
Tangan David menggapai ke sisi tubuhnya, dia meraba. Tapi tidak ada tubuh yang tertidur di sebelahnya. Tangannya tidak menyentuh tubuh gadisnya. David segera membuka matanya, dia heran tidak melihat Scarlet di sampingnya.
Dia bangun dan turun dari ranjang, matanya mencari ke seluruh sudut kamar sambil memanggil-manggil.
"Sayank...sayank....sayank...tidak ada jawaban. Perasaannya David mulai tidak enak. Dia menuju kamar mandi, dapur, tapi tidak ada Scarlet. Dadanya berdebar, dia melihat ponsel Scarlet masih berada di atas nakas.
David cepat turun, dia melihat pintu utama terbuka lebar. Ada bercak darah, rambut dan sesuatu yang membuat David curiga. David segera membuka ponselnya, dan langsung menghubungi Iwan.
"Iwan cepat datang ke Apartemen, Scarlet hilang. Sebar anak buahmu."
"Oke bos aku otw." samber Iwan.
Kecurigaan David tertuju kepada Lala dan Andrian, kedua manusia itu bisa menculik Scarlet. Tapi untuk saat ini dia gengsi menanyakan Andrian secara langsung. Begitupun kepada Lala, mereka bisa mentertawakan dirinya yang sangat bodoh sampai bisa kehilangan Scarlet.
Tidak mungkin Scarlet lari seperti dulu, dia yakin itu. Dia berpikir keras, siapa yang cocok disuruh ke rumah Andrian dan ke rumah orang tuanya untuk menyelidiki keberadaan Scarlet. Harus ada seseorang yang mau membantunya. Siapa ya?? setelah berpikir lama pilihannya jatuh kepada Indah. Sepupunya.
"Indah aku butuh pertolonganmu, datanglah ke Apartemenku."
"Ada apa David?"
"Aku tidak bisa cerita melalui telpon, datanglah cepat."
"Ya, tunggu....."
Iwan dan Indah datang hampir berbarengan. Sebelum masuk lewat pintu utama David menyuruh Iwan dan Indah menganalisa kira-kira ada kejadian apa disana pagi tadi.
"Mana aku tahu, paling ada kucing berantam." kata Iwan melihat lantai.
"Aku merasa disini ada orang di jambak rambutnya dan di pukul." kata Indah.
"Istriku hilang, aku mencurigai Andrian atau Lala yang menculiknya."
"Astaga David, kenapa kamu tidak tahu? atau bisa saja Lala yang melakukan ini semua."
"Bos, aku merasa Scarlet lari lagi, dia rada alergi sama bos. Dia bilang hidup sama bos sangat menderita, karena keluarga bos menghinanya, dia juga tidak ingin berpoligami dan ingin hidup di Panti saja."
__ADS_1
"Tidak, aku yakin ada orang jahat menculiknya. Kami saling mencintai, memang dia sering ngoceh yang tidak-tidak, aku tidak pernah mau menanggapi karena aku sangat mencintainya. Aku tidak bisa hidup tanpanya." kata David dengan wajah kuyu.
"Indah aku mohon padamu, tolong ke rumah Andrian, siapa tahu Andrian pelakunya. Aku serahkan padamu cara menyelidikinya, off the records."
"Aku juga akan menyelidiki di rumah mamamu, karena mamamu dan Lala sangat benci kepada Scarlet."
"Aku tidak akan melupakan bantuanmu." kata David sungguh- sungguh.
"Aku akan ke Panti dan Toko bunga." sahut Iwan dengan cepat.
Ponsel David berdering, dia berharap ada panggilan dari seseorang yang tahu tentang gadisnya, ternyata mamanya.
"David, kamu tidak ingat kalau hari ini ulang tahun mama?" suara mamanya di seberang sana.
"HBD maa, semoga panjang umur dan sehat." sahut David pendek lalu memutuskan hubungan telponnya.
Dia malas berhubungan dengan mamanya. Tidak tahunya mamanya chatt lewat WA.
"Maafkan mama sayank, mama sekarang mengerti perasaanmu. Datanglah ke rumah bersama istrimu. Kita disini berkumpul, kita harus tunjukan pada orang bahwa kita tetap rukun" tulis mamanya.
"Trimakasih mama" jawab David ragu. Dia tidak begitu percaya kepada mamanya, apalagi sekarang ada Lala disana.
****
Scarlet bingung saat menyadari dirinya berada di suatu tempat yang dia tidak tahu dimana. Kamar ini tampak remang-remang dan sedikit pengap. Perasaannya sungguh tidak enak, dia melihat sekeliling ruangan dengan perasaan tidak menentu.
Tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar, seorang laki-laki telah berdiri di depannya.
"Bersiaplah kamu nona." suaranya dingin, wajahnya bengis menatap Scarlet dengan tajam.
"Dimana aku berada?, siapa yang membawaku kesini?" tanya Scarlet cepat.
"Kamu berada di suatu tempat, kami telah membelimu dengan harga tinggi, dan tugasmu sudah di mulai malam ini."
"Maksudmu apa?"
__ADS_1
"Jangan berpura-pura, perempuan sepertimu sudah aku kenal."
"Aku memang tidak tahu, kalian telah menculik seorang istri. Aku akan melapor ke polisi atas perbuatanmu."
"Hahaha...bersiaplah, jangan omong kosong, kamu tidak mungkin bisa terlepas dari sini."
"Aku lagi sakit butuh obat dan dokter, lepaskan aku. Teganya kalian menahan seorang istri, dimana otak kalian ..hiks..hiks.." kata Scarlet mulai menangis. Dia sangat takut, bayangan buruk tentang tempat bordil menghantuinya.
Laki-laki sangar itu pergi ketika Scarlet ngotot mau keluar dan dia berteriak-teriak histeris. Tidak ada gunanya dia mengamuk, tidak seorangpun akan peduli padanya. Dia menghapus air matanya dengan kasar.
Scarlet ingat David, dia sangat rindu dan berharap David mencarinya. Saat ini tidak ada yang bisa dia perbuat. Kebenciannya kepada mama Yuli dan Lala menumpuk. Air matanya tidak hentinya-hentinya bergulir jatuh membasahi pipinya.
Dengan susah payah dia bangun, dan turun dari bed. Semua tubuhnya terasa sakit, dan wajahnya bengkak. Tangisnya terhenti ketika seorang perempuan paruh baya masuk tanpa mengetuk pintu. Make up nya tebal dengan lipstik merah menyala. Sesekali dia mengisap rokoknya dan menghembuskan dengan kasar.
"Namamu siapa?" tanya prempuan itu dengan suara beratnya. Scarlet merinding mendengar suara wanita itu. Rupanya dia mengerti atas keterkejutan Scarlet.
"Suaraku memang nge bas, bukan berarti aku dulu cowok berubah menjadi cewek. Ini suatu anugrah." katanya garing. Wanita itu sangat maskulin, dengan rambut cepak ala Tentara.
"Aku ingin keluar dari sini, aku punya suami yang menungguku."
"Hahaha...semua wanita baru masuk pasti minta keluar, tapi setelah lama disini mereka semua enjoy. Apalagi wajah sepertimu gampang mencari crazy rich, para bos akan berebut membawamu pergi."
"Demi Tuhan, aku tidak ingin itu. Aku ingin pulang." scarlet memohon dengan sedih. Dia sungguh merasa takut.
"Aku berkuasa atas tubuhmu disini, kamu akan menjadi primadona panggung. Penampilan perdanamu akan membuat para bos ingin menculikmu. Untuk itu kamu mulai sekarang harus bersikap baik, tidak ada orang yang masuk kesini bisa keluar, kecuali dia ingin mati." katanya membuat Scarlet semakin ketakutan.
"Aku sudah tidak sabar memungut pundi-pundi yang di lempar para Sultan." sambungnya lagi.
"Badanku masih sakit dan wajahku bengkak, digebukin penculikku. Aku ingin ke dokter untuk berobat, izinkan aku pergi."
"Jangan khawatir, kamu akan mendapatkan dokter yang baik serta obat yang bagus, aku akan menjamin kamu sehat dulu baru bekerja."
Scarlet diam, kepalanya pening, perempuan itu mendekati Scarlet, duduk disampingnya. Matanya tajam menatap Scarlet. Bau rokok tercium dari mulutnya ketika dia berbicara.
"Namamu Scarlet, sebuah nama yang indah, secantik orangnya. Kenalkan namaku Manda, kita akan berteman. Aku akan menjagamu, bila perlu menemanimu tidur, supaya tidak ada tangan-tangan jahil menggodamu." katanya. Tangan Manda menyentuh rambut Scarlet membelainya lembut.
__ADS_1
"Aku ingin melihat luka-luka di wajah dan badanmu. Atau kamu sekalian mandi." dia lalu berdiri membantu Scarlet turun dari bed.
****