
Acara family gathering itu dilaksanakan dalam waktu tiga hari dua malam, yaitu hari Jumat, Sabtu dan Minggu. Kebetulan hari Jum'at tanggal merah, sehingga bisa digunakan untuk berlibur. Kami berangkat hari Kamis malam sepulangnya jam operasional kantor.
Sesuai kesepakatan bersama, keberangkatan akan dilakukan di kantor sehingga semua karyawan diharapkan untuk berkumpul di sana. Karena tidak semua karyawan membawa keluarga, sehingga menggunakan satu bus sudah cukup.
Ada beberapa karyawan yang memutuskan untuk pulang lebih dulu untuk mengambil barang, namun ada pula yang sudah membawa barang-barangnya sedari pagi. Aku salah satu karyawan yang sudah membawa barang sedari pagi.
Bus pariwisata sudah menunggu di depan kantor. Aku bergegas mendekat sembari menyeret koper. Tiba-tiba koper itu direnggut dari tanganku dan dibawa ke dekat bus. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Saka.
Dia memerintahkan supir membuka bagasi dan memasukkan koper. Sembari berjalan ke arah bus, mataku melihat kesana-kemari. Entah mengapa, tanpa sadar aku melakukannya. Seperti sedang mencari-mencari keberadaan seseorang.
"Nay, barangmu ini aja? Ada lagi barang yang lain?"
Sudah lebih dari separuh karyawan yang datang, namun keberadaannya ....
"Nay? Hallo? Barangmu ini aja?" Saka melambaikan-lambaikan tangan tepat di depan wajahku. "Lihat apa sih? Ada barang yang ketinggalan? Atau teman yang ditunggu?"
"E-enggak ada. Apa katamu tadi?"
"Barangmu ini aja?"
"Iya, ini aja."
"Ada lagi yang mau ditaruh di bagasi?"
"Nggak ada."
"Yakin?"
"Iya yakin. Kamu sejak kapan di sini?"
"Dari jam lima aku sudah di sini. Dari tadi aku panggil-panggil, tapi kamunya nggak sadar. Ngelamunin apa?"
"Ah, nggak ada sih. Mikirin kerjaan yang belum selesai."
"Nay?"
"Hem?"
__ADS_1
"Kenapa kamu bilangnya dadakan?"
"Mengenai?"
"Family gathering ini."
"Yang penting 'kan sudah bilang."
"Kalau dadakan begini, aku nggak bisa ambil cuti."
"Emang mau ngapain kalau ambil cuti?"
"Ikut kamu 'lah."
"Ya mana bisa, Ka. Ini 'kan acara kantor. Lagian namanya aja family gathering. Emang kamu familyku?"
"Akan menjadi," balasnya sembari tersenyum ceria.
"Hedeh. Udah ah, aku masuk dulu. Udah mulai banyak yang datang, takut nggak bisa milih kursi."
"Nay, tunggu."
"Sini salim dulu." Saka menyodorkan tangan.
"Apaan."
"Sama pacar itu harus sopan. Sebelum belajar jadi istri yang baik, harus belajar jadi pacar yang baik. Pelajaran pertama, salim dulu." Dia tetap menyodorkan tangan.
"Pacar apa? Istri apa? Salim? Ogah!"
"Bandel ya." Kupikir Saka akan menoyor kepalaku, sehingga aku berusaha menghindar. Namun nyatanya, Saka malah mengelus-ngelus kepalaku.
"Jaga diri baik-baik Nay. Ingat janjimu kemarin."
"Janji apa?"
"Lupakan. Sana berangkat." Saka tersenyum kecil. Dia menepuk-nepuk bahuku. Wajah cerianya berubah menjadi sendu. "Kabari kalau sudah nyampe, Nay."
__ADS_1
"Hem, oke." Aku membuat gerakan jari telunjuk dan jempol bersatu hingga membentuk huruf O.
***
Para karyawan dan keluarganya sudah mulai banyak yang berdatangan. Aku masuk ke dalam bus dan mulai memilih kursi. Ada beberapa kursi yang sudah terisi. Aku memilih kursi di barisan tengah, dekat dengan jendela.
Sebenarnya aku ingin duduk bersama teman wanita, namun mereka sudah duduk dengan pasangannya masing-masing. Malah ada beberapa yang kutahu belum menikah, membawa pasangannya ikut serta. Apakah tidak apa-apa? Pada akhirnya aku duduk sendiri.
Di balik kaca, - berjarak sekitar empat meter dari bus, kulihat Saka masih berdiri sembari memandangku. Satu tangan dimasukkan saku, sementara tangan lain melambai padaku. Dia tersenyum tipis. Tatapan matanya terlihat dalam dan sendu. Seperti ada yang ingin disampaikan, namun tak bisa diutarakan.
Dia terlihat berbeda. Seperti bukan Saka yang kukenal selama beberapa hari ini. Saka yang tengil dan gila, berubah menjadi serius dan sendu.
Aku melambaikan tangan sembari menjulurkan lidah dan menjulingkan mata. Sikapku yang seperti itu membuat Saka tergelak. Kemudian dia mengambil sesuatu dari sakunya. Seperti orang kebingungan. Adakah sesuatu yang hilang?
Beberapa detik kemudian, dia mengeluarkan tangannya dari saku dan menunjukkannya padaku. Ternyata jarinya membentuk 'little love', ungkapan cinta yang marak diperagakan oleh anak-anak milineal jaman now.
"Hoek!" Aku membalas ungkapannya itu dengan pura-pura muntah. Saka tertawa terpingkal-pingkal. "Dasar Cah Edan."
***
Satu per satu kursi mulai terisi. Setiap kali ada yang masuk, entah mengapa tanpa sadar mataku selalu memperhatikan. Alam bawah sadarku bergerak sendiri. Aku kesal dengan diri sendiri. Mengapa aku tak bisa sepenuhnya acuh? Bukankah sudah cukup semua perlakuannya selama ini? Bukankah statusnya sudah cukup untuk membuatku menjauh? Kenapa aku masih seperti ini?
Untuk menghindari mataku jelalatan, aku memilih untuk memejamkan mata. Membuat posisi yang nyaman, agar bisa tertidur selama perjalanan panjang ini.
Sepertinya taktik ini cukup berhasil. Pikiran dan tubuh yang lelah, membuatku lama-lama terbuai dalam mimpi. Aku tak tau kapan tepatnya bus mulai berjalan. Pikiranku mulai berkelana. Entah mengapa, dia muncul dalam mimpi.
Eh bukan mimpi. Bukankah aku pernah mengalaminya? Perjalanan dari Jember ke Surabaya untuk melaksanakan OJT di Jakarta. Aku tertidur di bahunya. Memang kenangan yang menyenangkan, sebelum aku tahu kenyataan yang sebenarnya.
Goncangan di dalam bus membuat kepalaku terantuk, tapi anehnya tidak sakit. Karena terkejut, aku cepat-cepat membuka mata untuk melihat benda apa yang terbentur kepala.
Aku melihat sebuah tangan besar dengan jemari yang kokoh sedang menahan kepalaku. Belum sempat aku membuka mulut, suara di samping membuatku tercekat.
"Sudah bangun?" tanya suara yang sangat dalam. Suara familiar yang dulu pernah menghiasi mimpi-mimpiku. Aku menoleh dengan cepat, untuk memastikan tidak sedang bermimpi.
Benar saja. Kursi kosong di sebelahku sudah ada yang menempati.
***
__ADS_1
Happy Reading 😘