
Tak ada kata yang mampu mewakili keseluruhan perasaan. Mentalku hancur. Harga diri diinjak-injak. Dalam kondisi normal, mungkin aku tak akan bisa bangkit lagi. Namun ucapannya yang menghina Ayah dan Ibu, memberiku kekuatan untuk melawan. Bila dia tidak membawa-bawa orangtua, aku pasti akan pergi seperti yang disuruhnya. Tapi tidak kali ini. Hina aku sesuka hati, aku akan menerimanya. Tapi jangan sampai melibatkan orangtua. Siapapun akan kulawan!
Dengan telapak tangan, kuseka airmata kelemahan yang terlanjur mengalir. Kutarik napas dalam-dalam dan menatap wanita yang tengah duduk di brankar. Mata kami pun bertemu. Mata wanita cantik itu tampak menyala-nyala penuh kemarahan sementara dadanya bergerak naik turun. Emosi menguasainya.
"Mbak Nadia, saya minta maaf bila telah menimbulkan kesalahpahaman," ucapku. Memberi jeda sejenak untuk melihat ekspresinya. Nadia melihat dengan tatapan jijik yang menyatakan bahwa dia tidak percaya dengan ucapanku.
Anehnya aku tak merasa gugup. Suaraku terdengar jernih, tenang dan tegas. Aku pun melanjutkan.
"Saya dan suami Mbak tidak memiliki hubungan apa-apa. Jujur, saya tersinggung Mbak membawa-bawa orang tua saya. Ayah dan Ibu saya mendidik saya dengan baik. Bila ada salah dan khilaf, itu sepenuhnya salah saya, bukan kedua orang tua saya," tandasku penuh penekanan.
"Mbak menyuruh saya pergi dan menjauh dari suami Mbak? Tolong sampaikan pesan saya pada suami Mbak ya. Mungkin bila Mbak sendiri yang menyampaikan, akan lebih didengar. Tolong suaminya dijaga dan diingatkan untuk tidak mengganggu karyawannya ya Mbak. Atau apa perlu saya panggil beliau untuk mengclearkan masalah ini? Agar Mbak lega?" Mata itu membelalak dengan bibir sedikit terbuka. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan sekaligus ketakutan 'kah?
Sebelum aku bisa membaca mimik wajahnya lebih dalam, wanita itu memalingkan wajah. Entah untuk menyembunyikan semua perasaan atau terlalu muak melihatku?
"Saya tidak akan pergi kemana-mana, karena saya tidak merasa salah. Bila Mbak dan suami muak melihat saya, silakan kalian berdua yang pergi. Mungkin itu saja yang bisa sampaikan. Kalau Mbak masih tidak terima dengan ucapan saya, Mbak bisa mencari saya dan mengkonfrontasinya langsung. Semoga lekas sembuh. Permisi."
Aku berbalik dan melangkah keluar. Memutar kenop, membuka dan menutupnya dengan cepat. Di depan pintu, aku bertatap muka dengan Saka. Rupanya pria itu telah menungguku sedari tadi. Dia pasti mendengar semua percakapan itu.
Melihat Saka membuat airmata yang tadinya surut kembali menggenang. Kakiku yang melangkah dengan tegas seolah kehilangan kekuatan. Aku lemas dan limbung. Dengan cepat Saka meraih tubuhku dan menyangganya.
"Bawa aku pergi dari sini," bisikku dengan suara gemetar. Tanpa banyak kata, Saka memapah dan membawaku entah kemana.
***
Saka memapahku hingga masuk ke dalam mobil, kemudian dia berkendara tanpa mengucap sepatah katapun. Tubuhku gemetar dan lemas. Sikap sok tegar yang coba kutunjukkan di depan Nadya kini tak ada lagi. Yang terlihat hanya Arsha si lemah!
Semua kilasan kejadian berputar di kepala. Yang paling kuingat adalah kata-kata menyakitkan yang terlontar dari mulut Nadya. Lagi-lagi aku hanya bisa tergugu.
Aku tak sadar bila mobil telah terparkir di salah satu ruas jalan yang mana di seberangnya tersuguh pemandangan laut yang hanya bisa terdengar deru ombaknya.
Sebuah sentuhan lembut kurasakan di kepala. Mengelus-ngelus, memberi penghiburan. Aku tahu itu Saka. Mendapat perlakuan seperti itu, bukannya membuat tangisku berhenti malah semakin menjadi-jadi.
"A-apa m-menurutmu a-aku w-wanita hina? M-murahan? T-tak tahu diri?" Kedua tangan merangkum wajah, memaksaku untuk melihat si empunya.
"Lihat aku. Dengarkan aku, oke." Saka menatap mataku lekat-lekat. Mengusap airmata yang mengalir di pipi.
"Lupakan ucapan dia. Semua yang diucapkannya tidak benar. Aku yang tahu kamu seperti apa. Dia tak berhak menilaimu seperti itu. Lupakan, oke?!"
__ADS_1
"A-aku tak berniat m-merebut suaminya .... B-bukan a-aku yang memeluk .... Y-yang tadi kalian lihat itu h-hanya kesalahpahaman. Aku benar-benar tidak berniat mengambilnya .... Aku s-sudah berusaha menjauh .... T-tapi dia selalu mendekat. A-aku harus gimana Ka? K-kamu percaya aku 'kan?"
"Iya Nay. Aku sangat percaya kamu. Sudah jangan nangis lagi ya. Kamu ini sudah jelek, kalo nangis tambah jelek." Lagi-lagi Saka mengusap airmata yang tak kunjung berhenti.
Kenapa Saka selalu melihatku dalam kondisi memalukan? Aku tak pernah menangis sebanyak ini di depan orang lain. Hanya dia yang tahu betapa lemahnya aku ini.
***
Saka membiarkanku menangis sepuasnya. Beberapa jam kemudian, tangisan dan isakan itu mulai berhenti.
"Mau keluar?" tanyanya.
"Ha?"
"Siapa tau kalau mukamu kena angin, bisa sedikit menjernihkan pikiran." Kepala Saka mengangguk ke arah laut yang menghitam. "Yuk." Dia keluar dan mengitari mobil. Membuka pintu dan mempersilahkanku untuk keluar. Meskipun enggan, aku menjulurkan kaki dan langsung menapak di pasir.
Semburan angin malam langsung menghantam pipi. Menerbangkan anak-anak rambut, membuatnya acak-acakan. Saka berdiri tepat di depanku. Dia mengambil sejumput rambut yang nakal dan menautkannya di belakang telinga. Kemudian, kedua tangannya berada di pundakku. Perbedaan tinggi tubuh kami, membuatnya sedikit membungkuk untuk melihat mataku.
"Sudah membuat keputusan?"
"Ya."
"Ayo kita pulang."
"Itu keputusannya?"
"Ya."
***
Pukul 01.13 WITA, Saka membawaku keluar dari hotel Pullman dan bertolak ke Jawa. Teman sekamarku tidak kembali ke hotel, sehingga aku tidak perlu membuat berbagai alasan untuk kepergian.
Aku menghubungi Pak Marga melalui chat. Memberitahukan mengenai kepergian beserta alasannya. Syukurlah Pak Marga tak segera membalas. Mungkin saat ini beliau tengah terlelap dan akan membalas keesokan hari.
Kami bertolak dari kota Denpasar, menyusuri ruas jalan beratus-ratus kilo. Di sepanjang jalan, hanya terdengar alunan musik. Tak ada yang berbicara. Aku tahu Saka tengah menungguku berbicara.
"Aku memutuskan untuk tetap bekerja di sana," ucapku memecah keheningan. Saka tak menjawab. Pandangan matanya tetap lurus ke depan. Aku tahu dia tak setuju dengan keputusanku.
__ADS_1
"Bila aku resign, akan menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya benar. Akan kubuktikan, bahwa semua tuduhannya itu tidak benar." Hening beberapa saat. Saka meraih tanganku. Meremasnya pelan. Kemudian dia mengelus kepalaku perlahan. Bibirnya tersenyum menenangkan.
"Aku percaya padamu, Nay. Apapun keputusan yang kamu buat, pasti sudah kamu pikirkan matang-matang."
"Terima kasih, Ka." Aku menghembuskan napas lega. Terlalu sibuk memikirkan berbagai hal, membuatku lupa satu hal yang cukup janggal dan menjadi tanda tanya besar.
"Kenapa kamu bisa datang bersamaan dengan dia?"
"Dia?" Saka mengerutkan kening. "Oh, Nadya?"
"Hem."
"Nggak sengaja aja. Aku lagi nungguin kamu di lobby, terus dia lewat sambil geret koper. Aku panggil saja."
"Kenapa waktu aku lewat nggak liat kalian tadi?"
"Kami dapet info kalo rombongan kalian lagi keluar, jadi kita mutusin nunggu di restoran hotel. Waktu tau rombongan kalian udah dateng, kita langsung samperin ...."
"Dan lihat adegan itu."
"Yep." Saka mengangguk-anggukan kepala. Buku jemarinya mengepal di balik kemudi. "Kamu tau, Nay?"
"Apa?"
"Aku ingin menghantam kepala pria itu ke tembok." Aku tahu Saka serius dengan ucapannya. Aku menelan ludah dengan susah payah dan berusaha mengalihkan pembicaraan.
"K-kenapa kamu nggak ngomong kalau mau ke sini? Katanya kamu nggak bisa ambil cuti dadakan?"
"Buat surprise. Ternyata malah ...." Ternyata malah dia yang mendapat surprise.
Ini juga bukan keputusan yang mudah. Aku sudah memikirkannya dengan matang. Aku serius dengan ucapanku dan tak ada niatan untuk main-main atau sekedar akting.
Aku menarik napas dalam-dalam. Menatap Saka lekat-lekat dan berucap, "Saka, mau coba pacaran serius denganku?"
***
Happy Reading 🥰
__ADS_1
NB : Follow IG-ku ya erka_1502 🥰 dan FB : ErKa