Secretly Loving You

Secretly Loving You
Ch 82 - [POV Author] Pokoknya Kita Pacaran


__ADS_3

"Mereka berdua saling mencintai. Mereka rela saling bertaruh nyawa satu sama lain. Sekuat apapun kita berusaha, tak ada tempat untuk kita di sana. Meski berat, saya harap Anda menerimanya dan membiarkan mereka bersama."


Begitu melihat postur tubuh yang tak asing dan seragam loreng itu, feeling Nadya sudah tak enak. Dia cepat menghampiri pria yang tengah tertegun di depan sebuah kamar dan menariknya menuju taman.


Awalnya pria itu terlihat bersikukuh. Tak mau beranjak dari tempatnya berdiri. Namun Nadya berhasil meyakinkannya. Nadya menjelaskan semuanya. Di setiap penjelasan, raut wajah Saka berubah-ubah. Nadya bisa merasakan kekecewaan dan kemarahan di sana.


Selesai menjelaskan semua, Nadya beringsut dari duduknya. Ia merasa tugasnya telah selesai, untuk meluruskan hal yang sudah ia bengkokan. Sudah tak ada yang bisa dilakukannya lagi. Seperti janjinya pada Arsha, dia akan pergi dari hidup mereka.


Nadya memperhatikan pria tegap yang masih duduk bergeming. Dari raut wajah, Nadya tahu bahwa pria yang ditemuinya beberapa kali ini menahan kemarahan. Hal itu terlihat dari kerutan di kening, bibir yang terkatup rapat sembari menggeretak, mata berapi-api, serta tangan yang terkepal kuat hingga menunjukkan urat-urat.


"Saya tahu Anda pria yang cerdas, bijak, serta bisa berpikir jernih. Anda tidak akan melakukan hal-hal di luar batas." Sebenarnya Nadya lebih meyakinkan diri sendiri. Ia khawatir Saka akan menyakiti Armand melihat kemarahan di wajah pria itu.


"Saya harap, di pertemuan kita selanjutnya, yang entah kapan, kita semua telah mendapatkan kebahagiaan masing-masing." Nadya terdiam sejenak. Tak ada respon apapun. Dia berdiri dengan kikuk. "Kalau begitu, saya pamit. Jaga diri Anda baik-baik," ucapnya dan berbalik pergi.


***


Bibirnya hanya bisa terkatup rapat. Dadanya panas dan bergejolak. Ada rasa marah, kecewa, sedih yang ingin diluapkan. Semua emosi itu bercampur menjadi satu. Membentuk gumpalan yang semakin lama semakin besar. Membuat dadanya semakin sesak. Hingga oksigen seakan tak mampu dihirupnya. Ia butuh pelampiasan!


Penjelasan Nadya membuat Saka tak mampu berkata-kata. Hal ini terlalu mengejutkan! Ia pikir, Armand seorang pria yang telah memiliki istri. Saingan yang bisa disingkirkannya dan lambat laun ia akan mengambil alih hati Arsha. Namun kenyataannya tak seperti itu!

__ADS_1


Armand sama sepertinya! Dia adalah pria yang bebas. Tak terikat dengan siapapun. Armand bebas mencintai siapapun tak terkecuali Arsha. Dan perasaan pria itu bersambut.


Melihat mereka berciuman seperti itu, membuat pundak Saka tertunduk lunglai. Harapannya habis. Pupus sudah semuanya! Ia tak memiliki kesempatan sedikit pun. Saka tahu bagaimana Nay begitu mencintai Armand. Ternyata Armand pun mencintainya.


Benar kata Nadya. Tak ada tempat baginya maupun Nadya di hubungan mereka. Sekuat apapun usaha dilakukan, hasilnya akan tetap sama. Saka marah akan ketidakberdayaannya.


Untuk tak menyakiti rivalnya, dia butuh pelampiasan untuk menyalurkan energi negatif yang memenuhi tubuhnya. Saka merogoh ponsel dan menghubungi salah satu nomor. Dalam dering pertama, panggilan diangkat.


"Kumpulkan semua anggota di lapangan tembak. Bawa M-16!"


***


"Kamu tidak kembali ke kamarmu?"


Mereka tengah duduk di sofa dengan tubuh saling berdempetan. Lengan Arsha menggayut lengan Armand seolah tak ingin melepaskan. Kepala dia sandarkan di bahu Armand. Suaranya yang manja membuat Armand tersenyum kecil.


"Kenapa kamu berubah 180 derajat begini? Apa karena aku yang menyelamatkanmu?"


"Salah satunya. Salah lainnya lebih banyak."

__ADS_1


"Maksudnya?" Armand menatap pucuk kepala gadis itu. Dia menurunkan kepala untuk membaca raut wajah Arsha.


"Nggak ada maksud apa-apa. Pokoknya kita pacaran sekarang!" Arsha memproklamirkan hubungan mereka tanpa malu-malu.


Armand menggeleng-gelengkan kepala. Seutas senyum tipis tersungging di bibirnya. Dia meletakkan telapak tangannya yang besar di kepala Arsha dan mengacak-ngacak rambut wanita mungil itu.


"Dasar bocil."


"Eh, saya bukan bocil ya, Pak. Saya gadis dewasa yang sudah matang."


"Perasaan baru kemaren aku ditolak. Dibilang tidak tahu malu. Sekarang ada yang memproklamirkan hubungan secara sepihak. Tanpa meminta persetujuanku lebih dulu ...."


"Jadi Bapak nggak mau pacaran sama saya?" Mata Arsha melotot. Dari tatapannya, dia seperti siap melahap Armand kapan saja. Seolah menyatakan, 'Bapak berani menolak saya?'


"Pacaran aja? Nggak mau lebih?" Sebelah alis Armand terangkat. Pendar matanya menunjukkan ekspresi geli.


"Lebih? Lebih gimana?"


"Menikah. Misalnya."

__ADS_1


***


Happy Reading 🥰


__ADS_2