
Iwan dan Kedasih menunggui Scarlet secara bergantian. Iwan merasa kasihan kepada Scarlet yang terlihat pucat sedang meringkuk dibalik selimut Rumah Sakit.
Dengan hati-hati Iwan menyentuh kening Scarlet dan merasakan tubuh Scarlet masih panas. Mata Scarlet tertutup rapat mungkin karena pengaruh obat. pikir David.
David datang dengan wajah khawatir. Hatinya terenyuh melihat Scarlet yang tertidur dengan wajah yang pucat. David langsung mendekati Scarlet dan mencium keningnya.
"Bagaimana dia, apa kata dokter?" tanya David memandang Iwan.
"Dia terlalu capek dan kurang makan harusnya bos membiarkan dia lepas, dia kelihatan semakin kurus."
"Aku belum bosan dengannya, nanti kalau sudah jenuh aku akan lepas."
"Jangan-jangan bos jatuh cinta padanya. Biasanya wanita lain tidak pernah bos ladeni seperti ini."
"Aku tidak mengerti perasaanku, yang jelas aku tidak mencintainya. Aku pura-pura baik saja supaya dia tetap menjadi milikku."
"Kasihan dia bos, aku tidak tega saat melihatnya. Aku siap melindunginya bila suatu saat bos membuangnya."
David menggertakan giginya, hampir tangannya melayang ke wajah Iwan, dia sangat benci jika Iwan perhatian kepada Scarlet. Dia melihat Scarlet membuka matanya, saat melihat David dia membuang mukanya.
"Sayank, bagaimana perasaanmu? maaf tentang semalam." kata David lembut. Dia menatap Iwan tajam.
"Maaf bos..." cepat-cepat Iwan menyadari kesalahannya.
"Berhenti memikirkan rumput tetangga, kalau masih ingin melihat Matahari pagi." kata David duduk di kursi, disamping Scarlet.
"Buruk!! sahut Scarlet acuh. Tentu saja David kesal mendengarnya karena Scarlet mengatakan didepan Iwan.
"Makanlah, aku akan menyuapimu."
"Tidak usah repot-repot menyuapiku, aku kenyang abadi." ketus Scarlet, masalahnya dia tadi mendengar David mau membuangnya ketika David sudah bosan padanya. Manusia setan, kerak-kerak neraka. umpat Scarlet dalam hati.
Kebenciannya sudah sampai ke ubun-ubun. Scarlet harus bisa kabur dari kehidupan David. Instingnya benar, bahwa David tidak mungkin mencintainya, David hanya butuh pelampiasan. Sungguh biadab.
"Jangan menguji kesabaranku, aku tidak ingin kamu kurus kering jika bersamaku." kata David membantu Scarlet bangun. Tapi Scarlet menepis tangan David.
"Jangan menyentuhku." sinis suara Scarlet. David panas hatinya, serta merta dia mendaratkan bibirnya dengan kasar membuat Scarlet kehabisan oksigen.
"Boss, sadar...nanti infusnya jatuh." Iwan memegang tiang infus. David melepaskan Scarlet dan membuka ponselnya ketika ada panggilan telepon. David mengatur nafas dan keluar dari ruangan untuk menerima telepon.
__ADS_1
Setetes air mata jatuh dipipi Scarlet, dia mengerti posisinya di samping pria itu, hanya sebagai pemuas nafsu belaka.
David kembali masuk menghampiri Scarlet, dia memeluk gadis itu dan mencium keningnya.
"Maafkan aku sayank, kamu jangan menangis. Aku akan pergi untuk dua hari, jaga diri baik-baik." kata David menghapus air mata Scarlet.
"Pergilah, aku tidak menginginkan kamu kembali." sahut Scarlet serak. Dia tidak memperdulikan omongan Scarlet.
"Iwan jaga istriku, aku tidak mau mendengar sesuatu yang membuat aku memecatmu." kata David memandang sahabatnya sekaligus bawahannya.
"Beres bos, aku akan melindunginya."
"Aku merasa kamu sangat perhatian kepada istriku." kata David tidak suka.
"Berangkatlah bos, aku berdoa untuk keselamatanmu."
"Sayank, aku pergi dulu, jauhkan imajinasimu untuk pergi dari sisiku. Ke ujung dunia pun aku akan menemukanmu, jangan coba-coba kabur." pesan David menatap Scarlet dalam.
David kembali memeluk Scarlet, kali ini dia mengecup bibir Scarlet dengan lembut. Dia tidak peduli Iwan menyenggol kakinya.
"Bos...dokter datang." David cepat melepaskan Scarlet. Tapi Iwan hanya bercanda, dia cekikikan melihat David terkejut.
"Brengsek, dasar sirik." kata David berdiri. Kakinya berat meninggalkan Scarlet. Dia keluar dan mengintip dari balik pintu. Hatinya nyeri melihat Scarlet yang menangis, David mengusap wajahnya kasar. Perasaan apakah ini? hatinya sangat tidak nyaman.
"Nona sudah boleh pulang, apakah nona mau memakai kursi roda?"
"Aku tidak apa-apa bang, trimakasih telah menungguku, walaupun semua yang kamu lakukan atas perintah bos aku memaklumi." kata Scarlet.
"Hidup harus berjalan terus nona, untuk isi perut, apapun saya lakukan."
Iwan membuka pintu mobil untuk Scarlet, kemudian dia naik dan memacu mobilnya pelan.
"Antar aku pulang bang."
"Maaf nona, bos menyuruh saya mengajak nona ke rumah miliknya."
"Aku tidak mau, aku merasa tersiksa disana. Kasihani aku bang, dia telah menghancurkan masa depanku. Mengertilah bang." keluh Scarlet sedih.
"Saya tidak berdaya nona, semua tanggung jawab untuk menjaga nona di pundak saya, jika anda pergi habislah riwayat saya."
Scarlet terdiam, otaknya berputar supaya bisa keluar dari rumah David.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bang, tolong turunkan aku di Starbuck aku ingin rehat sebentar untuk menenangkan pikiranku, abang boleh tunggu aku disini."
"Saya harus ikut nona."
"Abang tidak percaya padaku?"
"Saya lebih takut kehilangan gaji, ini semua demi keamanan. Saya hanya suruhan, jangan mempersulit nona. Rumah Tuan David sudah dekat lebih baik kita langsung pulang, nona bisa rehat di rumah."
Scarlet memaksa untuk turun ketika mobil melewati Starbuck.
"Bang, turun atau aku yang memecatmu."
Mobil seketika menepi, Iwan melihat Scarlet dari kaca spion. Kemudian mobil mundur....
Scarlet cepat membuka pintu mobil dan meloncat turun. Dia berlari ke pinggir jalan meninggalkan David yang sedang memarkir mobil.
Iwan terkejut dan cepat keluar dari mobil mengejar Scarlet.
"Nona berhenti!!"
Scarlet terus berlari, nafasnya sudah ngos-ngosan ketika Iwan dengan mudah menangkapnya. Scarlet berontak dan memukul dada Iwan dengan kedua tangannya yang lemah.
Iwan menggendong Scarlet menuju mobil, dia tidak peduli walaupun Scarlet memukul punggungnya. Uhh. Hampir saja Scarlet kabur, jika itu terjadi David bisa memecatnya.
Iwan tersenyum tipis mengingat kelakuan dirinya mengejar Scarlet. Seperti dalam film saja layaknya, dia berlari dengan kencang, untung saja gadis itu bisa di tangkap. Banyak pengguna jalan menonton aksinya, mungkin mereka mengira pasangan yang sedang berantem.
Sampai di rumah David, Scarlet turun dan menutup pintu mobil dengan keras. Dia langsung menuju kamar dan merebahkan badannya.
Kedasih datang sambil membawa nampan penuh berisi makanan dan minuman.
"Silahkan nona makan supaya kuat berlari." kata Kedasih membuatnya membuka mata. Dia melihat kedasih penuh tanda tanya.
"Apa maksudmu Kedasih?"
"Saya seorang perempuan sangat mengerti perasaan nyonya, kadang saya kesal melihat Tuan David kasar kepada nyonya. Saya sering sekali ingin menolong nyonya tapi saya ragu melakukan itu." kata Kedasih seolah peduli. Dia sangat membenci siapapun dekat dengan David. Ini Saatnya dia punya kesempatan untuk menyingkirkannya.
Scarlet duduk bersandar di kepala ranjang, dia menatap Kedasih lekat- lekat, berusaha mengerti perasaan Kedasih.
"Apa kamu bisa meloloskanku dari neraka ini?" tanya Scarlet pelan. Kedasih mengangguk.
"Makanlah yang banyak, nanti saya akan menolong nona, tidak usah banyak membawa baju, seadanya saja. Rencanakan tujuan nona. Satu yang saya minta, nona membungkam mulut nyonya. Saya masih ingin bekerja."
__ADS_1
*****