SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
DILEMA


__ADS_3

Seminggu berada di rumah David membuat Scarlet merasa goyah, dia ternyata tidak tangguh seperti keinginan mbak Indah. Pikirannya bercabang, antara pergi dan tetap menjadi istri David. Apalagi David sudah bercerita bawa Cyndi sudah pergi dari kehidupan David.


Di hari yang ke tujuh, Scarlet mencari David di ruang kerjanya. Matahari sudah condong ke barat, dengan pelan Scarlet mengetuk pintu ruang kerja David. Biasanya David tidak mau diganggu kalau lagi sibuk bekerja. Berhubung Scarlet akan di jemput esok harinya, maka Scarlet harus menjelaskan kepergiannya.


"Tokk..tokk..tokk..."


"Yank, ada apa? mari masuk?" kata david dengan wajah penuh tanda tanya. Firasatnya sudah tidak enak melihat Scarlet.


Scarlet masuk dan langsung duduk di sofa, dulu dia pernah masuk kesini sekali, saat itu David melarangnya karena banyak dokumen penting. Tapi sekarang David membiarkan Scarlet masuk, padahal map dan kertas-kertas berserakan di meja.


"David, mungkin inilah jalan terbaik untuk kita berdua, aku ingin berpisah denganmu, terima kasih atas waktu yang kamu luangkan untukku. Aku berharap semoga kamu tidak keberatan. Kalau dibilang setia aku lebih setia darimu, selama bersama


denganmu tidak pernah sedikitpun terfikir olehku untuk mencari pria lain pengganti posisimu. Aku juga tidak mau berselingkuh darimu, karena aku menghargai perasaanmu." kata Scarlet berjeda, dia ingin tanggapan dari David.


Terdengar David menarik nafas dalam. Matanya berkabut menatap Scarlet. Hampir setiap hari David menghindar dari Scarlet, serta mengurung diri di ruang kerja, dia sangat sedih. Akhirnya perpisahan itu akan terjadi juga.


"Sayank, aku minta maaf, aku salah. Terus terang aku belum siap kalau kamu meninggalkanku, sudah berapa kali aku mencoba mempertahankan dirimu, tapi kamu tetap mau pergi. Aku akan berusaha memperbaiki diri meskipun aku tahu bagimu itu hanya omong kosong belaka." sahut David dengan suara lirih, sejujurnya dia sangat menyayangi Scarlet, apa lagi sekarang ini Scarlet ketahuan keturunan Xander, tentu statusnya sangat bernilai di mata Xander.


"Maaf David, keinginanmu untuk kembali bersamaku, aku tolak. Aku tidak mencintaimu lagi, setelah perpisahan ini, aku yakin kamu akan dapatkan pengganti, yg lebih dariku dan mudah-mudahan pengganti itu bisa lebih bersabar dan mencintaimu dengan tulus." kata Scarlet berusaha tegar. Dia tidak ingin bersatu lagi dengan David, sudah kapok.


"Aku tidak akan pernah lagi mencari perempuan untuk menggantimu. Aku mohon jangan kau pergi, aku berjanji akan menemani setiap langkahmu kemanapun kamu pergi. Maafkan aku sayank. Ingat anak kita."


"Aku tetap akan pergi, niatku sudah bulat. Saat ini hatiku sudah beku, untuk kembali padamu itu mustahil." kata Scarlet dengan nada tinggi.


Scarlet memegang dadanya, dia harus tegar, dan menuruti perintah mbak Indah dan mama Winda.

__ADS_1


David berdiri kaku, dia mendekati Scarlet dan menyilangkan tangannya di dada.


"Aku akan memaksamu tetap tinggal disini, jika kau nekad mau pergi, aku akan mengurungmu." ancam David memegang tangan Scarlet.


"Jangan gila David, aku bisa laporkan kamu ke Polisi." geram Scarlet kesal sambil menepis tangan David.


"Tidak ada yang bisa memisahkan kita, aku mencintaimu." kata David cepat keluar. Cyndi meneleponnya. Scarlet kalah cepat, pintu sudah di kunci dari luar.


"Davidd......" teriak Scarlet berulang- ulang, tapi tidak ada yang datang membukakan pintu. Scarlet bingung dan mencari kunci serep. Laci meja dia buka. Scarlet merinding ketika membuka laci pertama, yang ada sebuah pistol, cepet dis menutup laci lalu dia buka laci kedua, isinya satu bendel kwitansi yang di ikat karet gelang. Scarlet mengambil dia kaget karena namanya tertulis disitu.


Air mata Scarlet bergulir, ternyata kwitansi itu tanda bukti, bahwa David telah membayar hutang Scarlet ke semua orang, ke Kampus, bahkan ke Ibu Damayanti seratus juta. Berarti David pria yang membayar hutang Scarlet secara diam-diam. Mengaku suaminya. Astaga...Scarlet terlalu naif.


Tega kah dia meninggalkan David setelah tahu pengorbanan laki-laki itu begitu banyak. David juga rela menghapus hutang Andrian dan Bagus, padahal kerugiannya sangat besar. Ya, Tuhan...Scarlet melemah, ini seperti buah si malakama. Mbak Indah menyuruh dia pergi, dan David?


Lebih baik dia pura-pura tidak tahu pengorbanan David, dan tetap mau pergi ke luar negeri. Dia juga gengsi kalau tiba-tiba tidak jadi pergi, nanti David mengira dia gampangan.


***


Menjadi ikhlas ternyata sangat sulit, mungkin hanya bisa bersabar. Tapi untuk ikhlas ditinggal oleh Scarlet, dia harus lebih banyak belajar sabar dan menguasai perasaan, itu sangat berat. Sungguh tidak adil, itu tidak di dapatkannya dari seorang istri yang lebih mendengarkan suara kakaknya daripada dirinya yang jelas - jelas sangat mencintainya.


Malam ini David tidak bisa tidur dia menuju mini bar yang berada dekat kolam renang, lalu mengeluarkan sebotol Red Wine dari kulkas serta menuangkan sedikit ke gelas tangkai "Tega kamu mau pergi meninggalkan aku, sayank." gumam David sambil menggoyangkan gelas bertangkai itu dan menghirup aroma wine.


Scarlet keluar dari kamar, menuju ruang tamu, tapi David tidak ada. Dia mencari David keliling. Ada rasa khawatir menyelimuti hatinya.


Kemana David, apa dia keluar rumah. pikir Scarlet cemas. Dia ingat mini bar di belakang, Scarlet pergi ke belakang. Benar saja dugaannya David ada disana lagi minum.

__ADS_1


"Rupanya kamu disini, apa kamu mabuk?" tanya Scarlet memandang wajah David yang memerah.


"Aku sedikit mabuk sayank....apa kamu takut kehilanganku?" tanya David sambil melirik jam dinding. Scarlet menggeleng.


"Kenapa disini? biasa di ruang tamu. Aku cari kamu keliling untuk pamit. Besok aku mau pergi." kata Scarlet.


"Kita ke kamar yuk, ada yang mau aku omongin." sahut David berdiri.


"Bicara disini saja, atau di ruang tamu. Kita sudah cerai tidak baik berada di kamar berduaan."


"Aku ingin memberi hadiah padamu, siapa tahu kita tidak bisa bertemu lagi." David berpikir menghabiskan malam bersama Scarlet, dia harus mencari akal supaya bisa menahan Scarlet.


Scarlet mendengus lelah, dia tampak memandang lesu kepada David. Apa dia harus menurut? tapi tidak apa, saat ini David mabuk. pikirnya.


"Apa kamu tidak menipuku, David? aku takut kamu punya rencana jahat yang bisa menggagalkan rencanaku untuk pergi besok pagi."


Scarlet sebenarnya tak tega melihat wajah sedih David, tapi apa boleh buat, dia harus pergi ke luar negeri. Ticket sudah di beli, dengan langkah gontai dia meluluskan permintaan David. Anggap saja David jujur dan tidak menipunya, mungkin juga David memang benar mau memberinya hadiah.


David masuk ke kamar dengan hati hancur. Dia melihat dua buah koper berjejer siap di angkat. David terpaku sesaat, jiwanya seolah melayang bagaikan butiran pasir di sapu angin. Dia butuh keberanian dan waktu untuk menata kepingan hatinya yang hancur. Baru dia sadari, ternyata sangat menyakitkan kehilangan orang yang sangat di cintai.


"Yank..kamu sudah pikirkan ini semua? aku tidak menyangka kamu serius mau ninggalin aku."


"Aku tidak pernah bercanda, apalagi ada orang yang melindungi dan memberi support kepadaku terus menerus. Kita akan tetap berteman."


"Aku ingin memelukmu terakhir kalinya, semoga kamu bahagia." kata David terhuyung, Scarlet dengan sigap memegang tubuh David.

__ADS_1


****


__ADS_2