
Pagi yang cukup buruk. Diawali dari tidak adanya pesan balasan dari Pak Armand. Tapi, meskipun begitu, aku tetap menyiapkan bekal untuknya. Berharap dengan makan siang bersama, rasa kesal ini akan berakhir.
Ternyata, mood buruk itu tak berakhir begitu saja. Aku pikir setelah tiba di kantor, aku akan langsung bisa menemui Pak Armand, tapi nyatanya tidak seperti itu. Ketika aku datang, Pak Armand belum datang.
Setiap lima menit sekali, aku selalu mengecek jam di ponsel. Mengawasi pintu yang tertutup rapat itu. Berharap penghuninya datang dan memberiku banyak tugas dengan candaan. Namun sampai pukul sepuluh, pintu itu tetap tertutup rapat.
Setiap pukul 10.00 WIB, aku harus ke Bank Indonesia untuk menyerahkan warkat yang kubawa. Jadwal ini tidak bisa diulur, sehingga mau tidak mau aku meninggalkan kantor.
Hilang semangat, sudah pasti. Apalagi setiap melihat ponsel yang tidak kunjung ada balasan. Pikiranku jadi kemana-mana. Apa Pak Armand sengaja menghindariku gara-gara ucapanku kemarin? Apa dia illfeel dan memutuskan untuk tidak menemuiku?
"Mbak, sudah sampai." Suara driver memutus lamunan. Tak terasa aku telah tiba di Bank Indonesia.
Pertemuan antar bank itu berlangsung selama satu jam. Tukar menukar warkat. Memverifikasi. Mencocokkan data nasabah penerima. Setelah dirasa sesuai, maka setiap petugas pulang ke kantornya masing-masing untuk menjalankan warkat yang telah diterima.
"Langsung pulang ini, Mbak?"
"Iya, langsung pulang saja, Pak."
__ADS_1
"Nggak ada yang mau Mbak beli? Cilok? Seblak?" Aku menggelengkan kepala. Melihat moodku yang jelek, Pak Driver tidak bertanya lagi. Dia melajukan kendaraan menuju kantor.
***
Aku tengah melangkah di area parkiran. Tinggal dua langkah lagi, aku akan mencapai pintu. Namun langkahku terhenti begitu kurasakan tepukan lembut di bahu sebelah kiri.
"Duh, maaf Mbak. Dari tadi saya panggil Mbak, tapi sepertinya Mbaknya nggak denger. Maaf kalau saya lancang, nepuk bahu Mbaknya." Aku berbalik dan melihat orang yang telah menepuk bahuku.
Di depanku, berdiri seorang wanita yang kecantikannya di atas rata-rata. Alis tegas berserat. Hidung mungil namun mancung. Mata bulat dengan bulu mata yang lebat. Bibir penuh nan sensual. Sementara rambut coklat bergelombang dibiarkan tergerai.
"Ya?"
"Mbak karyawan sini?" tanyanya sembari melirik ID Card yang terkalung dileherku.
"Em, iya. Ada yang bisa saya bantu, Bu?" Aku berusaha menggunakan kata-kata formal, karena takut yang kuhadapi saat ini adalah seorang nasabah.
"Oh, maaf ya Mbak. Ini permintaan pribadi. Mau nitip ini Mbak, untuk Pak Abi." Wanita itu menyerahkan kotak bekal. Aku ragu-ragu menerimanya.
__ADS_1
"Pak Abi?" tanyaku lagi. Merasa asing sekaligus familiar dengan nama itu.
"Oh, maksudnya untuk Pak Armand Abimanyu. Mbaknya kenal?" Seperti dihipnotis, aku menganggukkan kepala. Entah mengapa, feelingku sudah tidak enak.
"Jadi, ini untuk Pak Armand?" tanyaku lagi. Entah mengapa, asam lambungku mulai naik.
"Iya Mbak. Tadi dia buru-buru, jadi bekalnya ketinggalan. Makanya aku mampir ke sini. Dari tadi ditelpon nggak diangkat, mungkin lagi sibuk. Nggak apa-apa 'kan aku titipin ke Mbak?"
Kepalaku mulai pusing. Tenggorakan tercekat. Perlu menelan ludah berulang-kali untuk menanyakan pertanyaan yang aku pun tak yakin ingin mendengar jawabnya.
"Dari siapa?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga.
"Bilang saja dari Nadya. Istrinya." Jawaban yang sangat ceria, namun meruntuhkan duniaku seketika.
***
Happy Reading 😚😚😚
__ADS_1