada rasa iba, namun mengingat kelakuannya membuat rasa kesal ini tak bisa hilang.


"Jadi apa maksud semua ini, Nad? Kenapa mengkambing-hitamkan aku untuk hal yang tak kulakukan?"


Nadya mendongak. Secara tiba-tiba dia beringsut mendekat dan duduk bersimpuh. Kedua tangannya mendekap kakiku.


"Bi, aku mohon. Tolong aku, Bi. Bantu aku."


"Bantuan apa yang kamu mau? Selama ini apa aku pernah menolak membantumu?"


"Bi ...."


"M-maaf, Bi. Maafin aku, Bi.... A-aku nggak punya pilihan lain, Bi ...."


"Kamu benar hamil?"


"Iya."


"Dimana pria itu?" Selesai melakukan playing victim, Nadya selalu bersikap seperti ini. Menangis menghiba, meminta maaf dan memohon untuk dimengerti.


"A-aku nggak tau, Bi. Aku nggak tau dia dimana. Aku bingung, Bi .... Please bantu aku, Bi .... Tolong nikahi aku, Bi. Aku nggak tau mau minta tolong siapa lagi. Cuman kamu satu-satunya yang bisa kuandalkan." Tangisnya semakin tergugu. Meskipun sudah puluhan kali melakukannya, namun aku tetap tak tega melihatnya menangis seperti ini.

__ADS_1


Aku menarik tubuhnya hingga duduk di sisiku. Melihat penampilannya, dia sangat berantakan. Biasanya dia tak pernah meninggalkan make up di wajahnya, namun kali ini tak ada polesan apapun. Wajahnya terlihat pucat dengan menyisakan banyak bekas tangisan. Kalau melihat sifatnya, sudah bagus dia tidak menggugurkan kandungan.


Kubiarkan dia menangis sampai puas. Setelah emosinya tenang, aku mulai mulai mengorek keterangan.


"Jadi, dimana ayah bayi ini?"


"Aku beneran nggak tau, Bi. Aku bingung. Please, Bi. Bantu aku .... Please, please. Aku nggak tau lagi mau minta tolong ke siapa," ucapnya mengulang permintaan yang sama.


"Aku bisa membantumu dalam banyak hal, Nad. Tapi tidak dengan yang satu itu. Kamu pasti tahu konsep berpikirku."


"Iya, Abhi. Aku paham. Aku mengerti prinsipmu. Tapi Bi, please .... Berilah pengecualiaan. Please bantu aku ...."


"Aku tidak bisa menikahimu, Nadya. Aku bisa membantumu hal lain, tapi tidak dengan menikah."


"Kalau begitu, bisakah kamu berpura-pura kalau anak ini adalah anakmu? Sementara aja Bi, sampai aku menemukan ayah bayi ini."


"Untuk apa?"


"Agar mama papa tenang, Bi. Aku merasa bersalah ...."


"Kenapa tidak berpikir seperti ini ketika melakukan hal itu?"


"Bi .... Kamu bebas menjudgeku apapun, tapi please Bi.... Berpura-puralah untuk sementara waktu. Nggak pa-pa kalau kamu nggak bisa nikahin aku, tapi please ... demi ketenangan mama papa, berpura-puralah kalau ini anakmu, Bi. Please Bi.... Pleaseeee ...."

__ADS_1


***


__ADS_2