
"Kenapa harus dia, Bi?" Kali ini suara Nadya benar-benar pecah begitu pertanyaan itu tercetus dari mulutnya. "Dia masih sangat muda. Umurnya terlalu jauh denganmu. Dia tak mungkin bisa mengimbangimu. Dia terlalu naif. Tidak cocok untukmu, Bi."
Kenapa harus Arsha? Armand pun tak tau jawabannya. Hanya saja wanita itu telah menghadirkan perasaan yang tak biasa. Ia tak ingin Arsha dimiliki oleh laki-laki lain. Hanya boleh menjadi hak miliknya.
"Perasaanmu itu semu. Kamu merasa terikat karena dia anak buahmu. Kamu takut kehilangan dia seperti anak buahmu sebelum-sebelumnya. Itu mengapa kamu memberi perlakuan yang berbeda. Itu bukan perasaan cinta, Bi. Hanya bentuk tanggung jawab atasan ke bawahannya saja. Percaya padaku, Bi." Nadya meraih tangan Armand, meminta perhatian pria itu, namun Armand tetap fokus memperhatikan jalan. Dia tak terpengaruh dengan perkataan Nadya.
"Aku yang paling mengetahui perasaanku, Nad. Sabtu aku antar kamu pulang."
"Bi!!"
Sepanjang jalan Nadya mengoceh, memohon, menghiba untuk tetap bisa tinggal di sisi Armand. Pria itu tak mengindahkan ucapan Nadya lagi. Armand memacu mobil ke arah apartemen. Niatnya untuk mengantar Nadya sebelum kembali ke kantor lagi. Di tengah perjalanan, ponselnya berdering. Dia menengok si penelpon. Ternyata dari Pak Arif Marga.
"Selamat siang ...."
"Syukurlah, kamu angkat telpon Om. Kamu di mana?!"
__ADS_1
"Saya di jalan Om. Mau antar Nad ...."
"Om dapat kabar kantor kebakaran! Kamu cepat ke sana!" Panggilan langsung ditutup.
Armand tak mendapat info lebih jauh lagi. Namun info sekilas itu sudah cukup baginya. Dia langsung memutar haluan secepat kilat dan memacu mobil ke arah kantor.
"Kenapa putar balik, Bi? Ada apa?" Pertanyaan Nadya tak dia gubris. Dia hanya berpikir secepat mungkin harus tiba di kantor.
Armand melirik jam digital di dashboard. Waktu menunjukkan pukul 11.53 WIB. Harusnya jam segitu Arsha masih ada di BI. Dia menghela napas lega. Begitu mendengar kantor kebakaran, yang ada di otak Armand hanyalah Arsha. Dia tak berpikir bagaimana surat-surat berharga beserta uang kartal yang mungkin hangus terbakar.
Jarak antara kantor dan tempatnya berada tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit berkendara. Armand memacu kendaraan secepat yang dia bisa. Dia tak memikirkan kenyamanan Nadya yang tengah hamil besar. Dia hanya ingin segera tiba.
"Sudah hubungi pemadam kebakaran?!" tanya Armand pada segerombolan stafnya yang menatap bangunan dengan khawatir bahkan ada yang histeris.
"P-Pak!!" Yuniar begitu terkejut melihat Armand. Dia langsung menghambur ke arah Armand dan memegang lengan pria itu dengan gemetaran. Airmatanya sudah berlinangan.
__ADS_1
"P-Pak!! A-a-arsha Pak ...." Suara itu tersendat-sendat. Seperti dipaksa untuk keluar. Sembari berucap, tangan Yuniar menunjuk bangunan yang terbakar.
"Arsha?! Kenapa Arsha? Bukannya dia di BI?!"
Yuniar menggeleng-gelengkan kepala. Airmata semakin membanjiri wajahnya.
"T-tadi di-dia tanya Bapak dimana. S-saya pikir Bapak masih di d-dalam. J-jadi s-saya jawa B-bapak masih di d-dalam. D-dan Arsha l-langsung m-masuk Pak ...." Tangis Niar pecah. Tangannya menunjuk bangunan yang bagian atasnya mengepulkan asap menghitam.
Setengah pikiran Armand telah hilang. Dia tak memikirkan apapun, selain Arsha! Hanya wanita itu!
Armand menghambur ke dalam gedung. Sebelum itu dia mengambil keset yang berukuran cukup besar dan membasahinya. Setelah bagian keset basah semua, dia menggunakan keset itu untuk menyelubungi tubuhnya. Tak lupa dia juga mengambil APAR (alat pemadam api ringan) yang tergantung di dekat meja satpam dan naik ke lantai dua. Dimana pusat api berada.
Armand mengacuhkan semua teriakan. Dia tak peduli. Dia tak 'kan pernah memaafkan diri sendiri bila terjadi apa-apa pada Arsha. Tak 'kan pernah!
***
__ADS_1
Happy Reading 😅🙏
NB : Saya ada waktu kosong sampe tanggal 19 bulan ini. Semoga sebelum tanggal itu novel ini udah selese ya 😅🙏 Kalo pun belum, berarti updet selanjutnya bulan Maret 😂 Ya beginilah jadi biduan kampung, jadwal panggung padat merayap. Mohon maklum ya bestieeeh 😌✌️😂