
"Arsha, ada yang harus kamu ketahui. Ini mengenai Abi dan aku." Nadya terdiam. Dia menarik napas dalam-dalam. Melihat dari gelagatnya seperti ada masalah besar yang dipendam. Dua bulir bening mengalir di pipi putihnya.
Kalau Arsha tak salah ingat, sepertinya baru kali ini ia melihat Nadya menangis. Arsha sangat was-was. Ia takut terjadi sesuatu pada Pak Armand. Apakah kondisi Pak Armand sangat buruk hingga untuk memberitahu saja Nadya bersikap aneh seperti ini? Pikiran Arsha menjadi semakin tak tenang. Ia ingin terbang untuk melihat Pak Armand secara langsung. Genggaman tangan Nadya yang sangat aneh dan janggal menghalanginya.
"Aku mengenal Abi sejak kecil. Dia seorang kakak tetangga yang pendiam, kaku namun menarik dalam satu waktu. Sikap pendiamnya membuatku tertarik," lanjut Nadya. Wajahnya masih tetap menunduk. Arsha diam. Ia masih tak mengerti arah pembicaraan Nadya. Apa yang perlu ia ketahui mengenai Pak Armand dan Nadya? Tentang hubungan mereka yang begitu mesra? Entah mengapa Arsha merasa tak ingin tahu. Mendengarkan kisah mereka sama saja dengan merobek-robek hatinya. Namun lagi-lagi Arsha yang bodoh tak mampu menolak. Apalagi melihat Nadya yang menangis di depannya.
"Aku sangat mengenal diriku sendiri. Aku ingin selalu menjadi pusat perhatian. Ketika ada orang yang tak tertarik, aku akan semakin gencar untuk mengejarnya. Itulah yang kulakukan pada Abi." Mata Nadya menerawang. Terlihat menyesal dengan apa yang dilakukannya.
__ADS_1
Arsha masih berusaha menebak-nebak apa yang coba Nadya sampaikan dari ceritanya. Kalau itu mengenai kebahagiaan mereka, Arsha lebih baik tak mendengarnya. Hatinya akan lebih sakit lagi.
"Aku menggunakan segala cara untuk membuat Abi tertarik. Namun diantara cara-cara itu tak satu pun yang berhasil. Abi tetap tak melihatku sebagai wanita. Dia tetap melihatku hanya sebagai adik tetangga."
Ucapan Nadya membuat Arsha terdongak. Kemudian dia menatap perut Nadya yang membuncit, seperti bertanya-tanya darimana asal perut buncit itu kalau Armand tak tertarik padanya. Dan ada ketidaksinkronan cerita di sini. Bukankah dulu Nadya berkata kalau Armand sangat tergila-gila padanya hingga pria itu menghamilinya agar bisa mengikatnya? Kenapa ceritanya jadi berubah seperti ini? Apa ada titik balik dalam hubungan mereka?
"Selama berada di sisinya, aku tak pernah melihatnya tertarik pada wanita. Kupikir kesempatan untuk memilikinya jauh lebih besar. Kamu lihat perut ini? Ya, ini salah satu caraku untuk mengikatnya. Aku menggunakan kehamilan ini untuk membuatnya tetap berada di sisiku." Nadya mengelus-ngelus perutnya. Dia tersenyum getir. Satu bulir bening lolos lagi dari sudut matanya. "Hingga suatu hari aku melihat senyum itu. Matanya menghangat dan senyum tulusnya terkembang setiap kali membicarakanmu. Hatiku sakit, kecewa, marah. Aku yang selalu berada di sisinya selama ini tapi tak pernah mendapat kehangatan itu. Tapi kamu, wanita yang baru ditemuinya justru yang mendapatkannya. Aku cemburu dan terluka."
__ADS_1
"M-maafkan aku ...."
"Tidak, tidak. Aku yang harusnya minta maaf. Dosaku begitu banyak padamu, Arsha .... Maafkan aku ...." Kali ini tangis Nadya tergugu. Bahkan titik-titik bening itu berjatuhan di atas bajunya. "Aku janji, setelah ini, aku tak 'kan pernah muncul di depan kalian lagi."
Pernyataan yang sangat ambigu. Bukankah harusnya ucapan itu keluar dari mulut Arsha? Namun kenapa Nadya yang mengucapkannya?
"Arsha, sebenarnya aku dan Abi tak pernah menikah. Jangankan menikah, dia melihatku sebagai wanita saja tak pernah."
__ADS_1
***
Happy Reading 🥰