
David mendekati Scarlet, memeriksa lebam yang dia ciptakan di lengan Scarlet. Kemudian dia mengambil oparin Gel, mengolesnya di lengan kanannya. Tanpa sadar Scarlet mengaduh membuat David berhenti sejenak. Memang rasanya sakit, tapi hatinya lebih sakit di perlakukan semena-mena oleh David.
“Untuk apa kamu repot mengobatiku, kalau nantinya kamu akan membuat luka baru ditubuhku?” kata Scarlet tandas.
“Hemm... maaf, aku tidak akan menyakiti kamu lagi. Kulit mulusmu jadi membiru.” ucapnya ringan memegang lengan Scarlet.
“Apa kamu takut orang-orang akan melihat bahwa kamu menyiksaku, atau kamu takut aku akan melapor ke kantor polisi." sepertinya keadaan memang membuat Scarlet menjadi berani menghadapi David.
"Mulutmu pedes." katanya berdiri di hadapan Scarlet. Jarak wajah mereka sangat dekat. Kemudian dia mengecup bibir Scarlet. Sikapnya benar-benar membuat Scarlet serba salah, dia bingung menghadapi David yang cemburuan.
"Kamu belum makan, aku akan turun mengambil makan untukmu."
"Tidak usah, aku sudah kenyang mendapat teror dari mama dan Lala, dari seisi rumah, tentu saja dari kamu juga.
"Aku sayank kamu, jangan pergi dariku. Kamu juga jangan salah sangka kepada mama, dia itu sudah semakin tua, apapun yang dia omongkan pasti ada benarnya." kata David kembali mengecup bibir Scarlet.
"Sekarang ayo kita tidur, besok aku mau keluar kota, kamu baik-baik di rumah. Mengalah saja dulu." David naik ketempat tidur, membaringkan tubuhnya di samping Scarlet, tangan kekarnya memeluk Scarlet dengan erat. Ternyata keinginan tidur cepat, tidak membuahkan hasil. Perlahan tangan David mulai usil.
"Katanya mau tidur, aku juga harus bangun pagi, besok banyak pesanan." kata Scarlet menepis tangan David.
"Sekali saja, supaya bisa tidur." sahut David membangkang.
****
Matahari telah sepenuhnya berada di ufuk timur, sinarnya yang terang menjadi energi tersendiri bagi jutaan manusia di luar sana. Sama halnya seperti saat ini, Scarlet yang terlihat sangat berenergi dalam menjalani kehidupannya sudah rapi. Nanti sekitar jam sepuluh, langganannya akan mengambil kue, seorang model yang baru naik daun.
"Sayank.. aku akan berangkat, jaga diri baik-baik. Mungkin papa hari ini datang dari luar negeri. Kalau dia tidak terima kamu ada disini, diam saja." kata David dengan suara yang terdengar parau.
"Ya, aku mengert." sahut Scarlet mengangguk, David bergegas pergi karena sopir sudah menunggunya dari tadi. Scarlet melepaskan David dengan kecupan mesra.
__ADS_1
Lala yang tidak jauh berada dari sana sempat menguping dan tersenyum licik. Setelah David pergi Lala mulai mendekati Scarlet.
"Berapa umur kandunganmu?" tanya Lala menohok. Scarlet mulai curiga, tapi dia tetap saja menjawab karena ada nyonya Yuli ikut mendekatinya.
"Tiga bulan." sahutnya pendek.
"Kalau umur kandunganmu tiga bulan, berarti kamu masih di Barista. Tidak mungkin hasil dari David." tajam kata-kata nyonya Yuli. Dia tumben ada di rumah, biasanya pagi pergi malam pulang, sama dengan Lala. Ntah apa pekerjaan mereka berdua, Scarlet tidak pernah kepo urusan ke dua wanita beda umur itu.
"Zaman sudah canggih, nanti ada USG yang menjawab ini anak siapa, yang penting ini anakku." jawab Scarlet. Pagi-pagi dia sudah dibikin kesel oleh kedua perempuan itu.
"Maa...dia bekas simpanan Andrian, bisa saja dia menyimpan benih Andrian. Seandainya itu terjadi bersiap-siaplah kamu angkat kaki dari sini." kata Lala angkuh.
Scarlet yang mendengar ocehan kedua wanita itu menjadi panas juga. Dia bersabar, karena lagi menyiapkan beberapa pesanan dari pelanggan.
Hari ini ada pesanan kue ulang tahun dari Cyndi, seorang model yang baru naik daun. Wanita ini sudah dua kali pernah datang dalam minggu ini untuk memesan kue yang berbeda.
Pukul. 10.00 tepat, terlihat seorang perempuan muda turun dari sebuah mobil Jazz merah. Dia celingukan sebentar kemudian langsung masuk ke dalam ruangan pastry. Wajahnya memancarkan binar kebahagiaan. Scarlet maklum, wanita ini akan merayakan ulang tahunnya bersama kekasihnya.
"Nyonya Scarlet, apa pesananku sudah selesai?" tanya nona Cyndi tersenyum, dia datang seorang diri.
Scarlet memandang nona Cyndi dengan kagum. Wanita ini memakai gaun berwarna merah darah dengan belahan yang panjang, sampai pangkal paha. Punggungnya putih mulus serta rambutnya di gulung ke atas. Dan polesan make up nya flawles serta aksesoris yang tidak berlebihan.
"Oh..nona Cyndi, selamat datang. Kue nona sudah siap, tapi kalau sendiri membawanya takutnya rusak. Bagaimana kalau saya ikut nona bawain, nanti pulangnya saya bisa naik gojek."
"Kalau begitu ikut aku, sebentar lagi pacarku akan datang dari luar negeri. Sebelum dia datang supaya kita duluan di rumah."
"Oke..nona." Scarlet mengeluarkan kue nona Cyndi yang tidak begitu besar dan bisa di bawa dengan cara di pangku. Setelah mengunci pintu pastry Scarlet pergi dengan nona Cyndi.
Scarlet menarik nafas, rasanya lega, sudah lama dia tidak pernah keluar rumah, setiap hari mengurung diri dengan setumpuk pekerjaan. Kangen masa-masa di Panti Asuhan.
__ADS_1
"Apa kamu senang menikah?" Scarlet tersenyum mendengar pertanyaan nona Cyndi yang menggelitik.
"Menikah adalah awal dari penyatuan jiwa yang sebenarnya. Waktu pacaran sifat asli bisa di sembunyiin, tapi kalau sudah menikah, semua akan terbuka." jawab Scarlet tertawa.
"Benar nyonya, kalau sudah menikah setiap hari akan ada piring terbang hahaha..."
"Apartemenku sudah dekat, nanti bantuin bawa ke dalam rumah ya?!"
"Baik mona."
Mobil masuk ke Apartemen, tiba-tiba sebuah Taxi mendadak berhenti di sebelah mobil Jazz, nona Cyndi ngerem mendadak. Scarlet ke jedot jok mobil, untung kue tidak jatuh.
"Maaf nyonya, kuenya bagaimana?" dia malah khawatir dengan kuenya, bukan nanyain Scarlet yang meringis kesakitan.
"Kuenya selamat nyonya." jawab Scarlet datar. Dia mengusap dahinya yang mungkin saat ini memerah.
Seorang laki-laki turun dari Taxi, Scarlet yang masih duduk di dalam mobil bengong. Itukan papanya David, berarti?? astaga, Scarlet tidak habis pikir.
"Nyonya turunlah, pacar saya sudah datang." kata nona Cyndi tersenyum senang, kelihatan sangat bahagia. Dia turun dari mobil menghambur kepelukan pria itu.
Scarlet turun perlahan, matanya awas menatap dua insan yang baru bertemu itu. Dia tidak peduli di katakan tidak sopan atau apa, yang penting matanya dan otaknya sudah merekam perselingkuhan beda usia. Dia terus berjalan mengikuti nona Cyndi dan pacarnya masuk ke Apartemen.
Senyum pria tua itu menggantung ketika matanya bertemu pandang dengan Scarlet, dia melengos pura- pura tidak kenal dengan Scarlet. Air mukanya berubah pucat. Scarlet tahu apa yang harus dia lakukan.
"Trimakasih nyonya, lain kali saya mau pesan lagi." kata nona Cyndi, ketika Scarlet menaruh kue di atas meja.
"Jangan sampai nona Cyndi putus hubungan dengan saya, apapun yang terjadi." sindir Scarlet, lalu pergi.
****
__ADS_1