SELIR SANG AKTOR

SELIR SANG AKTOR
SEORANG PELANGGAN


__ADS_3

Sabtu pagi, kepala Scarlet sedikit pusing, mata masih sembab karena banyak menangis. Semua derita ini pangkalnya dari David. Lelaki itu seolah memenjarakannya dengan banyak ancaman. David membuat hatinya kacau, selera hidupnya hilang, musnah!.


"Nyonya, Pak Bagus ada diluar. Dia mengatakan ingin bertemu dengan nyonya." suara Sri membuat lamunan Scarlet menguap.


"Oh..ya, mungkin dia mau mengambil pesanannya." guman Scarlet.


"Tapi, Pak Bagus mengatakan ada hal penting yang akan di bicarakan dengan nyonya." Sri membuat Scarlet sedikit tersentak, dia jadi ingin tahu, apa yang di ingini Pak Bagus darinya.


Dengan langkah lesu Scarlet menuju Toko. Dia melihat Pak Bagus berdiri di luar. Scarlet mempersilahkan Pak Bagus untuk masuk ke dalam.


"Selamat pagi Pak, silahkan duduk. Apa Pak Bagus tidak kerja hari ini?" sapa Scarlet lalu mengajak pria itu duduk di sofa tamu.


"Aku off sehari, memang aku sengaja mampir kesini supaya bisa bertemu denganmu, sekalian mengingatkan tentang pesananku."


Oh..pertanda apa ini? Pak Bagus sudah mulai memakai, kata Aku dan Kamu, padahal mereka baru bertemu tiga kali, itupun masih dalam koridor sopan santun yang tinggi. Kali ini bahasa tubuh Pak Bagus terlihat rilexs dan akrab.


Pak Bagus duduk santai di sofa tamu sambil sesekali menjawab telepon dari anak buahnya? atau? sejujurnya Scarlet tidak begitu mengetahui masalah pribadi Pak Bagus. Buat apa juga, dia hanya pelanggan kue. Pak Bagus bekerja atau tidak, dia tidak peduli, yang penting Pak Bagus bayar kuenya dan tidak hutang. bathin Scarlet.


Sri datang dengan nampan berisi teh manis serta roti daging. Beberapa kudapan manis di letakan di dalam kotak khusus, hadiah untuk Pak Bagus sebagai pelanggan baru.


"Kita sarapan dulu Pak Bagus." kata Scarlet memberi isyarat pada Sri untuk meninggalkan mereka berdua. Sebab, dari yang Scarlet pelajari sosok Sri seperti mata-mata yang selalu ingin tahu, suka rnenguping pembicaraan Scarlet dengan tamu.


"Jadi hari ini kita akan pergi bersama ke rumah, kita akan bertemu dengan mama, beliau sudah menunggu." kata Pak Bagus langsung ke pokok, tanpa basa basi.


Scarlet mengangguk, laki-laki itu bicara to the point. Dan jujur, Scarlet senang, tanpa harus berbelit-belit.

__ADS_1


"Apa tidak terlalu pagi?" Scarlet memandang Pak Bagus, kemudian menyesap teh nya perlahan.


"Tidak perlu khawatir, aku sengaja datang lebih awal, supaya tidak terlalu panas. Lagi pula aku takut kamu lupa membuat kue." Pak Bagus tersenyum bercanda.


Dan dalam situasi ini Scarlet merasa canggung dan bingung. Pembicaraan seolah menjurus ke masalah pribadi. Scarlet jadi banyak diam, dia hampir tidak bisa memikirkan topik yang sesuai sebagai pengisi waktu.


"Apa kau tegang karena aku?" tanya Pak Bagus membuat Scarlet salah tingkah. Apa raut wajahnya semudah itu bisa ditebak. Dia biasanya cuek dan memasang wajah stoic, supaya orang-orang berpikir terlebih dahulu untuk bercakap dengannya.


"Aku merasa Bapak menggiringku, aku jarang turun tangan membawa kue ke tempat pelanggan. Tapi kali ini aku menurut karena ingin ketemu mama Pak Bagus. Jangan salah mengartikan sikapku." kata Scarlet jujur.


Pak Bagus tersenyum merasa menang. Pria itu sedang menatap Scarlet dengan penuh arti.


"Mari kita berangkat." ajak Scarlet. Sri membawa pesanan Pak Bagus berupa kue ulang tahun yang sudah di kemas apik. Scarlet menuju mobil nya tapi Pak Bagus melarang Scarlet naik mobil sendiri.


"Kamu ikut denganku Scar, nanti aku antar pulang kembali. Kalau kamu membawa mobil sendiri, tambah repot karena harus membawa orang untuk pegangi kue nya." benar juga, pikir Scarlet.


"Jumarlin, aku mau ke rumah Pak Bagus, sekalian menengok mamanya yang lagi ulang tahun. Kalau ada yang bertanya, katakan aku lagi mengirim pesanan." kata Scarlet menghampiri Jumarlin.


"Ya nyonya, hati-hati di jalan."


Pak Bagus membukakan pintu mobil untuk Scarlet, kejadian itu tidak lepas dari tatapan mata Cyndi yang berada di balkon rumah David. Cyndi hatinya senang melihat Scarlet berada satu mobil dengan pria lain, berarti David bisa seutuhnya untuk dia.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Scarlet memegang kue dengan erat. Dia lebih banyak diam, matanya melihat lurus ke depan.


"Maaf Scar, aku tidak sopan padamu, tapi semua telepon masuk harus aku tanggapi..." kata Pak Bagus menoleh ke samping.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Pak, saya juga sering begitu. Santai sajalah." sahut Scarlet. Dia juga sering menerima telepon di mobil tapi pakai bluetooth mobil, tidak angkat telepon begitu.


"Sebentar lagi kita sampai, mereka pasti telah menunggu kita." kata Pak Bagus tersenyum senang.


"Oh..ya Pak."


Mobil masuk ke sebuah perumahan mewah, one gate, dijaga seorang Scurity. Baru masuk, mata sudah di manjakan oleh taman yang tertata asri, setelah itu bundaran air mancur. Dan beberapa rumah mewah bergaya


mediterania berjejer dan berjarak, ada juga kolam renang, mini market. Lengkap dengan tempat nge gym.


"Rumahku mentok paling ujung sana, lebih nyaman rasanya, dan lebih luas di banding yang lain, dapat taman belakang dan depan." jelas Pak Bagus, lebih kepada dirinya sendiri. Scarlet hanya tersenyum. Pikirannya melayang ke bayinya, jarang dia meninggalkan anak lama-lama.


Setelah memarkir mobil, beberapa pelayan sudah menyambut mereka dan mengambil alih bawaan Scarlet. Kue ulang tahun tidak begitu besar, malah termasuk sederhana, Pak Bagus mengajak Scarlet masuk ke dalam ruang tamu. Disana sudah ada lima belas orang pelayan, seorang Ibu tua yang duduk di atas kursi roda, Ibu itu tersenyum melihat Pak Bagus dan Scarlet. Kedatangan mereka di sambut suka cita oleh Ibu itu.


"Ini mamaku...." bisik Pak Bagus. Scarlet lalu mendekati Ibu itu dengan sopan, lalu memperkenalkan dirinya.


"Saya Scarlet bu, selamat ulang tahun." kata Scarlet membungkuk dan memegang tangan Ibu itu yang dia yakini itu, mamanya Pak Bagus.


"Ibu menantimu cukup lama, kenapa baru datang? Ibu senang kalau kamu mau menerima Bagus kembali. Tidak ada keinginan yang utama, selain melihat kalian menikah. Ibu sekarang sudah puas melihat kalian bersama kembali, bila Tuhan ingin mencabut nyawa ibu, sekarang pun Ibu rela." mendengar ucapan mamanya Pak Bagus, Scarlet mendadak mati gaya di depan semua orang, dia menoleh kepada Pak Bagus yang sedari tadi berdiri, tapi Pak Bagus hanya tersenyum dan mengangguk.


"Ibu..saya..."


"Scarlet, ayo siapkan ultah mama." potong Pak Bagus sebelum Scarlet menyampaikan siapa sebenarnya dirinya. Scarlet berdiri canggung, dia tidak habis pikir mengapa mamanya Pak Bagus berkata begitu.


"Mari kita semua berdiri." kata Pak Bagus, mereka lalu berdiri dan mulai menyanyi dan memberi selamat kepada mamanya Pak Bagus.

__ADS_1


Empat orang pengawal tiba-tiba muncul di hadapan mereka, tapi Pak Bagus memberi kode, akhirnya Pak empat orang pengawal itu pergi. Scarlet tidak melihat ada tetangga yang datang. Setelah itu seorang pelayan membagikan kue serta minuman. Tidak ada makanan lain, Scarlet heran Pak Bagus ini siapa sih? semua sangat sederhana.


****


__ADS_2