Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 63 - POV Armand


__ADS_3

"Aku tidak bisa, Nad."


"Bi!! Harus dengan apa agar kamu mau nolong aku? Apa kamu pengen aku cium kakimu? Akan kulakukan Bi!" Nadya sudah beringsut menunduk, namun kutarik tubuhnya agar tetap duduk.


"Jangan berlebihan, Nad. Kamu tau aku tidak akan berubah pikiran hanya dengan kamu bersikap seperti ini."


"Abhi!" Nadya kembali tergugu. Kali ini isakannya lebih keras dibanding sebelumnya. "H-harus d-dengan a-apa agar k-kamu mau b-bantu aku, Bi? Please, Bi. Please, bantu aku ...."


"Aku bisa menemanimu ke dokter. Mendampingimu melahirkan. Membelikanmu makanan yang kamu mau. Aku bisa jadi sahabat dan kakakmu, Nad. Tapi tidak dengan berpura-pura menjadi ayah dari anak ini."


"Bi ...."


"Jangan kamu rusak hubungan dua keluarga karena hal ini Nad. Jika kamu melanjutkan, kamu akan kehilangan kepercayaanku."


***


Perkataanku rupanya hanya dianggap angin lalu. Nadya tidak ada niat untuk menyelesaikan kesalahpahaman. Dia membiarkan keluarga tetap berasumsi, bahwa akulah ayah dari sang bayi.


Menyanggah pun tetap ada guna. Tak ada hasilnya. Keluarga lebih percaya dengan ucapan Nadya. Aku sangat kecewa dengan keluargaku. Hal itu menunjukkan bila mereka tidak mengenal putranya lebih baik dari orang lain. Aku jadi tahu, kapasitas kepercayaan mereka padaku sebesar apa.


Nadya sangat mengetahui sifatku. Aku tidak akan bersikap terlalu keras padanya ataupun menyanggah mati-matian dengan emosi yang meledak-ledak. Pun tidak akan melakukan hal yang bisa melukai harga dirinya. Semisal dengan melakukan tes DNA. Aku beri dia waktu untuk bersikap dewasa. Untuk mengakui semua dan mengurai kebenaran.


Berada di lingkungan yang sama tidak akan menyelesaikan masalah. Aku justru akan semakin didesak untuk menikahi Nadya. Untuk itu aku memutuskan untuk menjauh sejenak sampai semua orang bisa berpikiran waras dan menerima perkataanku. Dibebastugaskan dari pekerjaan yang sudah beberapa tahun kujalani semakin menguatkan alasan. Sehingga berada di kota ini juga tak ada gunanya. Tak banyak hal yang bisa kulakukan. Jadi menjauh tak 'kan ada salahnya.


"Armand, tumben telpon? Om pikir sudah lupa." Suara Arif Marga terdengar ceria. Beliau adalah adik Mama, alias pamanku.

__ADS_1


"Mengenai tawaran kemarin. Apa masih ada posisi kosong?"


"Lho? Kamu berubah pikiran? Kamu mau kerja sama Om?"


"Hem."


"Kamu nggak bercanda 'kan?"


"Saya serius."


"Ada apa? Bertengkar lagi dengan Papamu?"


"Apa saya harus mengungkapkan alasan? Kalau seperti itu, lebih baik ...."


"Saya bisa mulai kapan saja."


"Minggu depan gimana?"


"Oke. Ditugaskan dimana?"


"Jember."


"Tak ada yang lebih jauh lagi?"


"Untuk sementara, posisi kosong masih ada di Jember. Kamu akan bekerja di bawahku. Apa ada masalah."

__ADS_1


"Tidak ada. Besok saya akan ke Jember."


***


Tiga bulan sudah berlalu sejak kejadian itu. Papa tidak menghubungi sama sekali. Sementara Mama berulang-kali memohon agar aku pulang ke rumah.


Aku tidak berniat lari dari masalah. Aku hanya pergi dari keluarga yang tak menaruh kepercayaan padaku. Rasa kecewaku jauh lebih besar dibanding amarah.


"Mama percaya, Nak. Mama tau kamu seperti apa. Kamu jarang bisa mengekspresikan apa yang kamu rasa. Kamu menutup hatimu agar orang lain tak tau. Mama mengenalmu dengan baik. Tapi, kalau pun kamu bukan ayah dari bayi Nadya, tidak bisakah kamu menikahinya saja? Sampai dia melahirkan. Kasihan dia, Nak. Keluarga Pak Suhardjo pasti akan menanggung malu. Tolong bantu mereka, Nak."


Mama selalu memohon, membujuk dan merayu. Namun aku tetap pada pendirian. Menurutku, menikah merupakan hal sakral. Hanya akan kulakukan sekali seumur hidup, dengan wanita yang bisa membuatku yakin untuk menghabiskan seluruh waktuku bersamanya. Dan sampai detik ini, aku belum menemukannya.


***


Entah untuk menutupi rasa malu atau ada alasan lain, kabar mengenai pernikahan yang tak kulakukan beredar di kalangan keluarga dan tetangga. Dari lagak-lagaknya, sepertinya sudah ada pembicaraan dari kedua keluarga.


Tidak berhasil memaksaku untuk menikah, mereka menyebarkan kabar burung itu. Hal bagusnya, aku berada jauh dari mereka sehingga hal itu tak menggangguku terlalu jauh.


Hubunganku dengan Nadya mendingin. Sikapku yang menjauh dari keluarga tak membuatnya sadar. Dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Tetap menghubungi setiap hari. Meski jarang kutanggapi.


***


Happy Reading 😊


NB : POV Pak Kaku inshAlloh gak banyak. Hanya untuk menjawab beberapa pertanyaan yang mencuat 😊

__ADS_1


__ADS_2