SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
MALAM MINGGU


__ADS_3

"Bersiaplah aku jemput jam 08.00 nanti." kata David menurunkan kaca mobil. Dia cepat berlalu sebelum melihat Scarlet mencak-mencak.


"Jangan harap aku menurutimu." gumam Scarlet melihat mobil David yang mulai menjauh.


Scarlet dari tadi bingung, dia kesal mau di jemput oleh David. Bukan karena dia malu di gosipin oleh si Udin, masalahnya David pakaiannya bagus, sedangkan dirinya hanya memakai pakaian emperan yang harganya seratus ribu. Itupun belinya nawar berkali-kali.


Akhirnya datang juga pria itu. Scarlet duduk di depan teras kostnya. David menyembunyikan rasa kagetnya, melihat Scarlet memakai baby doll, yang diatas lutut.


"Hemm...menunggu aku ya." kata David ogah ikut duduk.


"Tidaklah, aku nonton bintang di langit. Sudah lama tidak santai."


"Perasaan dari tadi mendung." sahut David tersenyum. Reflek Scarlet berdiri dan melihat ke langit. Dia tersenyum, karena satupun tidak ada bintang.


"Bintangnya ngumpet semua gaga- gara kamu datang." ujar Scarlet sekenanya. Dia tidak mood pergi. Dandanan David gaul banget, dan bau parfumnya sangat maskulin, membuat Scarlet ingin menpel.


"Kamu akan pergi dengan pakaian seperti ini?'' tanya David melihat baju Scarlet yang pendek. Sedikit saja Scarlet mengangkat kedua tangan ke atas, pasti pangkal paha Scarlet akan terlihat. David jadi mengkhayal mesum.


"Aku menolak pergi denganmu." tolak Scarlet cepat. dia masuk dan duduk kembali di teras.


"Aku tidak menerima penolakanmu."


"Aku tidak menurutimu, pintu keluar ada di sebelah kanan." balas Scarlet kesal. Alih-alih keluar, David malah memilih berdiri di depan Scarlet.


"Aku menyuruhmu keluar, kenapa kamu malah berdiri seperti patung."


"Kamu tahu, sayank, belum pernah ada yang berani memerintahku, bicara kasar padaku atau mengusir." kata David menatap tajam mata Scarlet.


"Jangan bangga akan dirimu David, walaupun aku orang miskin, hina dan dari panti asuhan, tidak berarti aku harus menurutimu. Kamu bukan siapa-siapa bagiku." sahut Scarlet tersendat. Dia membuang mukanya ke samping.


"Kamu tidak mau menyuguhkan minuman pada tamumu?" tanya David mengalihkan pembicaraannya. Dia tahu, Scarlet pasti berusaha menjauh darinya karena indentitas dirinya yang jauh berbeda dengannya.


"Aku kan tidak mengundangmu." ketus Scarlet. David memberikan tatapan paling tajam pada Scarlet.


"Scarlet bangun dan melangkah ke kamar. Apa yang harus dia berikan kepada David?"

__ADS_1


Scarlet kemudian datang dengan membawa satu gelas air putih.


"Aku tidak punya apapun, hanya air putih yang tersisa. Aku bukanlah gadis kaya seperti bekas pacarmu." kata Scarlet menunduk. David terharu dia meminumnya hingga tersisa setengah.


"Apakah kamu bisa masak, aku sangat lapar sekali."


"Bisa, tapi aku tidak punya bahan di masakan. Aku belum belanja. hanya ada mie instan. Kamu salah alamat datang kesini, aku ingatkan padamu bahwa aku tidak selevel denganmu. Jika kamu terus mencariku, itu hanya kesenangan sesaat yang ingin kamu dapatkan dariku. Setelah itu kamu akan membuangku, seperti sampah."


"Jangan banyak bicara, kalau begitu buatkan aku mie instan."


"Apa, kamu mau makan mie?" Scarlet tidak menyangka kalau David mau memakan mie. Walaupun dia tidak tahu asal usul David, tapi Scarlet bisa merasakan kalau David dari orang berada. Dua kali menemani pria itu makan dan termasuk makan yang di kirim untuknya semua makanan dari restoran berbintang lima.


"Buatkan aku mie instan!" ulang David.


"Kamu yakin? Kamu tidak akan sakit perut?" Scarlet memastikan. 


"Kamu pikir aku selemah itu?" David memasang wajah tersinggung. Dia melihat dengan mengangkat sebelah alisnya, menunggu apa yang akan di katakan Scarlet selanjutnya.


"Akan aku buatkan mie instanmu... tapi bohong!!" kata Scarlet tertawa tertahan. Tadi dia bohong bilang masih punya mie, padahal mie pun dia tidak punya. Uangnya habis pakai naik ojek, ngeprint dan lain-lain.


"Uuhh...berani kamu membohongiku, awas ya."


"Kalau begitu temani aku ke luar sebentar saja, lapar banget. Tolonglah ...please..."


Scarlet terdiam, dia memandang David tajam. Rasanya tidak tega menolaknya.


"Baiklah, jangan lama-lama aku malu sama teman kost, apalagi si Udin orangnya rese banget."


"Oke, mari kita pergi." kata David menggandeng Scarlet.


"Mat malam Tuan and Nona, mau malming ya. Lagi mendung nich, apa tidak diam di rumah aja." si Udin sudah nongol di depan mereka.


"Kita mau nonton midnight show, jadi pulang malam. Kalau hujan, kami terpaksa pulang pagi."


"Selamat bersenang-senang Tuan, menurut ramalan cuaca, hujan akan berlangsung seminggu, jadi Tuan bisa mengembalikan Nona minggu depan."

__ADS_1


"Itu lebih bagus, bila perlu untuk selamanya, supaya bang Udin tidak bisa ganggu lagi." mbak Sri nongol, membuat si Udin manyun. Dia lalu melihat bengong David mengajak Scarlet keluar.


"Hati-hati neng, banyak laki-laki hanya modus" teriak Udin dalam hati.


David membukakan pintu mobil untuk Scarlet. Dia berusaha berbuat manis supaya Scarlet betah.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Mereka tidak saling bicara, Scarlet berpikir tentang kuliahnya, sedangkan David berpikir mau mengajak Scarlet ke Apartement.


"David, menjauhlah dari kehidupanku sebelum aku terlanjur jatuh cinta padamu. Kita tidak mungkin bersatu." Suara Scarlet lirih.


"Kamu egois sayank, kita akan berpisah setelah Matahari terbit dari Barat."


"Kamu bandel, apakah kamu tahu jika aku menuruti semua keinginanmu, aku merasa semakin tidak berharga. Tingkah lakumu akan membuat aku menderita."


"Jangan terlalu Afirmasi negatif, aku melakukan atas nama cinta, aku mencintaimu Sayank."


"Hahaha...berapa orang yang sudah kena rayuanmu? maafkan aku, kalau aku tidak percaya kata-katamu."


"Cinta tidak perlu diucapkan, aku melakukan sesuatu untukmu karena aku mencintaimu." sahut David tersinggung karena Scarlet tidak mempercayainya.


Mobil masuk ke sebuah Apartement milik David. Baru pertama kali dia membawa seorang wanita masuk kerumahnya. Dia tidak tahu kenapa dirinya sangat terbius dengan Scarlet.


David mengajak Scarlet turun dari mobil dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Kemewahan perabotan yang berada di dalam ruangan membuat Scarlet kagum. Dia tidak mau memperlihatkan rasa kagum yang berlebihan kepada David.


"Duduklah, kita akan minum sedikit untuk menghangatkan tubuh. Sebentar lagi hujan akan turun, udara akan menjadi dingin.


"Aku tidak mau minum, kalau aku mabuk kamu menjadi liar. Aku tidak mau jatuh ke lobang yang sama dan mengulangi perbuatan bodoh."


"Kamu terlalu paranoid. Tenanglah, tidak ada yang ingin mencelakaimu."


Scarlet lalu duduk di sofa, matanya melihat David yang mulai membuka penutup botol lalu menuangkannya ke gelas.


"Aku tidak minum." tolak Scarlet saat David menyodorkan satu gelas berisi Wine ke padanya. Scarlet ingat dia jadi "liar" malam itu berkat meminum Wine.


"Aku malah ingin mengajakmu lomba minum, Kalau kamu bisa ngabisin segelas aku akan memberimu, uang yang banyak."

__ADS_1


"Maaf aku tidak tertarik, dulu kamu juga berkata begitu, akan memberi aku uang seratus juta, asal mau tidur denganmu. Tapi kamu tidak tepat janji. Kamu tidak memberikan aku apa-apa. Kamu tahu, waktu itu aku merasa sangat terhina dan menangis semalaman, gara-gara kebodohanku itu seumur hidup aku akan menyesal. Semoga kamu mengerti." kata Scarlet lirih.


*****


__ADS_2