
"Dari siapa?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga.
"Bilang saja dari Nadya. Istrinya." Jawaban yang sangat ceria, namun meruntuhkan duniaku seketika.
Telingaku seketika berdengung. Kepala berat seperti dihantam palu godam. Pandangan menjadi berkunang-kunang. Sekelilingku seketika menjadi sunyi. Suara-suara kendaraan, orang berlalu-lalang, bunyi peluit tukang parkir, semuanya hilang. Yang ada hanya kesunyian.
Aku menatap wanita di depanku yang masih saja berbicara. Entah apa yang dibicarakannya. Suaranya tak mampu kudengar. Mimik wajahnya sangat ceria. Sesekali tangannya memegang tanganku. Ciri khas orang yang sedang minta tolong.
Matahari berpendar dengan sangat terik. Panasnya mampu menembus kulit yang terbuka. Kualihkan perhatian ke arah langit. Menatap matahari yang telah menjadi beberapa. Lucu sekali. Bukannya matahari hanya satu? Kenapa sekarang menjadi banyak?
Hantaman rasa sakit semakin memenuhi kepala. Rasa dingin menjalari punggung, membuat tubuhku gemetar. Keringat dingin mulai bermunculan, sementara rasa mual datang secara tiba-tiba.
Aku tahu penyebabnya apa. Aku tahu mengapa tubuhku bereaksi seperti ini. Hanya karena satu kata, tubuhku memberontak dan tak terkontrol lagi.
Kembali kuperhatikan wanita cantik di depan mata. Menatapnya nanar. Dari ujung kaki hingga ujung kepala. Membaca mimik wajahnya. Mencari tanda-tanda kebohongan di sana. Setiap kali melakukannya, mataku selalu terpaku pada tonjolan bundar di perutnya. Napasku menjadi pendek-pendek. Seolah-olah ketersediaan oksigen telah habis. Gumpalan berbagai perasaan menjadi satu. Berkecamuk. Ingin kukeluarkan dan lampiaskan semuanya.
Aku ingin menyangkal. Mengabaikan apa yang dia katakan. Tapi bukti itu ada di depan mata. Bukti tak terbantah, yang mematahkan semua argumen yang ada.
"Mbak, kamu nggak apa-apa? Wajahmu pucat, Mbak." Wanita itu tiba-tiba sudah berada di sampingku. Memegang kedua bahuku. Menahan tubuhku dari limbung. Sungguh memalukan sekali. Bagaimana mungkin seorang wanita sehat sepertiku bisa lemah dihadapan wanita hamil. Hatiku memang hancur, luluh lantak dan sudah tak berbentuk. Tapi, aku tidak boleh menunjukkannya. Cukup aku saja yang tahu! Hanya aku!
"Em, ya. Saya tidak apa-apa." Secara spontan tubuhku menjauh. Menarik diri dari jangkauan wanita itu.
"Yakin nggak apa-apa? Wajahmu pucat, Mbak." Wanita yang sangat cantik dan manis. Mimik wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tinggi.
"Ya, saya tidak apa-apa." Aku menggeleng-gelengkan kepala. Berusaha mengusir rasa pusing di kepala. Meskipun tubuhku limbung dan perasaanku hancur, aku tidak boleh menunjukkannya pada siapa-siapa. Tidak ada yang boleh tahu. Termasuk wanita di depanku ini.
Aku mengatur napas. Berusaha menjernihkan kepala. Bersikap seolah-olah semua baik-baik saja. Menarik sudut bibir, mengatur senyum agar mengembang senatural mungkin.
__ADS_1
"Jadi, bekal ini untuk Pak Armand Abimanyu. Dari istrinya, Ibu Nadya. Benar seperti itu, Bu?" Berat mengatakannya, namun aku memaksakan sekaligus memastikan, bahwa aku tak salah dengar.
"Iya, benar Mbak ...." Wanita itu membaca nama di ID Cardku. "Mbak Arsha. Terima kasih atas bantuannya, Mbak."
"Iya, sama-sama. Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Tidak, tidak ada. Makasih ya Mbak. Maaf kalau ngerepotin." Setelah berbasa-basi sebentar, wanita itu pamit undur diri.
Tubuhku tak bisa berhenti gemetar. Kucengkram bekal itu erat-erat, berharap mendapat penguatan. Setelah wanita bernama Nadya itu tak terlihat lagi, tiba-tiba tubuh yang kupikir sangat kuat mulai limbung. Lututku menjadi lemas seperti agar-agar, sehingga tanpa sadar aku jatuh terduduk.
"Mbak Arsha nggak apa-apa?" Dua orang security datang dengan tiba-tiba, berusaha membantuku berdiri.
"Nggak. Aku nggak apa-apa."
"Yakin nggak apa-apa, Mbak?"
"Saya antar ke atas ya, Mbak? Apa Mbak pulang saja?"
"Saya tidak apa-apa Pak. Saya bisa ke atas sendiri. Terima kasih." Menegarkan dan menguatkan hati, aku berusaha berdiri. Bersikap seolah-olah semua baik-baik saja.
Kuat Arsha!! Kamu kuat!! Jangan biarkan orang lain tahu, bahwa hatimu hancur! Terutama orang itu! Dia tidak boleh tahu isi hatimu! Meskipun selama ini harga dirimu sudah tidak bersisa, setidaknya untuk saat ini, biarkan harga dirimu berbicara.
Hadapi dia dengan punggung tegak. Tunjukkan bahwa kamu tidak apa-apa. Tunjukkan, bahwa kenyataan ini tidak membuatmu terpuruk dan mempengaruhi emosimu. Setidaknya, untuk saat ini, hanya hal itu yang bisa kamu lakukan. Untuk menyelamatkan harga dirimu, yang sebelum-sebelumnya telah tergadai!
***
Aku naik ke lantai dua dengan kaki gemetar. Andaikan diijinkan untuk berbuat sesuka hati dan mengabaikan harga diri, mungkin saat ini aku akan berlari ke ruangan orang itu. Melempar bekal makanan ini ke wajahnya dan mencaci-makinya sesuka hati. Menyumpahi dan mengutuknya. Mengeluarkan semua kata-kata mutiara yang pernah aku tahu. Namun, hal itu hanya dilakukan oleh wanita bar-bar yang tak berpendidikan. Aku tak akan membiarkan diriku dipandang seperti itu.
__ADS_1
Selangkah, dua langkah yang kuambil, semakin mendekatkanku dengan ruangan itu. Ketika kakiku telah tepat berada di depan ruangan, aku mengambil napas dalam-dalam. Mengatur terjangan emosi. Bersiap untuk mengetuk pintu.
Sedetik kemudian, pikiran itu datang entah darimana asalnya. Bagaimana bila wanita bernama Nadya itu bukan istrinya? Bagaimana bila wanita itu hanya mengaku-ngaku atau berniat bercanda? Bila dipikir secara logika, tidak mungkin pria beristri memberikan perhatian berlebih seperti itu kecuali dia memang benar-benar belum menikah. Salahkah pemikiranku ini?
Untuk mengetahui jawabannya, aku hanya perlu memastikan. Caranya adalah dengan menemui orang ini secara langsung dan melihat reaksinya.
Setelah berulang-kali menarik napas, akhirnya aku memberanikan diri mengetuk pintu. Diketukan kedua, terdengar jawaban dari dalam.
"Masuk." Aku membuka pintu secara perlahan. Seperti biasa, aku melihatnya tengah duduk sembari menatap layar monitor. Dia mengalihkan perhatian sejenak dan menatapku.
"Oh, Arsha. Kamu baru datang?" Aku tak langsung menjawab. Melainkan membuat langkah kecil untuk mendekati mejanya. Kakiku lemas sementara tanganku gemetar. Perasaanku? Tentu saja campur aduk tak karuan. Aku tak mampu mendefinisikannya.
"Ada apa?" tanyanya lagi. Aku mengangsurkan bekal itu ke hadapannya.
"Ada titipan bekal." Aku bangga pada diriku sendiri. Ketika mengucapkannya, tak terdengar suaraku gemetar dan pecah. Aku terlihat sangat normal.
Pak Armand menengok bekal yang kuangsurkan. Dia meraih bekal itu dan memperhatikan sekilas. "Dari siapa?" tanyanya.
Aku menelan ludah susah payah, ketika kata itu meluncur dari bibir ini. "Istri Anda."
Aku membayangkan, Pak Armand akan menjawab, "Ha? Istriku? Aku tidak punya istri. Jangan mengada-ngada kamu, Ar."
Tapi nyatanya, jawaban itu tak seperti yang kubayangkan. Hanya terdiri dari beberapa suku kata, namun mampu menjungkir-balikkan duniaku begitu saja.
"Oh, dari Nadya ya?"
***
__ADS_1
Happy Reading 😙