
David semakin mendekatkan wajahnya. Hidung bangir mereka berdua beradu. Nafas mereka semakin menderu hangat dan melenakan. Perlahan David mulai mengecup bibir ranum Scarlet. Awalnya pelan, namun semakin lama semakin dalam.
Scarlet menyadari apa yang dia lakukan dengan David adalah salah dan dia tidak mau mengulangi lagi. Namun dia juga tidak bisa menahan perasaan hatinya yang sangat merindukan David.
"David, tolonglah, jangan kamu hancurkan hidupku. Lepaskan aku dari hidupmu." suara Scarlet lemah. Dia berusaha lepas dari pelukan David.
"Aku tidak akan mencelakaimu, walaupun aku sangat kesal padamu. Kamu menghilang seenaknya, tahu-tahu sudah bersama lelaki lain."
"Aku menjadi pelayan di sana, untuk menutupi biaya Panti, Andrian banyak membantu Panti." desis Scarlet.
"Berhenti bekerja dari sana aku akan menutupi seluruh biaya hidupmu. Kita akan melanjutkan hubungan kita yang tertunda." Scarlet tersenyum hambar, dulu sewaktu David habis menidurinya untuk pertama kalinya, David tidak memberi dia uang seratus juta, malah orang lain yang membayarnya. Jadi bagaimana dia bisa percaya kepada omongan David. Scarlet yakin David hanya ingin melampiaskan hasratnya, setelah dia bosan, Scarlet akan dibuang.
"David kapan kamu bosan denganku."
"Sampai maut memisahkan kita, aku mencintaimu, mana mungkin aku bosan."
"Kamu tidak mencintaiku, kamu cuma nafsu..."
"Sayang...." Scarlet menoleh menatap kekasihnya.
"Kamu belum pernah tidur dengan dia kan??"
Scarlet tidak langsung menjawab dia menatap David di depannya dan melihat raut wajah cemburu dari wajah David.
"Kenapa kamu tanya seperti itu??"
"Kamu serumah dengannya, sering berduaan dan sering ke kamarnya. Aku takut saja kamu macem macem sama dia."
"Dia Tuanku dan aku pelayannya, apa kamu lupa. Dia berkuasa atas diriku."
"Jadi maksud kamu, kamu sudah di ***-***?" David menatap Scarlet sambil memicingkan matanya.
"Hiss...pertanyaanmu aneh, kamu seperti hidup jauh di pedalaman saja, kita hidup di era modern, hubungan tanpa *** itu hambar. Jadi aku tidak masalah, kita itu sudah sama-sama dewasa, kamu jtahu arah bicaraku. Come on baby hidup itu harus kita nikmati, Andrian pria ganteng, aku tidak melewatinya." sahut Scarlet menatap pria tampan yang perlahan melepas pelukannya padanya.
Scarlet lega, dia beringsut dan mau pergi, ternyata gampang melepaskan David, dengan bohong sedikit David langsung menjauh.
"Aku mau ke Kantorku, trimakasih atas semua bantuanmu." Scarlet berbalik menuju pintu, dia takut lama-lama disini.
__ADS_1
Langkahnya tiba-tiba terhenti, dia merasakan benda dingin menyentuh pelipisnya. dia seketika membeku, dadanya terasa sesak, mengapa seperti ini hidupnya.
"Da..David..aku takut, turunkan senjatamu, tadi aku bohong." David tidak menurunkan senjatanya, dia malah menarik tangan Scarlet dan membawanya ke atas meja.
"Tanda tangani." titah David.
"Apa ini, aku harus baca dulu."
"Cepatt!!" bentak David. Dengan tangan gemetar Scarlet menanda tangani berkas itu.
Setelah itu David menarik Scarlet ke pelukannya, David segera melahap bibir indah Scarlet, menikmati daging lembut itu luar dan dalam. Scarlet pasrah dia sudah merasa ketakukan ditodong senjata.
"David..."
"Hemm!" David bergumam singkat dia menggendong tubuh Scarlet dan membaringkannya di sofa panjang. Scarlet langsung menggulingkan tubuhnya dan berencana lari.
Kesal dengan kelakuan Scarlet, David langsung mencengkram tubuh Scarlet, David tetaplah David, yang selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Termasuk wanita seksi yang berdiri di pelukannya.
Regan mulai menarik lagi kepala wanita itu, mendekatkan bibir untuk beradu dengan bibir yang sejak tadi menggodanya. David merasakan Scarlet mulai melakukan perlawanan dan menolak ciumannya.
“Jangan membuatku menodongkan pistol dan menembakmu ditempat." ucapan David membuat Scarlet kembali menciut.
Tangan David langsung memeluk pinggang ramping Scarlet dan mendekatkan tubuh indah itu pada dirinya. Mata Scarlet terbelalak saat merasakan sesuatu yang keras menempel pada tubuhnya.
Scarlet mengalungkan tangannya pada leher Scarlet dan meneruskan ciumannya yang sejak tadi ia tahan, ciuman itu disambut baik oleh Scarlet dia ingin secepatnya selesai dan dia berpikir untuk langkah selanjutnya.
David kembali membaringkan Scarlet di sofa dan mata David memindai dengan teliti dan memandang kagum pada tubuh yang terpampang di depannya.
Pipi Scarlet memanas karena tatapan intens dari pria itu, reflek dia menutupinya dengan buru-buru.
Scarlet menggeleng jengah.
“Aku harus pergi."
“Kau tidak bisa pergi sebelum urusan kita selesai.”
“Selesaikan disini, aku tidak akan pergi kemana-mana denganmu.”
__ADS_1
David kesal karena wanita ini membantahnya namun ia tidak rela kehilangan kenikmatan, saat ini dia menyerang Scarlet dengan liar dan berkali-kali. Hingga mereka kelelahan.
"Aku akan menyusup ke kamarmu setiap malam, jika ketahuan itu lebih bagus, aku bisa membawamu pulang kita menikah."
"Jangan aneh-aneh, aku takut sama Andrian. Kamu harusnya fokus kepada pernikahanmu yang sebentar lagi. Kita tidak mungkin bersatu tentu keluargamu tidak mengijinkan masalah ini berlanjut."
"Pulanglah sayang Ibu Nilam barusan di telpon oleh Andrian. Ingat aku datang menyusup ke kamarmu."
"Jangan!! aku yang datang kesini."
"Akhirnya istriku menyerah." David melepaskan Scarlet setelah dia mengecup kening gadis itu. Dia harus mencari jalan yang paling aman untuk mendapatkan kembali kekasihnya.
Kalau David nekad mengambil Scarlet dari Andrian, mamanya pasti ikut campur dan Scarlet bisa saja celaka.
Untunglah Scarlet datang tepat waktu, tapi tetap saja wajah Andrian masam. Dia berpikir kalau-kalau Scarlet di kasi modal, tapi harus bisa di tiduri. Andrian ingin tahu siapa bos itu yang begitu baik meminjamkan dana padanya.
"Kemana saja kamu, aku tidak senang kamu lama di luar, urusan sudah selesai, apalagi yang harus di pelajari." kata Andrian sarkas.
"Maaf bos, saya adalah karyawan pemula, perlu belajar banyak. Ibu Nilam akan terus mengajari saya, rasanya saya lebih cocok dengan Ibu Nilam. Dia baik dan sangat ngemong."
Andrian mengesampingkan pembicaraannya dengan Scarlet, karena Ibu Nilam menelponnya.
"Sore pak Andrian, kalau boleh tahu apakah nona Scarlet sudah sampai di ruma?"
"Sore Bu Nilam, Scarlet sekarang berada di kantor saya. Kami akan pulang. Bagaimana anak buah saya, apa merepotkan?"
"Dia masih pemula perlu hati-hati dan harus punya tehnik khusus mengajarinya supaya dia mengerti, terkadang dia kaku. Perlu belajar yang banyak. Jika pak Andrian tidak keberatan saya sarankan supaya anak buah anda mau bejajar disini, pas jam istirahat."
"Tidak apa-apaalah saya senang. Saya mau nanya, apakah saya bisa bertemu dengan bos besar?"
"Bisa saja pak, tapi bos saya sudah keluar negeri, jarang ada di tempat pak, kalaupun dia datang jarang di kantor. Kecuali sangat urgens."
"Kirim salam kepada bos besar, semoga sehat selalu."
"Baik pak, semoga bapak sehat." Hubungan telepon diputus, Andrian lega karena Scarlet tidak ada main mata dengan bos besar.
*****
__ADS_1