
Hal pertama yang dilihatnya ketika membuka mata adalah sebuah plafon berwarna putih bersih. Dia mengedarkan pandang. Ruangan asing, tapi tidak terlalu asing. Ruang itu layaknya kamar hotel. Terdapat TV berukuran 32 inch dan nakas tepat di depannya. Sementara di sebelah kiri terdapat sofa berwarna coklat. Hal yang membuatnya yakin bahwa ia tidak berada di hotel adalah bentuk ranjang yang tengah ditidurinya serta tangan kirinya yang terhubung oleh cairan infus.
Arsha masih memperhatikan sekitar. Otaknya berusaha mencerna apa yang tengah terjadi. Hal terakhir yang diingatnya adalah dia tengah berada di ruangan yang terbakar. Ia sedang mencari Pak Armand.
Pak Armand!!
Arsha langsung beringsut duduk. Ingatan dan kesadarannya telah kembali seratus persen. Kepanikan melandanya. Tanpa berpikir panjang, Arsha mencabut selang infus yang terhubung di lengannya. Begitu dilakukan darah dan cairan langsung menetes di lantai.
"Ibu Arsha, apa yang Anda lakukan?" Dua orang perawat wanita tiba-tiba masuk. Mereka segera berlari ke arah Arsha dan mengambil selang infus yang menggantung untuk menghentikan cairan itu menetes. Salah satu dari mereka mengambil alkohol dan plester kemudian menutup bekas infusan di tangan Arsha.
"Anda harus beristirahat. Tubuh Anda masih terlalu lemah ...."
"Pak Armand! Dimana dia?!" Mata Arsha sudah berkaca-kaca. Dia menepis tangan perawat yang bermaksud untuk menginfusnya kembali.
__ADS_1
"Tenang, Bu ...."
"Mana mungkin saya bisa tenang! Lepasin!" Arsha masih memberontak. Membuat kedua perawat kesulitan untuk memberikan cairan itu.
"Lepaskan dia."
Ketiganya langsung menoleh ke asal suara. Seorang wanita dengan perut besar dan perawat berdiri di depan pintu. Arsha mengenali wanita itu. Dia adalah Nadya. Istri dari pria yang dikhawatirkannya.
"Tinggalkan kami," lanjut Nadya. Masih tak mengalihkan perhatiannya dari Arsha.
"Pasien masih harus kami berikan infus, Bu," sergah salah satunya. Nadya memberi tanda agar pemasangan infus bisa dilanjutkan. Nadya melihat Arsha akan menyanggah. "Jangan menolak Arsha. Abi akan senang melihatmu cepat sembuh."
Nadya bergerak mendekat dan duduk tepat di samping ranjang Arsha. Ucapannya itu membuat mata Arsha membulat. Mulutnya sudah terbuka, bersiap dengan berbagai pertanyaan, namun sedetik kemudian dia kembali menutupnya. Arsha sadar, tak pantas menanyakan kabar seorang laki-laki kepada istrinya.
__ADS_1
"Kenapa? Ada yang ingin kamu tanyakan?" Nadya menatap Arsha yang menunduk. Arsha pun bingung. Dia sudah berjanji pada Nadya untuk menjauhi Pak Armand, namun di insiden ini dia malah nekat menerobos gedung karena Pak Armand masih ada di dalam. Anak kecil pun pasti akan tahu dengan perasaannya apalagi Nadya.
"K-kamu boleh mengataiku tak tau diri, ta-tapi bolehkah aku tau keadaannya?" Arsha mendongak. Ia tahu mungkin di mata Nadya ia sudah tak memiliki harga diri. Arsha sudah tidak peduli dengan pandangan Nadya. Yang ingin ia tahu hanya kondisi Pak Armand.
Arsha berdoa semoga Pak Armand selamat. Mengingat ia tak bisa menemukan pria itu membuat pikirannya kemana-mana.
"Kamu berhak untuk tau kok. Dia masih di ruang tindakan. Aku juga sedang menunggu kondisinya." Nadya berhenti sejenak. Dia menatap Arsha dengan intens. Raut wajah yang biasanya sinis dan tak bersahabat itu kini berubah menjadi sendu. Tanpa Arsha duga, Nadya meraih tangannya. "Arsha, ada yang harus kamu ketahui. Ini mengenai Abi dan aku."
***
Happy Reading 🥰
NB : Mohon maaf kalo pendek2, ngetik sambil kerja, kurang konsen 😅🙏
__ADS_1