
"Aahhhh...." semua undangan berdiri, mereka berseru dengan kagum. Kue ulang tahun itu sangat indah.
"Kue nya memang cukup indah tapi kita belum tahu rasanya. Terlebih dahulu kita lanjutan acara ini."
Indah mengajak Scarlet menemui mama Winda.
"Tante bagaimana khabarnya?" sapa Scarlet tersenyum manis.
"Baik, kamu bagaimana, nak? dimana sekarang tinggal?"
"Aku baik Tante dan aku sekarang tinggal disini." jawab Scarlet. Diam- diam nyonya Winda mengamati gerak gerik Scarlet.
"Maat Scarlet, nama aslimu siapa?" mendengar pertanyaan itu Scarlet terdiam, dia malah balik menatap nyonya Winda penuh curiga. Indah yang melihat itu memegang tangan Scarlet.
"Kalian berada disini?" suara berat Andrian mengalihkan perhatian Scarlet. Dia memilih tidak menjawab pertanyaan nyonya Winda.
"Hai, Andrian aku kira tidak datang." Indah menyapa Andria. Scarlet cuma tersenyum sinis menatap Andrian. Tapi pria itu tetap duduk di samping Scarlet.
"Halo suamiku...kesini sayank." suara nyaring Lala menusuk kuping Scarlet dia menoleh ke panggung dan melihat David di suapi oleh Lala.
"Trimakasih Lala, kue buatan istriku sangat enak, aku tumben makan kue seenak ini. Trimakasih Scarlet, love you."
"Wow...so sweet...." seru mereka. Wajah Lala dan nyonya Yuli seketika pucat.
David mengambil kue dan segelas minuman, dia menuju Scarlet duduk.
"Permisi...." wajah David seketika berubah melihat Andrian duduk di samping Scarlet. Wajahnya merah membara menahan marah. Scarlet cepat sadar diri dan berdiri. David menaruh kue dan minumnya di atas meja dan mengajak Scarlet pergi lewat samping.
David setengah menyeret Scarlet dan membawa ke kamarnya. Dia lalu mendorong Scarlet ke tempat tidur dan menarik paksa pakaian Scarlet sampai robek. David tidak berhenti disitu saja, dia menyeret Scarlet ke kamar mandi dan mengguyur Scarlet dengan air shower.
"David, apa salahku kenapa kamu kasar padaku." lirih suara Scarlet. Dirinya sangat takut melihat David yang menatap dengan sengit seolah Scarlet telah melakukan dosa besar dan tidak tahu diri.
__ADS_1
"Itu pertanyaan bodoh, bagi orang lain dia akan tertipu, tapi aku tidak mudah kau tipu. apa ini semacam sandiwara lain untuk menipuku?"
Scarlet terlonjak, mengapa David makin aneh seolah dirinya yang bersalah. Dia diam tidak langsung menjawab dan mencoba memancing isi hati David.
"Menipumu? untuk apa aku menipu. Jangan menuduhku yang tidak-tidak aku tidak pernah melakukan hal seperti yang kamu tuduhkan."
"Kau selingkuh di belakangku kan?! dan janjian dengan Andrian. Kau pikir aku tidak tahu."
Scarlet mencerna semua hal yang terjadi padanya, mengapa ada saja cobaan. Padahal dia baru senang dapat baju bermerk dari mbak Indah. Scarlet memandang David dari sela- sela guyuran air shower. Mata David memandang tajam seolah Scarlet mangsa yang siap diterkam.
Saat itulah Scarlet baru menyadari kalau David tidak pernah percaya padanya. Secarlet meneruskan mandinya tanpa peduli dengan David yang terus mengoceh. Setelah selesai mandi Scarlet menuju walk in closet dan mengambil piyama. Dia menuju kamar melewati David yang berdiri kaku menatapnya.
"Aku tak tahu apa yang merasuki pikiranmu. Kau cemburu membabi buta. Sejak awal aku sudah katakan bahwa Andrian adalah bos ku dan aku pelayannya. Kamu menganggap diriku terlalu murah. Jadi sangat tidak masuk akal dengan memberiku tuduhan bodoh itu." kata Scarlet lalu duduk di pinggir tempat tidur.
"Lalu bagaimana kau menjelaskan kalau Andrian duduk mesra di sampingmu, dan kau tidak berusaha pergi darinya. Bukankah ini sudah sesuai rencanamu?"
Rencanaku? Scarlet mengernyitkan dahi. David terlalu possesif, Scarlet jadi serba salah. Orang seperti David tidak begitu saja percaya kepadanya.
Scarlet sengaja membawa topik itu kembali. Namun diluar dugaan respon dari David justru lebih membuat Scarlet semakin terpojok.
"Siapa yang memberi kamu pakaian, Andrian, atau buaya yang lain?"
"Mbak Indah. Tadinya baju itu mau di kasi Lala, tapi gak jadi, karena dia melihat bajuku jelek, walaupun kata orang suamiku kaya, makanya baju itu pindah padaku." David diam.
Semenjak David pindah ke rumahnya, Scarlet merasa tambah tertekan, dan kesempatan berdua dengan David semakin jarang terjadi. David sangat sibuk di Kantor, karena orang tuanya sudah menyerahkan perusahannya kepada David.
Sedangkan Scarlet sangat sibuk di rumah. Mama Yuli sengaja memecat kokinya dan tugas dapur sepenuhnya diserahkan kepada Scarlet. Untung Scarlet sudah terbiasa bekerja rumahan, jadi dia tidak kaget, apalagi soal memasak.
Sikap David juga berubah menjadi cepat pemarah dan lebih cemburuan.
“Scarlet sedang apa di dalam kenapa lama sekali, aku sudah datang.” teriak David.
__ADS_1
Scarlet bangun menuju pintu tanpa terlebih dulu menjawab, kemudian membukakan pintu dan menemukan David sedang menatap penuh selidik. Wajah gantengnya terlihat kusam, penuh tanda tanya menunggu jawaban yang bisa memuaskan hatinya.
"Ada apa, aku masih capek." sahut Scarlet tanpa basa basi.
“Tidak bisakah kamu menjadi orang yang sopan, sehari saja membuat pikiran tenang, aku sibuk di kantor, tidak ngurusi kamu saja." ucapnya geram. Wajahnya tampak kesal sekali, padahal Scarlet tidak berbuat yang bisa merugikan seisi rumah.
“Apalagi kesalahanku kali ini, aku muak kalau kamu selalu datang marah-marah, tanpa tahu masalah yang sebenarnya." kata Scarlet datar.
"Kata mama kamu terlalu boros belanja online, menghamburkan uang seenaknya."
Scarlet menatap David dengan ekspresi malas karena sejujurnya dia sudah tidak tahan dengan sikap David yang selalu percaya dengan pengaduan mamanya.
"Aku cuma membeli oven dan peralatan membuat Cake, aku sudah ijin darimu dan orang tuamu." kata Scarlet jengkel.
Dia masuk ke ruangan pastry dengan kesal, dan memeriksa setiap paket yang belum di buka. Semua barang ini Scarlet beli dari hasil menjual kue. Semenjak kue ulang tahun Lala, pesanan kue tidak pernah behenti. Walaupun sudah ada alat-alat, itu semua kepunyaan mertuanya, dan Lala melarangnya untuk di pakai. Jadi dia lebih baik beli sendiri, lebih aman.
"Yang menjadi masalah di sini adalah pikiran burukmu tentangku, aku capek David. Sebulan disini sudah cukup membuatku hampir gila." teriak Scarlet kesal.
Raut wajah David berubah menjadi segelap malam. Matanya menatap tajam. Kemudian dia mendorong Scarlet, sampai jatuh terpeleset.
“Selama ini aku rupanya terlalu baik dan sabar ke padamu, sampai kamu menjadi semakin seberani ini padaku Memangnya siapa kau berani sekali berteriak di depan wajahku!” bentak David sangat marah, rahangnya mengeras, tangannya dengan kasar mencengkram lengan Scarlet. Air mata Scarlet sudah meloncat keluar. Menahan sesak di dada.
“Kau terlalu angkuh, tidak tahu diri untuk seorang wanita murahan." sakit sekali lengannya. Hatinya seperti dihancurkan berkeping-keping.
"Apa kesalahanku sehingga kalian setiap hari menyerang mentalku dan fisik ku." tanya Scarlet di sela-sela tangisnya.
“Kesalahan terbesarmu adalah karena kamu hidup di dunia ini, dan berselingkuh sampai hamil, dan kau selalu saja membuatku marah.” Setelah mengucapkan itu David lalu melepaskan cengkramannya. Lengan Scarlet membiru.
“Lebih baik kau membunuhku, aku akan lebih senang mati daripada kau siksa aku setiap hari, tanpa tahu ke salahanku." isak Scarlet sambil bersandar di tembok. Scarlet yakin mertuanya dan Lala pasti bergembira melihat David menyiksanya.
*****
__ADS_1