
Hari yang melelahkan. Hari ini pun aku berhasil pulang lebih dulu. Menghindari waktu-waktu genting ketika hanya berdua. Mencari berkas berdua, akan menimbulkan campuran emosi yang aku pun sangsi bisa mengontrolnya.
Apa yang dilakukan wanita ketika patah hati? Bagaimana cara menyembuhkannya?
Keinginan untuk menghindar begitu besar, sehingga tanpa sadar aku menyusuri jalan Gajah Mada. Melajukan motor dengan kecepatan sedang sembari melamun.
Apa healing terbaik yang bisa kulakukan saat ini? Mengunjungi teman? Ah ya, lupa. Teman-teman akrabku sudah pulang ke kampung semua. Kalau pun tidak, mereka bekerja di luar kota. Tidak ada teman akrab yang bisa diajak hang out.
Apa hiburan terbaik yang bisa diberikan kota Jember saat ini? Nonton film? Ngemall? Ngafe? Andaikan bisa pulang ke rumah, pasti aku sudah menyusuri sawah dan bukit-bukit kecil. Menatap pemandangan hijau setidaknya cukup menentramkan hati. Tidak ada pilihan lain, sepertinya menonton film ide yang cukup baik untuk saat ini.
Aku memasang lampu sign ke kiri ketika melihat Kota Cinema Mall di depan mata. Memasuki area parkir dan mulai mengitari area. Di sebelah area parkir terdapat food terrace yang berjejer rapi membentuk huruf U. Berbagai macam hidangan tersedia. Dari masakan nusantara, chinese food sampai western food. Di tengah-tengah terdapat panggung terbuka yang mana telah disediakan kursi-kursi untuk para pengunjung yang ingin menikmati hidangan sembari mendengarkan live music.
Aku tergoda untuk duduk di sana. Namun karena tujuanku untuk menonton film, maka kulanjutkan langkah memasuki gedung utama. Niat utamaku adalah menonton film sedih yang menyayat hati sehingga ketika menangis pun, tidak ada yang menghakimi. Sayangnya, film yang ditayangkan horror semua. Tidak cocok dengan suasana hatiku yang sedang melo. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di kursi-kursi itu sembari memesan makanan.
Sembari menunggu makanan tiba, aku mulai menscroll ponsel. Sebenarnya ponselku tidak sepi-sepi amat. Ada beberapa jejaka yang menghubungi, baik itu dari teman semasa kuliah ataupun beberapa orang yang pernah kutolak lamarannya. Entah mengapa, aku tidak tertarik dengan mereka semua. Tidak ada debaran atau sekedar perasaan kagum. Di mataku, mereka seperti anak ayam yang baru lahir. Tidak bisa disandingkan dengan dia, yang seperti elang .... Ah, lagi-lagi aku mengingatnya.
"Hai Mbak. Dari tadi aku ngeliatin dari jauh. Familiar banget sama wajah Mbaknya. Baru inget, kalo Mbak itu yang nolongin aku bawain bekal buat Abi. Em, kalau nggak salah, Mbak Ar ... Arsha ya?" Tepukan lembut di bahu mengalihkan perhatianku dari ponsel. Secara otomatis aku menengok pada sang pemilik suara dan ... dihadapanku berdiri wanita yang tak ingin kutemui. Nadya.
"Sendirian, Mbak? Boleh duduk di sini?" Tanpa menunggu jawaban, wanita itu menarik kursi dan duduk di sebelahku. Aku terlalu terkejut untuk menjawab setiap kata-katanya.
"Abi masih cari parkir. Sebentar lagi dia ke sini. Oh, itu dia." Nadya menoleh dan melambai-lambaikan tangan. Memberi kode pada pria yang dimaksud untuk mendekatinya.
Aku shock. Benar-benar shock! Tujuanku pulang cepat untuk menghindarinya, namun kenapa sekarang kami justru bertemu di sini? Bersama istrinya lagi?! Nasib sial apa ini?!
"Bi, sini, sini." Nadya berdiri dan menarik tangan pria yang telah berada di sampingnya itu. "Aku ketemu Mbak Arsha. Yang kemarin aku titipin bekal itu lho."
Aku benar-benar ingin bersembunyi ke lubang semut. Aku tidak ingin bertemu mereka!! Kenapa harus bertemu di sini?!
Tapi, seenggan-engganya aku menolak kehadiran mereka, aku tetap memiliki adab kesopanan sehingga aku menarik sudut bibir selebar mungkin dan menoleh untuk menyapa pria itu.
"Hehe, hai, Pak. Ketemu di sini, hehe ...." Senyum bodoh menghiasi wajahku. Entah jadi seidiot apa wajahku di depannya.
Pria itu terlihat tertegun. Dia masih memakai setelan baju kantor. Itu artinya, dia baru saja pulang. Tak sengaja mataku melihat tangan Nadya yang bergelayut di lengannya. Tenggorokanku tiba-tiba tercekat dengan genang airmata yang tiba-tiba datang. Secara cepat aku memalingkan wajah.
"Lho, Arsha? Kamu kok di sini? Tadi aku mencarimu." Pria itu langsung menarik kursi dan duduk di depanku. "Akhir-akhir ini kamu sering hilang tiba-tiba ya."
"Hehe, iya Pak ...."
__ADS_1
"Sama siapa ke sini?" Dia menengok ke sana kemari.
"Sendiri, Pak ...."
"Ngapain?"
"Ih, Abi. Orang ke sini kalau nggak nonton ya makan. Kok masih ditanya, ngapain?" Nadya mencubit lengannya dengan manja. Kemudian duduk di sebelahnya dengan tangan masih bergelayut.
"Masalahnya anak ini jarang keluar rumah." Dia (aku malas menyebut namanya) berkata sembari melihat Nadya, kemudian kembali menatapku lagi dengan tatapan tajam. "Sudah ijin ayah ibu kalau kamu ke sini?" tanyanya. Ah, selama ini aku salah mengartikan tatapannya. Aku pikir itu tatapan suka, ternyata tatapan seorang kakak terhadap adiknya? Hahaha. Bodohnya aku.
"Kalian kelihatannya sangat akrab ...." Nadya menatap kami satu per satu dengan tatapan menyelidik. Aku membuka mulut, berusaha untuk menyanggah segala kecurigaannya itu.
"Saya ...."
"Kami partner kerja. Ruangan Arsha paling dekat dengan ruanganku. Ya memang akrab. Hampir setiap hari aku makan masakannya."
"Oh, jangan-jangan Mbak Arsha ini junior yang kakinya luka itu?" Suara Nadya meninggi satu oktaf. Entah apa hanya perasaanku saja, tapi aku mendengar nada tidak suka
"Yep." Pria itu menyilangkan kedua lengan di dada sembari mengangguk-anggukan kepala. Matanya masih menatapku dengan tajam. Seolah-olah aku telah membuat kesalahan, padahal dia sendiri yang telah PHP anak orang!!
"Bi, bukannya filmmu sebentar lagi mulai ya? Udah pukul 19.15 WIB nih. Sana pergi." Nadya menarik tangannya hingga berdiri.
"Kamu beneran nggak mau nonton?"
"Nggak. Aku nggak suka Doctor Strange. Aku di sini aja, sama Mbak Arsha. Ya 'kan, Mbak?" Nadya melihatku sembari tersenyum, sementara telapak tangannya tertangkup di atas tanganku. Aku tak punya kesempatan untuk menolak, selain mengiyakan seperti orang bodoh.
"Ar, kamu nggak mau nonton?" Kali ini, pria itu melempar pertanyaan padaku yang kujawab dengan gelengan kepala. "Ya sudah, aku masuk dulu. Tetap di sini ya. Dua jam lagi, aku kembali."
Aku hanya ingin ketenangan. Healing. Berusaha menjernihkan pikiran dan menyembuhkan hati yang terluka. Kenapa permintaan sederhana itu tidak bisa kudapatkan? Kenapa aku harus bertemu dengan Sang Pemberi Luka?!
"Mbak Arsha sepertinya lebih muda dariku nih. Kalau boleh tahu, umur berapa?" Sesi selanjutnya, sesi tanya jawab. Bila aku di posisi Nadya, mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Istri mana yang tidak khawatir bila mendapati suaminya mengatakan akrab dengan rekan kerja? Ditambah lagi, sering makan masakannya si rekan. Lagian, kenapa dia menjawab seperti itu? Bukankah cukup dengan mengatakan bahwa kami hanya rekan kerja biasa saja. Dengan begitu, aku tidak perlu menghadapi sesi tanya jawab seperti ini.
"Saya 22 Mbak ...."
"Oh, masih muda sekali ya. Pantas saja Abi memperlakukanmu seperti anak kecil, hehe. Aku 27. Boleh kupanggil Arsha saja?"
"Iya, silakan Mbak ...."
__ADS_1
"Sudah lama kerja di sini?"
"Mau tiga bulan, Mbak."
"Oh, masih baru ya. Training, pegawai kontrak apa langsung tetap?"
"Masih training Mbak. Sebentar lagi ada masa evaluasi."
"Oh, ya ya. Wajar kalau diperbankan seperti itu. Apalagi fresh graduate." Nadya mengangguk-anggukan kepala. "Betah kerja di sini?"
"Iya, betah-betah aja, Mbak ...."
"Pasti sulit kerja bareng Abi ya? Dia sangat perfeksionis. Pasti kamu dibuat susah setiap hari."
"Nggak juga, Mbak. Pak Armand sangat baik."
"Oh, wajar. Kamu anak baru soalnya. Mungkin dia takut kehilangan anak buahnya seperti sebelumnya. Makanya dia bersikap baik. Susah kan kalau harus cari orang baru lagi. Mengajari dari awal lagi. Kalau dia baik kayak gitu, kamu jangan baper ya."
"Eh, e-enggak Mbak." Terkejut, panik, malu, menjadi satu. Aku menatap Nadya dengan gelagapan. Wanita itu hanya tersenyum kecil. Senyum memaklumi dan ... sinis 'kah? Ah, sepertinya aku salah lihat.
"Abi itu memang mempesona sih. Entah sudah berapa banyak wanita yang dia buat baper. Tapi ya gitu, dia nggak sadar. Dia pikir, yang dia lakukan itu hal yang wajar." Nadya berbicara sembari tercenung.
"Memang wajar sih kalau banyak yang suka. Abi kan perfect. Dari segi fisik sempurna. Tinggi dan tampan. Pekerjaan juga bagus. Keluarganya juga kaya. Wanita mana yang tak akan suka? Iya 'kan?"
"Tapi, sebebas-bebasnya burung terbang, pasti akan tahu jalan pulang. Aku membiarkannya, karena aku tahu pada akhirnya dia akan pulang padaku." Nadya tiba-tiba saja menatapku dengan senyum lebar.
"Ada yang lucu nih. Dia 'kan ngajak aku nikah, nah akunya belum siap. Dia pilih jalan cepat. Dia bikin aku bengkak gini. Kami baru nikah 5 bulan, tapi usia kandunganku udah 8 bulan. Lucu banget ya dia? Padahal tanpa dibuat bengkak, aku juga nggak akan kemana-mana ..." Bla... Bla... Bla...
Terlalu banyak informasi yang kuterima, membuat kepalaku pusing dan asam lambungku naik. Minuman yang baru saja masuk, terancam akan keluar lagi. Akan sangat memalukan bila aku muntah di saat seperti ini.
Tahan Arsha!! Tahan!!
***
Happy Reading 🥰
NB : Berhubung besok udah masuk kerja, jadi nggak bisa janji update tiap hari lagi genk. Tapi tiap selese diketik, langsung aq terbangin kok. Maafkan ya 🙏
__ADS_1