Sekretarisku Canduku

Sekretarisku Canduku
Episode 60 kritis


__ADS_3

Aditya yang tak kalah diam langsung menyuruh semua anak buahnya untuk menyelidiki maslah ini. karena merasa seperti ada kejanggalan di balik kecelakaan yang terjadi pada meli.


" sayang... aku takut terjadi sesuatu pada meli" ucap vanya sambil menanggis di pelukan aditya.


ntah lah apa yang sebenarnya terjadi pada meli, sampai lama sekali pintu UGD tidak terbuka dan dokter tidak kunjung keluar.


fahri pun tak bisa tenang, dia mondar mandir menunggu dokter keluar.


kemudian orang tua meli datang dan menghampiri vanya aditya dan juga fahri.


"Bagaimana keadaan meli van?" tanya mama meli pada vanya.


"kita juga tidak tau tante, dari tadi dokter belum juga keluar" jawab vanya.


orang tua meli pun terduduk lemas mendengar jawaban dari vanya, orang tua mana yang tak khawatir dengan keadaan putrinya yang sedang tidak baik baik saja.


tak lama mereka menunggu di luar, dokter pun keluar dari ruangan.


"Dok bagaimana keadaan meli? " tanya fahri karna fahri lah yang dekat dengan pintu ruangan itu.


"Apa ini keluarga dari meli? "

__ADS_1


"Iya dok saya kami orang tuanya" ucap mama meli terbangun dari duduknya.


" maaf bu keadaan meli saat ini sangat keritis dan meli sangat membutuh kan banyak sekali darah, dan juga sepertinya meli harus di oprasi karena ada benturan yang sangat keras di kepalanya sehingga meli menggalami gegar otak. itu saja yang bisa saya sampaikan untuk sekarang ini. saya permisi"


deg.. jantung fahri seperti tersambar geledek di siang hari, karna mendengar keadaan kekasihnya yang terbaring tak berdaya.


begitupun dengan vanya yang berusaha menenangkan ibunya meli yang tak kuasa menahan dirinya.


"vanya kenapa harus meli... kenapa bukan tante saja" ucap mama meli sambil menangis.


"Tante jangan bilang begitu, kita semua di sini juga sedih melihat keadaan meli tan" ucap vanya memeluk mama meli.


yang terus menyalahkan dirinya sendiri


" dit kalau aja kita ngak mau ketemuan, pasti meli sekrang baik" aja dit, ini semua memang salah gue, harusnya gue ngak mau di ajak ketemuan sama meli, kalau pun ketemu gue jemput dia. bukan dari tempat kerja masing masing" fahri terus saja menyesali itu walaupun sebenarnya dia tidak bersalah.


"tenang lah far, jangan salahin diri lo sendiri. ini semua kecelakaan far" ucap aditya menenagkan fahri sambil memegang pundak fahri. " lo tenang aja gue udah suruh anak buah gue, urus semua ini. karna gue ngerasa ada kejanggalan atas kecelakaan meli ini.


"Maksud lo apa dit? ada yang sabotase? " tanya fahri pada aditya


"Bisa jadi lo pikir deh, apa meli seteledor itu sampai tidak memperhatikan lampu merah. sudah lah jangan pikir kan itu dulu, kita fokus pada meli saja dulu.

__ADS_1


" Iya dit lo bener, sekarang yang lebih penting adalah kesembuhan meli, gue bakal lakuin apa aja demi meli" fahri berusaha bangkit dari kesedihannya agar bisa memberi semangat untuk meli.


" Ya sudah ini sudah menjelang magrib, lebih baik kita solat dulu, kita doain yang terbaik untuk kesembuhan meli"ajak aditya pada fahri, vanya dan orang tua meli.


mereka pun berjalan menuju masjid rumah sakit, dan bersiap siap untuk menunaikan shalat magrib berjama'ah.


setelah mereka selesai melaksana kan shalat berjamaah aditya dan vanya berpamitan untuk pulang. mengingat keadaan vanya yang sedang menggandung aditya mengajak vanya untuk pulang dan beristirahat.


" sayang kita pulang ya, kamu juga harus istirahat" ucap aditya lirih membujuk vanya.


"engak yang aku mau di sini aja, aku mau nemenin meli" tolak vanya pada suaminya


"sayang kamu juga harus istirahat, kmu lupa sama ini" aditya menunjuk perut vanya.


kemudian vanya pun menghela nafasnya, dan mengangguk untuk ikut pulang bersama suaminya.


" om.. tante, kita pamit pulang dulu ya" ucap aditya pada kedua orang tua meli.


" Iya kalian hati hati ya meli"ucap mamanya meli


"far kita duluan ya, besok kita balik lagi"aditya menepuk pundak fahri untuk berpamitan

__ADS_1


__ADS_2