SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
SEBULAN TELAH BERLALU


__ADS_3

"Wan..aku minta tolong kamu cari tahu kegiatan Scarlet minggu terakhir dan awasi dia, aku mau shooting film sebulan kedepan.


"Ok bos." samber Iwan cepat.


"Awasi dia jangan sampai jalan sama laki-laki lain."


"Mendingan cepat di halalin daripada repot jagain orang yang belum tentu milik pribadi."


"Beress...."


Itu percakapan David terakhir dengan Iwan, sebulan yang lalu, hari ini David duduk di Bar ditemani Iwan, rasa rindu kepada Scarlet membuat dia melamun. Iwan mengambil map biru dan menyodorkan kepada David.


David menerimanya dan langsung membukanya. Dia membaca dengan teliti kegiatan Scarlet, tidak ada yang special, semua kegiatan Scarlet monoton. Bekerja dan kembali ke tempat kost, kecuali kemarin, wanita itu mengunjungi dokter kandungan.


“Dia mengunjungi dokter kandungan kemarin?” tanya David tidak yakin. 


"Begitulah yang terlihat, seperti yang tertulis di situ.”


“Dia terlihat masuk ke tempat praktek dokter kandungan.”


"Maksudmu dia hamil?” tanya David tidak percaya.


"Mana aku tahu, dokter itu tidak mau membagikan informasinya." jawab Iwan menyerahkan tugasnya ke temannya. Masih siang, Bar tidak begitu ramai, hanya ada beberapa bule memesan table.


“Seharusnya kamu mengambil hasil pemeriksaan dari tangan Scarlet, aku tidak ingin ada yang terlewati."


“Jadi kamu mengizinkan aku masuk ke dalam kamar Scarlet? sekarang aku berangkat."


"Hanya kalau kamu sudah siap mati” balas Iwan sinis.


“Matilah riwayatmu kalau dia hamil, apa yang kamu lakukan kalau itu terjadi? kariermu sedang naik daun." tanya Iwan serius. David termenung sesaat dan mengedikkan bahunya acuh.


"Jangan konyol, sampai saat ini dia tidak ada memberitahuku masalah yang sebenarnya."


"Jalan satu-satunya menikahinya dan memutuskan pacar yang masih menempel denganmu. Mungkin kamu bisa membawanya ke hadapan orang tuamu.”


“Sudahlah, lagi pula itu belum tentu benar. Kita banyak curiga." David lagi membaca kegiatan Scarlet, dia ingin tahu kegiatan Scarlet jika berada di Kampus. Tapi tidak ada yang bisa membuat David cemburu. Scarlet tidak seperti gadis lain yang doyan keluyuran.

__ADS_1


Kemudian dia beralih pada foto-foto Scarlet. Gadis itu sangat alami dan cantik. Dipoles sedikit saja pasti bisa mengalahkan semua bekas cewek yang pernah dekat dengannya.


Mata David kemudian berhenti pada satu foto, disana Scarlet terlihat sedang menyetir mobil box sambil tersenyum kesamping. Ternyata dia bisa menyetir. bathinnya. Melihat foto-foto Scarlet membuat David sangat merindukannya.


Dia lalu mengecup salah satu foto itu. Ada rasa asing yang menyusup ke hatinya. Tapi dengan cepat dia mengenyahkannya. David kemudian menutup map tersebut lalu berdiri, dia menghabiskan Wine yang tersisa sedikit.


“Aku pergi dulu." pamitnya sambil membawa map, Iwan mengangguk dan melambaikan tangan.


"Hati-hati, bos."


David memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, dia ingin menemui Scarlet sekarang.


4.Scarlet memasang muka perang ketika Udin menyapakanya. Pria itu sudah berani terang-terangan menyimpan fotonya di galeri nya. Untung istrinya tidak memusuhinya, tapi tetap saja Scarlet tidak enak hati  akibat ulah si Udin.


"Pagi cantik, sudah mau kerja ya. Tidak ada kiss bye untuk abang."


"Bang, jaga mulut dech, aku tidak mau musuhan sama istri abang. Nanti orang mengira aku doyan sama suami orang."


"Sok jual mahal sama abang, padahal sudah sering di "Orio" oleh babang ganteng." celetuk si Udin membuat Scarlet menghentikan langkahnya. Matanya membulat memandang pria kerempeng di depannya.


"Pertanyaan yang tidak perlu jawaban. Kalau mau tahu tanyakan pada kamar 123 hotel Surgawi."


Bagaikan disambar petir mendengar perkataan si Udin. Kaki Scarlet lemas, kenapa kunyuk ini bisa tahu rahasia dia dengan David. Brengsek!!. Rahasia ini yang dia mau kubur sedalam-dalamnya.


"Kenapa aku harus repot bertanya sama kamar 123, bukankah mulut lamismu setajam silet?"


"Hahaha...tidak usah sewot, rahasia aman pada abang, asal neng mau mojok sama abang."


"Aku akan adukan kelakuan abang kepada istri abang, kalau abang sudah keterlaluan padaku. Ingat ya bang, aku tidak takut padamu...." kata Scarlet pergi dari hadapan si Udin yang tersenyum penuh arti.


Scarlet naik gojek yang dari tadi sudah menunggunya. Sepanjang jalan menuju Toko Bunga Scarlet menahan rasa amarahnya kepada David. Siapa lagi yang menyebarkan issue selain David. Hanya dia yang tahu rahasia kelam yang terpaksa Scarlet lakukan.


Kekesalan hatinya terbawa sampai  Toko Bunga. Pagi ini ada saja yang membuat Scarlet tambah kesal. Di mulai dari pesanan buket bunga dari customer yang tertukar, komplain yang datang dari Bu Padmi, yang  salah mengambil karangan bunga.


Hatinya tambah panas melihat David tiba-tiba nongol dan langsung duduk di sofa tamu. Kedatangan David suasana tambah ramai, pelanggan wanita berdatangan ingin melihat David. Mulai dari yang iseng hanya melihat-lihat, lalu hanya sekedar membeli setangkai mawar, bahkan sampai menjatuhkan pot dan meninggalkannya tanpa tanggung jawab. Duhh...Scarlet sampai gregetan, atas kelakuan mereka yang terang-terangan mencari perhatian David. Seperti tidak ada cowok saja. pikir Scarlet bingung.


Yuki dan Ika bahkan sudah mengusir sebagian perempuan-perempuan kurang kerjaan itu. kini Scarlet tidak hanya kesal, emosinya kini sudah sampai ubun-ubun. Dia berdiri dan menghampiri David. Dia membelah kerumunan kecil yang dibentuk oleh wanita-wanita kurang kerjaan itu lalu menarik David keluar dari toko menuju taman belakang.

__ADS_1


"Aduhh..indahnya." Seru David  memandang takjub kebun bunga yang luasnya kira-kira lima ratus meter persegi. Pada bagian kanan ditanami bunga dalam pot dan di susun bertingkat.


"Apa yang kamu lakukan disini? mau tebar pesona. Atau kamu punya hobby membagi tanda tanganmu kepada gadis-gadis."


"Kamu cemburu, katakan saja saat ini kamu iri melihat aku dikerubuti gadis-gadis cantik."


"Jangan geer dech, tidak ada yang bakalan cemburu padamu. Apalagi kita tidak selevel, kamu terlalu jelek untukku." Beruntung David sudah biasa menahan perasaannya kalau lagi ketemu dengan fans.


"Aku datang karena ingin berbicara denganmu."Jawabnya masih dengan air muka yang datar. Scarlet memandang David skeptis.


“Dari sejak kamu datang tidak ada hal yang menujukkan kalau kamu ingin berbicara. Kedatanganmu bahkan menimbulkan kekacauan di sini.”


“Tadi saat aku datang kamu masih sibuk, jadi aku putuskan untuk menunggumu." Katanya beralasan.


"Omong kosong."


David menahan diri agar tidak ikut terpancing emosi.


"Aku meluangkan waktuku datang kesini padahal aku sibuk. Supaya tidak membuang waktu lebih lama lagi. Makanya kamu ikut aku, kita bicara di Starbucks yang tidak jauh dari sini."


“Tidak, aku sibuk." sahut Starlet. Tapi dia kemudian ingat si Udin yang menyindirnya.


"Aku bisa meminta izin kepada atasanmu jika itu yang membuat kamu takut meninggalkan Toko bunga."


"Ya aku ikut, tapi jangan lama-lama, bicara to the point saja."


David menarik tangan Scarlet dan menuju mobil. Sebenarnya dia rindu kepada Scarlet yang terus mematung dan tidak ada gelagat mesra sedikitpun.


"Kamu tidak kangen padaku?" tanya David setelah mereka berada berdua di mobil.


"Mana mungkin aku rindu dengan penjahat sepertimu."


"Aku merindukanmu, selalu. Apa tidak bisa kamu merubah image jelek kepadaku."


"Pokoknya tidak, titik!!" sahut Scarlet terernyum. David menoleh dan ikut tersenyum. Rasanya dia ingin menggigit bibir ranum itu segera.


*****

__ADS_1


__ADS_2